Catatan, Syamsu Marlin*)
Layar perlahan menyala. Di hadapan para tamu yang memenuhi Baruga Singkerru Adae, Rumah Jabatan Bupati Barru, sebuah kisah lama kembali menemukan suaranya.
Bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Bukan pula hanya tentang lembaran naskah yang menguning dimakan usia. Ia adalah suara leluhur yang menolak hilang.
“Suara Yang Belum Hilang”, demikian judul film dokumenter yang mengangkat sosok maestro pelestari Sureq I La Galigo, diputar di hadapan Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si dan ratusan penonton, Rabu (30/9/2026).
Sejenak, ruang itu seperti membawa penontonnya menembus batas waktu.
Menyusuri jejak kebudayaan Barru. Menghidupkan kembali ingatan tentang Sureq I La Galigo. Dan mengingatkan bahwa di balik mahakarya sastra Bugis yang dikenal sebagai salah satu epos sastra terpanjang di dunia itu, terdapat tangan-tangan yang pernah bekerja dalam sunyi untuk menyelamatkan warisan peradaban.
Salah satunya adalah Colliq Pujie, Ratna Kencana Arung Pancana Toa.
Perempuan bangsawan asal Barru yang dikenal sebagai sastrawan, budayawan sekaligus pejuang. Namanya tercatat kuat dalam sejarah pelestarian Sureq I La Galigo. Dalam perjalanan panjang menjaga warisan sastra Bugis itu, Colliq Pujie menyalin naskah I La Galigo hingga 12 jilid.
Dari tangan dan ketekunannya, warisan besar itu melewati zaman.
Hari ini, setelah ratusan tahun berlalu, namanya kembali disebut.
Bukan sekadar sebagai tokoh sejarah.
Tetapi sebagai pengingat bahwa sebuah bangsa akan kehilangan sebagian dirinya ketika mulai melupakan warisan leluhurnya.
Di antara para tamu yang menyaksikan film tersebut, hadir pula mantan Bupati Barru dua periode, H. Andi Muhammad Rum, yang memiliki ikatan darah dengan Colliq Pujie.
Sepanjang pemutaran film, Andi Muhammad Rum, titisan darah Colliq Pujie nyaris tak bergeming dari tempat duduknya. Tatapannya tertuju pada layar. Setiap adegan seperti membawa dirinya kembali menyusuri jejak leluhur yang namanya telah melewati zaman.
Di wajahnya, tersimpan dua rasa yang bertemu dalam satu waktu: haru dan bangga.
Haru, karena kisah tentang leluhurnya kembali hadir di hadapan mata dan disaksikan banyak orang.
Bangga, karena warisan yang pernah dijaga Colliq Pujie dalam kesunyian kini kembali dihidupkan melalui sebuah karya film dan diperkenalkan kepada generasi hari ini.
Bagi Andi Muhammad Rum, “Suara Yang Belum Hilang” tentu bukan sekadar dokumentasi sejarah.
Ada bagian dari perjalanan keluarganya yang kembali diperdengarkan.
Ada nama besar Colliq Pujie, Ratna Kencana Arung Pancana Toa, yang kembali hidup dalam ingatan.
Dan ada kesadaran bahwa darah leluhur bukan sekadar garis keturunan, tetapi juga membawa tanggung jawab moral untuk menjaga warisan yang ditinggalkan.
Darah boleh diwariskan, tetapi warisan terbesar adalah ketika nilai, karya dan perjuangan leluhur terus dijaga oleh generasi setelahnya.
Film itu tidak hanya ditontonnya sebagai sebuah karya sinematografi. Ada sesuatu yang lebih dalam. Ada kebanggaan sebagai orang Barru. Ada kekaguman terhadap para seniman yang mencoba menerjemahkan sejarah ke dalam bahasa visual.
“Saya merinding menyaksikan film dokumenter ini,” ujar Andi Ina yang tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
Kalimat itu terdengar sederhana, namun dari sana, pesan besar tentang kebudayaan Barru kembali ditegaskan.
