Hidup Hanya untuk Ibadah: Meluruskan Orientasi Harta, Pangkat, dan Jabatan


         Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP                   Universitas Negeri Makassar)

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya. “Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menjadi kompas utama bagi setiap manusia, terutama bagi kaum Muslimin: bahwa hidup bukan untuk mengejar harta, pangkat, atau jabatan, melainkan menjadikan semua itu sebagai sarana ibadah. Sayangnya, realitas sering terbalik. Banyak orang rajin “beribadah” supaya dapat harta, jabatan, dan pujian, bukannya menggunakan harta dan jabatan itu sebagai sarana untuk semakin taat kepada Allah.
Ibadah sebagai Tujuan, Dunia sebagai Sarana
Ibadah dalam Islam tidak terbatas pada salat, puasa, atau zikir. Ibadah hendaknya mencakup seluruh aktivitas kehidupan manusia. Bekerja, belajar, makan, minum, tidur, bahkan memimpin negeri, semua itu hendaknya menjadi  ibadah kepada Allah SWT.
Agar seluruh aktivitas bernilai ibadah maka aktivitas itu haruslah sesuai perintah Allah dan disertai niat. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap aktivitas tergantung pada niatnya.” (HR Bukhari-Muslim). Hadis ini mengingatkan pentingnya niat dalam  beraktivitas.  Makan jadi ibadah jika diniatkan agar tubuh kuat untuk salat malam dan bekerja menafkahi keluarga. Tidur jadi ibadah jika diniatkan agar bangun dengan segar untuk menuntut ilmu dan berbuat kebaikan. Bekerja jadi ibadah jika diniatkan untuk membantu sesama,  menjauhkan diri dari meminta-minta, untuk menafkahi keluarga, dan untuk  bersedekah.
Namun, ketika niat dibalik, ibadah dilakukan supaya dapat harta, jabatan, atau pujian manusia maka ibadah yang dilakukan itu akan sia-sia karena dilakukan bukan karena Allah. Inilah kesalahan orientasi yang banyak menjerumuskan manusia.
Harta, Pangkat, dan Jabatan: Ujian dan Amanah
Harta, pangkat, dan jabatan adalah ujian sekaligus amanah. Allah memberikan semua itu bukan untuk disombongkan, melainkan untuk dipergunakan di jalan-Nya. Orang yang diberi kekayaan seyogianya semakin dekat kepada Allah, semakin banyak sedekah, semakin peduli pada fakir miskin, dan semakin giat membangun kemaslahatan umat.
Demikian pula pangkat dan jabatan. Menjadi kepala daerah, menteri, bahkan presiden, seharusnya dimaknai sebagai kesempatan besar untuk beribadah melalui pelayanan publik. Setiap kebijakan yang adil, setiap program yang mensejahterakan rakyat (secara materil dan spirituil), setiap langkah memberantas korupsi dan kezaliman, semua adalah ibadah yang nilainya sangat besar di sisi Allah.
Namun, ketika jabatan justru dijadikan sarana memperkaya diri, menindas rakyat, atau melanggengkan kekuasaan tanpa keadilan, maka itu adalah pengkhianatan terhadap amanah Allah. Jabatan yang seharusnya menjadi tangga menuju surga, malah menjadi jalan menuju neraka. Naudzubillahimindzalik.
Makan, Minum, dan Aktivitas Sehari-hari sebagai Ibadah
Salah satu keindahan Islam adalah kemampuannya mengubah hal-hal biasa menjadi luar biasa melalui niat. Makan tidak sekadar mengisi perut, tetapi menjadi ibadah karena sadar bahwa makan dilakukan agar tubuh kuat untuk melaksanakan ibadah lainnya (sholat, dzikir, bekerja, belajar, dan lainnya). Minum tidak sekadar menghilangkan dahaga, tetapi menjadi syukur atas nikmat Allah. Even istirahat dan hiburan yang halal  menjadi bernilai ibadah jika dilaksanakan untuk mengembalikan tenaga agar lebih produktif dalam ketaatan.
Ini berarti seorang Muslim tidak perlu memisahkan antara “kehidupan dunia” dan “kehidupan akhirat”. Seluruh kehidupannya adalah medan ibadah. Di kantor, di pasar, di sawah, di laut, di sekolah, di rumah, di jalan, semua adalah tempat untuk mengabdi kepada Allah.
