Ada masa ketika seorang pemimpin harus meninggalkan ruang yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya. Namun, berakhirnya sebuah jabatan tidak selalu berarti berakhirnya pengabdian.
Begitulah perjalanan Dr. H. A. Fahsar Mahdin Padjalangi, M.Si. Sepuluh tahun memimpin Kabupaten Bone sebagai bupati dua periode, 2013–2023, telah menempatkan namanya dalam perjalanan panjang pemerintahan Bumi Arung Palakka.
Kini, setelah meninggalkan kursi Bupati Bone, sebuah amanah baru kembali datang. Pria kelahiran Bone yang akrab dipanggil Andi Baso Fahsar ini, kini dipercaya menjadi Anggota Dewan Pengawas (Dewas) Perum Bulog Republik Indonesia.
Sebuah panggung yang berbeda. Wilayah pengabdian yang lebih luas. Dan tentu saja, tanggung jawab yang tidak ringan.
Di titik perjalanan inilah, Andi Fahsar memilih menegaskan satu hal: dirinya yang tercatat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Bone menegaskan kini tidak lagi berpartai.
“Saya tidak berpartai lagi, ada amanah diberikan sebagai Dewan Pengawas Bulog RI,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya tersimpan pesan tentang sebuah pilihan: ketika amanah negara datang, kepentingan yang lebih besar harus ditempatkan di depan.
Jauh sebelum menjadi orang nomor satu di Bone, Andi Fahsar telah mengenal birokrasi dari dalam. Ia menapaki karier pemerintahan secara bertahap mulai dari staf. Pernah menjadi Asisten Sekretariat Daerah Bone, kemudian Wakil Bupati Bone, hingga dipercaya sebagai Staf Ahli Gubernur Sulawesi Selatan.
Dari ruang-ruang birokrasi itu, ia belajar bahwa pemerintahan bukan sekadar tentang jabatan. Ada keputusan yang harus diambil, ada kepentingan masyarakat yang harus diperjuangkan, dan ada tanggung jawab yang harus dipikul.
Perjalanan itu kemudian membawanya ke panggung politik. Ia dipercaya memimpin Kabupaten Bone selama dua periode.
Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Ada masa ketika tepuk tangan mengiringi langkah seorang pemimpin. Ada pula saat kritik datang tanpa jeda. Ada keberhasilan yang dirayakan, ada persoalan yang harus diselesaikan dalam diam. Semua menjadi bagian dari perjalanan.
Dan ketika masa jabatan itu akhirnya selesai, Andi Fahsar meninggalkan panggung tersebut dengan membawa pengalaman satu dekade memimpin sebuah kabupaten besar di Sulawesi Selatan.
Ketika panggung berubah, pengabdian tetap Aerjalan. Tidak lagi berada di ruang kantor bupati atau di tengah agenda pemerintahan Kabupaten Bone. Ia berada di lingkungan Perum Bulog Republik Indonesia, lembaga yang memiliki peran strategis dalam urusan pangan nasional.
Di tempat inilah pengalaman panjangnya kembali diuji. Pengalaman sebagai birokrat. Pengalaman sebagai wakil kepala daerah. Pengalaman sepuluh tahun sebagai bupati. Dan pengalaman membaca denyut masyarakat dari dekat.
Semua itu menjadi bekal untuk menjalankan amanah barunya.
Dari Bone ke tingkat nasional, perjalanan itu seakan menunjukkan bahwa pengabdian memang tidak mengenal garis akhir.
Jabatan bisa berakhir. Kekuasaan bisa berganti. Tetapi kesempatan untuk mengabdi selalu bisa datang dalam bentuk yang berbeda.
Bagi Bone, Andi Fahsar adalah bagian dari perjalanan panjang pemerintahan daerah. Dan bagi Andi Fahsar sendiri, Bone adalah tempat di mana sebagian besar perjalanan pengabdiannya ditempa.
Kini langkah itu bergerak lebih jauh. Dari Bumi Arung Palakka, menuju ruang pengabdian di tingkat nasional.
Tidak lagi dengan atribut partai, tetapi dengan amanah sebagai Dewan Pengawas Bulog RI.
Barangkali memang demikian perjalanan seorang pengabdi: ketika satu pintu ditutup oleh berakhirnya masa jabatan, pintu lain terbuka membawa tanggung jawab yang berbeda.
Dan di balik perubahan itu, ada satu hal yang tetap sama—keinginan untuk terus memberi arti. Sebab pada akhirnya, jabatan hanyalah persinggahan. (syamsu marlin)
Posting Komentar untuk "Dari Bumi Arung Palakka, Andi Fahsar Menapaki Amanah Baru di Bulog RI"