Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi (Lurah Mangempang)
Menjadi seorang Lurah dengan masa lalu sebagai santri yang pernah bertahun-tahun menimba ilmu di pondok pesantren memberikan warna tersendiri dalam cara saya memimpin.
Di atas kertas, tugas seorang lurah adalah urusan administratif negara, mulai dari mengurus kartu keluarga, menyalurkan bantuan sosial, hingga mengelola pembangunan fisik wilayah.
Namun, di bawah seragam dinas ini, ada cara pandang santri yang membuat kerja birokrasi terasa lebih hidup dan bermakna. Pengalaman hidup di pesantren bukan sekadar masa lalu, melainkan modal kultural dan mental yang membentuk gaya kepemimpinan saya hari ini.
Secara sosiologis, apa yang saya lakukan di kelurahan adalah membumikan nilai-nilai kepesantrenan ke dalam sistem pemerintahan modern. Konsep khidmah atau pengabdian tanpa pamrih yang dulu diajarkan kiai, kini saya terjemahkan menjadi pelayanan publik yang tulus dan responsif. Kantor kelurahan tidak boleh menjadi tempat yang kaku dan berjarak. Dengan bekal akhlakul karimah dan budaya tawadhu (rendah hati) dari pesantren, saya berusaha meruntuhkan tembok arogansi birokrasi, memastikan setiap warga, tanpa memandang status sosial, diterima dengan hangat dan dihormati martabatnya.
Dalam setiap pengambilan keputusan, Insya Allah, saya akan selalu memegang prinsip teologis yang kini menjadi dasar ilmiah tindakan saya: bahwa kebijakan seorang pemimpin harus berorientasi total pada kemaslahatan warganya. Baik itu saat menengahi sengketa dengan pendekatan musyawarah (ishlah), maupun saat memastikan transparansi anggaran program kerja.
Pada akhirnya, amanah sebagai lurah ini menjadi pembuktian ilmiah yang sederhana bahwa nilai-nilai luhur pesantren sangat relevan untuk menciptakan tata kelola pemerintahan lokal yang bersih dan humanis, sebuah manifestasi nyata dari kesadaran spiritual, bahwa sarung boleh saja telah berganti seragam dinas, namun jiwa khidmah pantang untuk tanggal, sebuah esensi pengabdian tanpa akhir yang melandasi rasa syukur saya dalam mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional Tahun 2026, karena sejatinya, jabatanku adalah pesantrenku yang baru.(*)
Barru, 22 Oktober 2026.
Posting Komentar untuk "Jembatan Dua Dunia: Membawa Ruh Pesantren ke Kursi Kelurahan (Refleksi Hari Santri Nasional - 22 Oktober 2026)"