Barru-B88News. Id- Workshop Hari Ibu, Merangkai Buket Bunga yang mengusung tema “Mengasah Kreativitas, Meraih Kasih Ibu” sejatinya menjadi ruang perayaan, tentang kasih, tentang ibu, tentang kehidupan.
Siang itu, suasana terasa ringan dan penuh keceriaan. Namun perlahan, rasa itu berubah.
Ketika Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari yang siang itu tampil anggun membuka whorkshop yang diinisiasi Ikatan Pengusaha Muslimah (IPEMI) Kota Makassar bersama TP.PKK dan Dekranasda Barru.
Saat Andi Ina berdiri untuk mengakhiri sambutannya, keceriaan ibu-ibu peserta dan undangan perlahan keriuhan seolah menepi. Dengan suara yang lebih pelan dan jeda yang panjang, Andi Ina mengajak seluruh hadirin menengok makna Hari Ibu dari sisi yang lebih personal dan lebih dalam.
“Bagi banyak orang, Hari Ibu adalah hari yang tentunya dirayakan dengan penuh suka cita, namun bagi saya, hari ini selalu menyimpan duka.”ucapnya lirih
Andi Ina kemudian menyebut sebuah tanggal yaitu 22 Desember 2010. Tanggal yang sama dengan peringatan Hari Ibu, namun menjadi hari kepergian perempuan yang paling ia kagumi sepanjang hidupnya, Andi Tja Tjambolang, ibunda tercinta.
"Pada kesempatan ini, saya memohon keikhlasan kita semua para peserta untuk mengirimkan Surah Al Fatihah kepada ibunda tercinta, almarhumah A.Tja Tjambolang",katanya.
Sejenak, ruang workshop dilantai VI Menara MPP Kantor Bupati Barru yang semula ramai dengan tawa kecil peserta berubah menjadi sunyi. Tak ada tepuk tangan. Tak ada suara. Hanya hening yang penuh rasa. Beberapa peserta menundukkan kepala, sebagian mengusap mata, larut dalam empati yang sama, rindu kepada seorang ibu.
Bagi Andi Ina, sosok ibunda bukan sekadar orang tua. Ia adalah teladan, sumber kekuatan, dan perempuan pertama yang mengajarkannya arti keteguhan.
Kehilangan itu mungkin telah berlalu lebih dari satu dekade, namun rindu itu, seperti yang ia akui, tak pernah benar-benar pergi.
Di hadapan para perempuan yang akan merangkai bunga sebagai simbol keindahan dan kasih sayang, kisah itu terasa kian bermakna.
Buket-buket bunga yang dirangkai hari itu tentunya seolah menjadi metafora indah dan lembut di luar, namun menyimpan kekuatan yang kokoh di dalamnya.
Momen tersebut menjadikan workshop ini lebih dari sekadar kegiatan kreatif. Ia menjelma menjadi ruang perenungan. Tentang ibu yang melahirkan, membesarkan, dan meninggalkan jejak cinta yang tak pernah habis, bahkan setelah kepergian.
Di balik jabatan dan sorotan publik, Andi Ina hadir sebagai seorang anak yang masih menyimpan rindu, yang mengenang ibunya dengan doa, dan yang juga mengingatkan kita semua bahwa setinggi apa pun pencapaian, kasih ibu tetaplah rumah tempat hati selalu pulang.
Bagi Andi Ina, apa pun yang ia raih hingga hari ini tidak pernah terlepas dari sosok sang ibu. Dari ibundanyalah ia belajar tentang keteguhan, tentang bagaimana berdiri tegak dalam sunyi, dan melangkah mantap meski jalan hidup tak selalu ramah.
Ibunya bukan hanya melahirkan, tetapi membentuk. Menanamkan nilai keberanian, kejujuran, dan kesabaran yang kini menjelma menjadi fondasi kepemimpinannya.
Dalam setiap keputusan dan langkah pengabdian, ada jejak ajaran seorang ibu yang tak pernah benar-benar pergi, meski raga telah lebih dulu berpulang. (SM)
Posting Komentar untuk "Di Balik Buket Bunga, Ada Rindu Seorang Anak. "