Bangun Pondasi Kuat Pendidikan: Rekrut Guru Brilian dengan Gaji Layak, Kunci Masa Depan Bangsa

Oleh : Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)

Pendidikan adalah pondasi utama sebuah bangsa. Bayangkan sebuah rumah megah yang dibangun di atas tanah gembur, sekuat apa pun dindingnya, rumah itu akan roboh saat badai menerjang. Begitulah kondisi pendidikan kita saat ini.

 Permasalahan utama bukan pada kurikulum yang rumit yang silih berganti atau fasilitas yang mewah, melainkan pada pondasi yang rapuh di tingkat dasar: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Di sinilah generasi muda pertama kali membentuk pemahaman mereka tentang dunia, terutama dalam mata pelajaran eksak seperti matematika, fisika, kimia, biologi, dan IPA secara keseluruhan. Tanpa kekokohan pondasi ini, mustahil kita  dapat membangun talenta unggul untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 dan seterusnya.

Lihatlah data yang mencengangkan dari Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, di mana Indonesia masih tertinggal jauh di peringkat bawah untuk literasi matematika dan sains. Siswa kita kesulitan memecahkan masalah sederhana, apalagi yang kompleks seperti kalkulus dasar atau hukum Newton. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana: kemampuan guru di tingkat dasar belum memadai. Banyak guru SD, SMP, dan SMA yang mengajar mata pelajaran tersebut tidak benar-benar menguasai materi secara mendalam. 

Mereka mungkin lulusan sarjana pendidikan yang standar, tapi kurang mendalami konsep-konsep inti sains dan matematika. Akibatnya, siswa hanya hafal rumus tanpa paham esensinya, dan siklus kebodohan ini berlanjut dari generasi ke generasi. 

Bayangkan seorang guru matematika di SD yang hanya bisa mengajarkan penjumlahan dasar tanpa menjelaskan mengapa 2+2=4 atau apa arti pecahan seperdua secara logis, atau guru SMP yang ragu dalam menjelaskan mengapa usaha sama dengan nol jika benda tidak berpindah saat diberi gaya, atau guru fisika SMA yang kurang percaya diri saat menjelaskan gaya gravitasi, gaya listrik dan gaya magnet. Ini bukan salah individu, tapi sistem rekrutmen yang perlu diperbaiki. 

Saat ini, profesi guru sering dijadikan pilihan terakhir bagi anak-anak cerdas. Mereka yang berprestasi tinggi, ranking 1, 2, atau 3 dari tingkat dasar sampai universitas lebih memilih karir di bidang teknologi, keuangan, atau kedokteran, di mana gaji dan penghargaan jauh lebih menjanjikan. Guru? Hanya bayaran ala kadarnya, sekitar Rp 3-8 juta per bulan untuk guru PNS, yang tak sebanding dengan beban kerja dan tanggung jawab membentuk masa depan bangsa.
Padahal, guru adalah arsitek pondasi pendidikan. Mereka yang mengajar di SD, SMP, dan SMA harus jadi yang terbaik, terutama untuk mata pelajaran eksak yang menuntut pemikiran dan pemahaman mendalam. 

Matematika bukan sekadar angka; ia adalah bahasa logika yang membuka pintu rekayasa dan ekonomi. Fisika mengajarkan prinsip alam semesta, kimia membongkar rahasia materi, biologi memahami kehidupan, dan IPA menyatukan semuanya menjadi pemikiran saintifik. Tanpa guru yang menguasai ini, siswa kita akan terus tidak paham dan tertinggal dari negara lain seperti Singapura, Jepang, Finlandia, China, bahkan Vietnam, yang kini mendominasi peringkat PISA berkat guru mereka yang berkualitas tinggi.

Solusi utamanya? Rekrut calon guru dari kalangan brilian, yaitu lulusan berbasis ranking 1, 2, dan 3 dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Ini bukan diskriminasi, tapi meritokrasi murni. Bayangkan jika anak-anak pintar kita, mereka yang juara kelas dan juara olimpiade matematika dan Sains internasional atau peneliti muda hebat yang sedari kecil sudah menyandang juara kelas dipilih jadi guru SD. Mereka bisa menanamkan rasa ingin tahu sejak dini, membuat matematika jadi petualangan bukan momok. Di SMP, guru fisika ranking top bisa demonstrasikan eksperimen sederhana yang membakar semangat siswa. Di SMA, ahli kimia dan biologi brilian bisa siapkan siswa lolos ujian masuk PTN terbaik atau beasiswa luar negeri dan dorong siswa untuk selalu eksperimen dalam menghasilkan inovasi baru.

