BARRU —B88News.id- Rasulullah SAW tidak mengajarkan manusia untuk berlomba menjadi yang paling tinggi. Beliau mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang mampu menghadirkan ketenangan, menghargai sesama, menjaga alam, dan tetap bersyukur kepada Allah SWT.
Pesan itu mengemuka dalam hikmah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang disampaikan Rektor ITBA Al Gazali Barru, Prof. Dr. H. Kamaruddin Hasan, M.Pd., pada peringatan Maulid yang digelar Pengurus Kesatuan Masyarakat Wajo (KEMAWA) Cabang Barru, di Baruga Singkerru Adae, Rumah Jabatan Bupati Barru, Senin (14/9/2026).
Prof. Kamaruddin mengawali tausiyahnya dengan mengangkat sebuah pesan leluhur tentang “nyameng kininnawa”—ketenangan dan kenyamanan jiwa.
Baginya, konsep itu bukan sekadar ungkapan budaya, tetapi jalan hidup yang sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW.
Prof. Kamaruddin menguraikan, Ada empat ruang tempat manusia harus menghadirkan ketenangan.
Pertama, “Anyameng kininnawako ri alemu”—berdamai dengan diri sendiri.
Manusia, katanya, harus belajar hidup sederhana dan sewajarnya. Jangan memaksakan diri mengejar ukuran kehidupan orang lain hanya demi gengsi.
“Aja' mupatiwiri alemu anu de'e muļle tiwi'i. Jangan menyusahkan diri hanya karena ingin terlihat mampu,” pesannya.
Kedua, “Anyameng kininnawako ri padangmu rupa tau”—menjaga ketenangan dalam hubungan dengan sesama.
Sebab, kata dia, satu kalimat bisa menjadi obat, tetapi satu kalimat pula bisa meninggalkan luka.
Karena itu, sebelum berbicara, seseorang perlu memikirkan perasaan orang yang mendengarnya.
“Palyaqul khairan aow liyasmut. Berkatalah yang baik atau diam,” ujarnya menyebut salah satu hadist.
Ketiga, “Anyameng kininnawako ri padangmu ripancaji”—berdamai dengan alam.
Lingkungan harus dijaga, tanaman dirawat, dan keindahan tidak dianggap sebagai sesuatu yang sepele. Alam yang terawat menghadirkan ruang bagi manusia untuk hidup lebih nyaman dan bahagia.
Keempat, “Anyameng kininnawako ri Puang Allah Ta'ala.”. Inilah ketenangan tertinggi: berserah dan dekat kepada Allah SWT.
“Ketika mendapat nikmat, bersyukur. Ketika mendapat cobaan, bersabar. Kehidupan ini memang berputar antara syukur dan sabar,” tuturnya.
Prof. Kamaruddin kemudian membawa jamaah pada satu episode penting dalam kehidupan Rasulullah SAW: yakni kisah peletakan Hajar Aswad.
Perselisihan antarsuku Quraisy tentang siapa yang paling berhak mengangkat dan meletakkan Hajar Aswad berpotensi menjadi pertikaian besar.
Rasulullah memilih jalan yang tidak menempatkan dirinya sebagai pemenang.
Beliau membentangkan sorban, menaruh Hajar Aswad di atasnya, lalu meminta setiap perwakilan suku memegang bagian sorban dan mengangkatnya bersama-sama. Semua terlibat. Semua merasa dihargai. Tidak ada yang dikalahkan.
“Rasulullah mengajarkan bahwa kehidupan bukan tentang siapa yang paling. Yang paling kuat, paling berkuasa atau paling berhak. Yang utama adalah bagaimana kita membangun kebersamaan,” katanya.
Nilai itu, menurutnya, sangat dekat dengan falsafah Bugis: sipakatau, sipakalebbi, sipakainge. Saling memanusiakan. Saling menghargai. Saling mengingatkan.
Dihadapan Bupati, Wakil Bupati Baŗru dan pengurus Kemawa, Prof Kamaruddin mengangkat kisah Ta'if menjadi contoh lain betapa luasnya akhlak Rasulullah.
Ketika dakwah beliau ditolak, bahkan tubuhnya dilempari batu, Rasulullah tidak memilih membalas dengan kebencian.
Saat malaikat menawarkan untuk membinasakan penduduk Ta'if, Rasulullah justru berharap agar anak cucu mereka kelak mendapatkan hidayah.
“Rasulullah tidak mewariskan dendam. Beliau mewariskan harapan,” kata Rektor ITBA Al Gazali Baŗru itu.
Karena itu, ia mengajak jamaah belajar memaafkan, mengendalikan emosi dan tidak menjadikan kesalahan seseorang sebagai alasan untuk membenci seluruh keturunannya.
Keteladanan Rasulullah juga, kata Prof. Kamaruddin, terlihat dalam kehidupan keluarga dan kepemimpinan.
Rasulullah mengajarkan bahwa seorang suami tidak perlu merasa rendah ketika membantu pekerjaan rumah. Dalam perbedaan pendapat dengan pasangan, yang dicari bukan siapa pemenangnya, tetapi bagaimana hubungan tetap terjaga.
“Jangan mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Belajarlah mendengarkan,” pesannya.
Dalam kepemimpinan publik pun demikian. Ia mengisahkan bagaimana Rasulullah menjaga perasaan seseorang yang buang angin setelah makan daging unta. Rasulullah tidak menunjuk atau mempermalukannya. Beliau hanya meminta semua yang hadir memperbarui wudhu.
Bagi Prof. Kamaruddin, kisah itu menunjukkan satu prinsip kepemimpinan yang sangat penting: masalah boleh diselesaikan, tetapi martabat manusia jangan dihancurkan.
“Pemimpin bukan hanya orang yang mampu menyelesaikan masalah. Pemimpin adalah orang yang mampu menyelesaikan masalah tanpa mempermalukan manusia,” tegasnya.
Di penghujung tausiyahnya, Prof. Kamaruddin mengajak jamaah menjadikan Maulid sebagai momentum untuk bercermin.
Bukan sekadar bertanya seberapa sering nama Rasulullah disebut, tetapi sejauh mana akhlak Rasulullah hadir dalam kehidupan.
Sebab, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup diucapkan. Ia harus terlihat dalam cara kita berbicara, cara kita memperlakukan orang lain, cara kita memimpin, cara kita memperlakukan keluarga, cara kita memaafkan, hingga cara kita menjaga bumi.
Dan mungkin, di sanalah makna terdalam Maulid: ketika keteladanan Rasulullah tidak hanya dikenang, tetapi menjadi jalan untuk menemukan “nyameng kininnawa”—ketenangan hati dalam menjalani kehidupan.(syam)
Posting Komentar untuk "Prof. Kamaruddin Hasan: 'Nyameng Kininnawa', Jalan Meneladani Akhlak Rasulullah"