Bagi Andi Ina, karya seperti Suara Yang Belum Hilang tidak boleh berhenti sebagai sebuah film yang selesai diputar, lalu dilupakan. Ia harus menjadi pintu.
Pintu untuk mengenal kembali sejarah. Pintu bagi generasi muda untuk memahami akar budayanya. Dan pintu bagi Barru untuk memperkenalkan kekayaan warisan budayanya kepada Indonesia.
Karena itu, Bupati menyampaikan apresiasi kepada sutradara, produser, sineas muda, serta seluruh pihak yang telah bekerja menghadirkan film tersebut.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Barru membuka ruang selebar-lebarnya bagi anak muda dan insan seni untuk berkarya, terutama karya yang mengangkat identitas, sejarah dan kebudayaan daerah.
Harapannya sederhana, tetapi besar: agar suara Barru terdengar lebih jauh.
Agar I La Galigo tidak hanya hidup di antara para budayawan dan peneliti, tetapi juga hadir di ruang-ruang sekolah, ruang keluarga, layar digital, dan ingatan anak-anak Barru.
Ada satu hal lain yang disampaikan Andi Ina malam itu. Pemerintah Kabupaten Barru berencana merevitalisasi Monumen Colliq Pujie.
Bukan sekadar memperbaiki sebuah bangunan atau memperindah sebuah kawasan. Tetapi menghidupkan kembali sebuah simbol.
Simbol tentang Colliq Pujie, Ratna Kencana Arung Pancana Toa, seorang perempuan Barru yang pernah bekerja dalam kesunyian, menyalin mahakarya leluhur, hingga warisan itu dapat dikenal oleh generasi yang jauh setelah zamannya.
Monumen itu kelak diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk berfoto. Tetapi menjadi ruang untuk mengingat.
Bahwa Barru memiliki seorang tokoh besar yang ikut menjaga salah satu mahakarya terbesar sastra Bugis.
Dan bahwa generasi hari ini memiliki kewajiban untuk meneruskan apa yang telah diselamatkan oleh generasi sebelumnya.
Bahwa jangan sampai anak Barru asing dengan budayanya sendiri, maka Andi Ina juga mendorong agar film dokumenter dan nilai-nilai Sureq I La Galigo dapat diperkenalkan kepada pelajar mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA.
Sebab pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan membangun monumen.
Budaya harus dikenalkan.
Harus diceritakan.
Harus dipelajari.
Dan yang paling penting, harus dibanggakan.
Anak-anak Barru harus tahu bahwa mereka tumbuh di tanah yang memiliki sejarah panjang.
Mereka harus mengenal nama Colliq Pujie bukan hanya sebagai nama jalan atau nama sebuah monumen.
Mereka harus tahu siapa dia. Apa yang telah diperjuangkannya. Dan mengapa warisan yang ditinggalkannya begitu penting.
Sebab ketika seorang anak mengenal budayanya, di situlah akar identitas mulai tumbuh.
Dan ketika sebuah generasi bangga terhadap akar budayanya, di situlah warisan tidak lagi sekadar menjadi masa lalu. Ia menjadi masa depan.
“Menjaga warisan budaya berarti menjaga identitas kita. Dan identitas itu harus menjadi kebanggaan masyarakat Barru, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang,” tegas Andi Ina.
Malam itu, layar akhirnya padam.
Film selesai.
Namun suaranya belum.
Ia masih tinggal di ruangan itu. Tinggal dalam ingatan mereka yang menyaksikan. Tinggal dalam haru seorang keturunan Colliq Pujie. Dan tinggal dalam tekad Pemerintah Kabupaten Barru untuk membawa warisan itu menyeberangi zaman.
Sebab selama masih ada yang mengingat, menceritakan dan menjaganya, suara leluhur tak akan pernah benar-benar hilang. (*)
*) Syamsu Marlin, Wartawan tinggal di Barru.
Posting Komentar untuk "“Suara Yang Belum Hilang”, Ketika Barru Kembali Mendengar Bisikan Leluhur"