Pertanyaanya: bagaimana menarik mereka ke dunia guru? Kuncinya ada pada gaji atau fasilitas yang mendukung. Gaji guru harus dinaikkan secara drastis, minimal tiga kali lipat dari sekarang, menjadi Rp15-25 juta per bulan untuk guru bersertifikasi di tingkat dasar. Ini bukan belanja sia-sia, tapi investasi jangka panjang. Hitung saja: dengan 3 juta guru di Indonesia, kenaikan gaji 50% butuh anggaran tambahan sekitar Rp200 triliun per tahun. Bandingkan dengan subsidi BBM yang sering membengkak, atau proyek infrastruktur yang mangkrak. Uang itu akan kembali berlipat melalui tenaga kerja berkualitas yang ciptakan inovasi di segala bidang, tingkatkan PDB, dan kurangi pengangguran.

Lihat contoh sukses dari Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia. Mereka rekrut hanya 10% calon guru terbaik dari universitas, dengan gaji fantastis pegang otonomi penuh di kelas. Hasilnya? Siswa Finlandia unggul karena pondasi SDnya sudah mulai kuat. Di Singapura, guru sains dilatih intensif dan digaji tinggi, membuat negara kecil itu jadi raksasa teknologi. Indonesia bisa tiru model ini: buat program "Guru Brilian Nusantara" yang diseleksi ketat berdasarkan ranking dan portofolio kemampuan calon,  rangking 1-3 sejak SD-SMA, IPK 3,8-4,0, tes kompetensi sains skor 80-100 %, dan wawancara passion mengajar “Sangat siap.” Calon guru ini ikuti pelatihan satu tahun gratis, lalu ditempatkan di  tingkat pendidikan dasar negeri dengan kontrak uji coba 10 tahun (bisa diperpanjang berdasarkan kemampuan), ditambah insentif  baju dinas, rumah dinas, mobil dinas,  tunjangan kursus/pelatihan, tunjangan studi banding, tunjangan keluarga yang mencukupi dan beasiswa lanjut studi yang otomatis (tanpa seleksi).

Tentu, tantangan di awal ada. Anggaran negara mungkin dibilang terbatas, dan serikat guru mungkin protes soal kenaikan yang bersifat selektif. Tapi ini bisa diatasi dengan reformasi bertahap: mulai dari pilot project di 100-200 sekolah tingkat dasar di Jawa, Sulawesi dan Sumatra, evaluasi hasil setelah dua tahun melalui tes standar yang ditentukan (nasional dan internasional). Jika skor siswa naik 20-30 poin di PISA, program diperluas. Sertifikasi ulang bagi guru existing juga penting, yang tak lolos bisa dialihkan ke administrasi, sementara yang unggul dapat bonus. Teknologi bisa bantu: platform online untuk pelatihan materi sains dan matematika, agar guru kuasai IPA (Sains) dan matematika dasar.

Lebih dari itu, budaya penghargaan harus dibangun. Guru brilian ini bukan pegawai biasa; mereka pahlawan bangsa. Beri gelar "Guru Bintang" (Bintang 1-5) dengan penghargaan tahunan yang disiarkan lewat TV nasional, sebagaimana halnya atlet Olimpiade. Libatkan orang tua siswa melalui forum diskusi, agar mereka paham pentingnya pondasi dasar sehingga guru-orang tua kompak selaras. Pemerintah pusat dan daerah selalu bangusn sinergitas: Kemdikbud rekrut, pemda sediakan fasilitas lab sains up date di setiap SD, SMP dan SMA.

Bayangkan 10 tahun ke depan: lulusan SD kita hafal konsep dasar  IPA melalui permainan, siswa SMP desain roket sederhana di kelas fisika, dan SMA ciptakan startup bioteknologi. Ekonomi melonjak, inovasi lahir, kemiskinan hengkang. Semua dimulai dari guru brilian di tingkat dasar. Jangan biarkan pondasi ini rapuh lagi; saatnya revolusi guru brilian! 

Penutup: Permasalahan pendidikan bukan rahasia lagi, tapi solusinya sudah di depan mata kita: Guru. Rekrut guru dari kalangan ranking top, naikkan gaji dan tunjangan, kuasai sains dan matematika, itu  paling efektif  untuk bangsa menjadi lebih cerdas dan lebih kuat. 

Pemerintah, DPR, dan masyarakat harus kompak dan gerak sekarang. Masa depan anak-anak kita tak boleh ditawar lagi. Pondasi kuat hari ini, kemakmuran besok menanti. Generasi cerdas generasi unggul. Indonesia pun semakin jaya! (#) 

Posting Komentar untuk "Bangun Pondasi Kuat Pendidikan: Rekrut Guru Brilian dengan Gaji Layak, Kunci Masa Depan Bangsa"