Kehidupan: Rancangan Ilahi atau Kreasi Manusia? Atau Campuran Keduanya?

       Oleh : Sudarto (Dosen PGSD FIP                    Universitas Negeri Makassar)

Dalam dekapan pagi yang tenang, ketika sinar mentari mulai menyusup lewat celah-celah jendela, seringkali muncul pertanyaan mendalam dalam hati manusia: Apakah kehidupan ini benar-benar sudah dirancang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, ataukah manusia sendiri yang turut mengambil peran besar dalam membentuk jalan hidupnya? Kenapa ada yang miskin, ada yang kaya? Kenapa ada yang sehat, ada yang sakit? Kenapa terjadi banjir? Kenapa ada koruptor? Kenapa ada bencana? Kenapa ada manusia jahat ada manusia baik? Pertanyaan ini bukan hanya milik para filsuf atau ahli agama, melainkan telah lama menghantui setiap insan yang merenungkan hakikat keberadaan mereka.

Kehidupan: Sebuah Rancangan Ilahi?

Seluruh keagamaan dunia menyatakan bahwa kehidupan adalah ciptaan Tuhan yang sempurna. Dalam pandangan ini, segala sesuatu—dari detak jantung manusia hingga gerak planet-planet—telah dirancang dengan detail dan dengan tujuan tertentu. Adanya harmoni di alam semesta, siklus musim yang teratur, serta kemampuan manusia untuk berpikir, berbuat baik, dan berimajinasi, sering dijadikan bukti betapa kehidupan ini bukanlah kebetulan semata.

Dalam ajaran agama Islam, misalnya, disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan tujuan mulia: untuk menjadi khalifah di bumi, menjaga dan mengelola ciptaan-Nya. Tuhan memberikan manusia kebebasan memilih, akal untuk berpikir, dan hati untuk merasakan. Namun, semua itu merupakan bagian dari rancangan Tuhan yang besar dan sempurna. Bahkan ketidakpastian dan ujian hidup pun dianggap sebagai bagian dari takdir yang sudah ditentukan oleh Maha Kuasa untuk mendewasakan manusia dan menguji keimanannya.

Konsep takdir atau qadha dan qadar ini memang mengandung makna bahwa kehidupan memiliki garis besar yang sudah digariskan Tuhan. Namun kenyataannya, manusia diberi kebebasan dalam memilih dan bertindak. Justru dari perpaduan antara rancangan Tuhan dan kebebasan manusia inilah kehidupan menjadi dinamis dan bermakna.

Campur Tangan Manusia Dalam Kehidupan

Di sisi lain, skeptisisme modern mengajak kita untuk melihat kehidupan sebagai suatu hasil yang juga dibentuk oleh kreativitas dan usaha manusia sendiri. Dalam era ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang, manusia tidak lagi hanya pasif menerima nasib, melainkan aktif berpartisipasi dalam mengubah lingkungan, sistem sosial, hingga dirinya sendiri.

Kita bisa melihat bagaimana inovasi teknologi mengubah cara hidup manusia: dari revolusi industri yang mengubah pola produksi hingga era digital yang memungkinkan komunikasi tanpa batas. Manusia juga aktif membangun peradaban—kota, budaya, sistem pendidikan, dan tata negara. Bahkan dalam ranah personal, manusia mengatur pilihannya tentang karier, keluarga, pendidikan, dan gaya hidup.

Pandangan eksistensialis memberikan penekanan bahwa manusia pada dasarnya bebas menentukan makna hidupnya sendiri. Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis, mengatakan secara sarkasme“manusia dihukum untuk bebas” karena harus menghadapi pilihan tanpa petunjuk siapapun. Ini artinya campur tangan manusia bukan sesuatu yang insidental, melainkan esensial dalam perjalanan hidup. Dengan kebebasan ini, manusia bertanggung jawab atas keputusan dan konsekuensinya.

Antara Takdir dan Usaha Manusia: Harmoni yang Rumit

Bila dikaji lebih dalam, kehidupan sebetulnya adalah arena pertemuan antara takdir Tuhan dan kebebasan manusia. Menurut banyak pemikiran teolog dan filsuf, keduanya tidak saling bertolak belakang, melainkan saling melengkapi.

Bayangkan sebuah pelukis yang menggambar sebuah lukisan, lalu memberikan kuas kepada orang lain untuk menambahkan warna dan detail. Rancangan awal sudah ada, tetapi hasil akhir juga dipengaruhi kreativitas tangan kedua. Demikian pula kehidupan, ada kerangka yang sudah ditetapkan Tuhan, tapi manusia punya ruang untuk mewarnai setiap harinya dengan tindakan, keputusan, hingga karya.

Di Indonesia, nilai gotong royong dan budaya tolong-menolong menunjukkan bagaimana kehidupan sosial adalah hasil karya bersama, bukan sekadar kehendak Tuhan semata (walau di balik itu semua ada kehendak Tuhan-la haula wala quwwata illah billah)). Manusia saling membantu dan memperbaiki kehidupan yang ada, dari keluarga hingga masyarakat luas.

Pilihan dan Akibatnya: Refleksi Personal

Cerita tentang rancangan Tuhan dan campur tangan manusia menjadi cermin untuk refleksi diri. Apakah selama ini kita merasa pasrah menerima keadaan, atau kita sudah berusaha aktif mengubah nasib? Dalam perjalanan hidup, banyak tantangan yang terasa berat dan tak terduga. Namun, ini mengingatkan kita pentingnya berikhtiar dan berserah secara seimbang.

Banyak tokoh sukses yang memulai dari keterbatasan, lalu melalui usaha keras, doa, dan ketulusan hati mampu mengubah masa depan. Mereka bukan sekadar menunggu kehidupan berjalan, melainkan aktif mengambil kesempatan dan belajar dari kegagalan. Itulah bukti nyata bagaimana campur tangan manusia menjadi kekuatan yang mewarnai takdir.

Namun, di saat yang sama, ketika menghadapi hal-hal di luar kendali, meyakini adanya rancangan Tuhan memberikan ketenangan hati. Rasa percaya bahwa segala sesuatu punya makna dan tujuan membantu kita menerima kondisi tanpa kehilangan semangat.

Menemukan Makna Harmonis dalam Tarikan Napas Hidup

Pada akhirnya, kehidupan tidak mudah untuk dikotak-kotakkan dan dipilah hanya antara "rancangan Tuhan" dan "hasil manusia." Ia ibarat tarian antara takdir dan usaha, pengaturan dan kebebasan, keajaiban dan kerja keras. Keduanya berjalan beriringan dan membentuk kehidupan yang unik dan penuh warna.

Dengan memahami ini, seseorang bisa lebih bijak menjalani hidup: berikhtiar dengan sungguh-sungguh, menjaga nilai-nilai moral dan spiritual, serta menerima segala hasil dengan lapang dada. Harapan dan doa menjadi bahan bakar, namun usaha dan tindakan adalah roda yang sesungguhnya mengantarkan manusia menuju kehidupannya. Manusia, diberi kuasa oleh Allah untuk mengelola alam dan dirinya, inilah kebijakan tertinggi Tuhan kepada manusia. Lalu, nikmat manalagi yang  manusia dustkan? Mari bersatu membangun kehidupan yang lebih baik lagi, kita tancapkan tiang-tiang surga di setiap titik bumi untuk menciptakan surga dunia dan tak lupa pula merangkai surga akhirat yang kekal abadi dengan selalu taat kepadaNya.(*) 


Posting Komentar untuk "Kehidupan: Rancangan Ilahi atau Kreasi Manusia? Atau Campuran Keduanya?"