Ketika Niat Dibali: Beribadah untuk Mendapatkan Dunia
Fenomena yang memprihatinkan hari ini adalah banyaknya orang yang beribadah dengan orientasi duniawi. Salat rajin supaya dipandang shaleh, sedekah banyak supaya dikenal dermawan, bahkan menuntut ilmu agama supaya dapat jabatan di masyarakat. Ini adalah bentuk riya’ yang halus dan berbahaya.
Islam mengajarkan sebaliknya: gunakan dunia untuk ibadah, bukan ibadah untuk mendapatkan dunia. Harta digunakan untuk sedekah, membangun, membantu yang membutuhkan dan wakaf, bukan untuk pamer apalgi untuk mendholimi. Jabatan digunakan untuk melayani dan membantu masyarakat, bukan untuk dilayani. Ilmu digunakan untuk mencerahkan, bukan untuk menipu.
Pemimpin sebagai Hamba Allah yang Melayani
Bagi para pemimpin, baik kepala daerah, menteri, maupun presiden, pesan ini sangat krusial. Jabatan adalah amanah Allah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Setiap keputusan yang diambil, setiap anggaran yang dikelola, setiap kebijakan yang diterbitkan, semua akan dihisab.
Pemimpin yang sadar bahwa hidupnya untuk ibadah akan memimpin dengan integritas. Ia tidak akan korupsi karena tahu bahwa harta rakyat adalah amanah dan milik rakyat, yang berarti mengambilnya tanpa hak adalah haram. Ia tidak akan dholim karena tahu bahwa setiap air mata rakyat yang tertindas akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Ia tidak akan sombong karena tahu bahwa jabatan bukan untuk disombongkan tetapi untuk melayani masyarakat,
Sebaliknya, pemimpin yang menjadikan jabatan sebagai tujuan akan mudah tergoda untuk menghalalkan segala cara. Kekuasaan menjadi segalanya, rakyat hanya alat, dan agama hanya tameng. Ini adalah kesesatan yang harus diluruskan.
Meluruskan Kembali Orientasi Hidup
Sudah saatnya setiap Muslim, terutama yang diberi nikmat harta dan jabatan, meluruskan kembali orientasi hidupnya. Tanyakan pada diri sendiri: “Untuk apa aku bekerja? Untuk apa aku menuntut ilmu? Untuk apa aku menjabat?” Jika jawabannya masih “supaya kaya, supaya terkenal, supaya dihormati,” maka perlu muhasabah mendalam.
Mulailah dengan memperbaiki kesadaran. Sadar bahwa setiap aktivitas adalah untuk ibadah kepada Allah. Gunakan harta untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Gunakan jabatan untuk melayani umat-Nya. Gunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk kemaslahatan yang diridai-Nya: untuk mengajak umat ke jalan-Nya.
Penutup: Hidup Sekali, Hiduplah untuk Allah
Hidup di dunia hanya sekali. Tidak ada kesempatan kedua. Maka, sangat rugi jika hidup yang singkat ini hanya dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang fana. Harta akan ditinggalkan, jabatan akan berakhir, pujian manusia akan sirna. Yang kekal hanyalah amal ibadah yang tulus karena Allah.
Mari kita hidupkan kembali kesadaran bahwa kita diciptakan hanya untuk ibadah. Jadikan setiap helaan napas, setiap detak jantung, setiap langkah kaki, sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Makan sebagai ibadah, minum sebagai ibadah, bekerja sebagai ibadah, memimpin sebagai ibadah. Jangan sampai kita termasuk orang yang salah kaprah: beribadah untuk mendapatkan dunia, bukan menggunakan dunia untuk ibadah.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk istiqamah dalam niat dan amal, serta menjadikan harta, pangkat, dan jabatan yang kita miliki sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya, bukan menjauhkan. Amin.

Posting Komentar untuk "Hidup Hanya untuk Ibadah: Meluruskan Orientasi Harta, Pangkat, dan Jabatan"