Catatan, Syamsu Marlin
Ada masa ketika seorang pejabat datang membawa amanah. Ada pula waktunya ia harus meninggalkan tempat yang telah menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Kini giliran itu tiba bagi AKBP Ananda Fauzi Harahap, S.I.K., M.H. Selama hampir dua tahun—tepatnya 1 tahun 12 bulan—ia mengemban amanah sebagai Kapolres Barru. Kini tugas baru menantinya sebagai Wakil Direktur Intelkam Polda Sulawesi Selatan.
Perpindahan jabatan itu adalah bagian dari dinamika pengabdian seorang perwira Polri. Namun bagi Barru, kepergian Ananda bukan sekadar pergantian seorang Kapolres.
Ada perjalanan yang selesai. Ada perjumpaan yang akan menjadi kenangan.
Dan ada sebuah nama yang telah melekat dalam cerita hampir dua tahun terakhir.
Selama berada di Barru, Ananda tidak hanya dikenal melalui ruang kerjanya di Mapolres. Ia hadir di banyak ruang perjumpaan. Bertemu pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, insan pers, hingga warga di berbagai kesempatan.
Masjid dan pesantren menjadi bagian dari ruang silaturahminya. Begitu pula kegiatan kemasyarakatan dan berbagai agenda yang mempertemukan kepolisian dengan masyarakat. Di tempat-tempat itulah jabatan terasa lebih sederhana.
Seorang Kapolres tidak lagi sekadar mengenakan seragam dan tanda pangkat. Ia duduk, berbicara, mendengar, terkadang bercanda, dan menyerap berbagai persoalan yang disampaikan masyarakat.
Dari sana pula kepercayaan dibangun. Sebab keamanan tidak hanya lahir dari penegakan hukum. Ia juga tumbuh dari komunikasi dan rasa saling percaya. Hampir dua tahun bukan perjalanan tanpa tantangan. Hari-hari yang yang dilalui tidak selalu mudah.
Barru memiliki dinamika sosial, persoalan keamanan, berbagai peristiwa kriminalitas, serta tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kepolisian yang semakin tinggi.
Di tengah situasi itu, Kapolres dituntut mengambil keputusan.
Ada waktu untuk bertindak tegas. Ada saatnya membuka ruang dialog.
Di situlah Ananda menjalankan perannya sebagai pimpinan Polres Barru. Tidak semua keputusan menjadi berita.
Bahkan banyak hal penting dalam tugas kepolisian berlangsung jauh dari kamera dan pemberitaan. Namun justru di sanalah sebagian besar kerja pengabdian berlangsung.
Kini suasananya berbeda. Perjumpaan yang biasanya dimulai dengan agenda tugas, silaturahmi atau pembicaraan tentang keamanan, perlahan berubah menjadi ucapan selamat jalan.
Jabat tangan yang biasanya menjadi pembuka pertemuan, kali ini menjadi tanda perpisahan. Orang-orang yang selama ini bertemu dalam urusan kedinasan kini datang untuk melepas seorang Kapolres yang akan melanjutkan perjalanan kariernya.
Ada yang menyampaikan terima kasih. Ada yang menitipkan doa. Ada pula yang hanya ingin berjabat tangan untuk terakhir kalinya sebelum Ananda meninggalkan Barru.
Mungkin tidak ada yang benar-benar tahu kapan sebuah perjumpaan menjadi perjumpaan terakhir. Tetapi pada hari-hari perpisahan, hal-hal kecil seperti itu tiba-tiba memiliki arti yang berbeda.
Kini Ananda meninggalkan Barru bukan karena pengabdiannya berakhir. Ia hanya berpindah medan tugas.
Dari Kapolres Barru menuju Wadir Intelkam Polda Sulsel.
Tanggung jawab baru tentu membawa tantangan baru. Ruang pengabdiannya menjadi lebih luas, dengan persoalan dan dinamika yang berbeda. Barru tentunya telah menjadi salah satu bagian dari perjalanan itu.
Tempat ini akan menyimpan catatan tentang seorang Kapolres yang pernah memimpin selama hampir dua tahun.
Tentang berbagai peristiwa yang pernah dilalui. Tentang orang-orang yang pernah ditemui. Tentang keputusan yang pernah diambil. Dan tentang hubungan yang dibangun selama berada di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, jabatan memang memiliki batas waktu. Seorang Kapolres datang, menjalankan tugas, lalu pergi ketika amanah berikutnya diberikan.
Yang kemudian tinggal bukan kursi jabatan. Bukan pula papan nama di depan kantor.
Yang tinggal adalah kesan dan jejak hubungan dengan orang-orang yang pernah ditemui.
Mungkin suatu hari Ananda kembali melewati Barru. Bisa jadi hanya sebentar.
Mungkin sekadar melintas di jalan yang dahulu setiap hari dilewatinya saat bertugas.
Namun kota kecil ini akan tetap menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai seorang perwira Polri. Dan bagi Barru, hampir dua tahun itu telah menjadi satu bab yang kini ditutup dengan baik.
Selamat jalan, Panglima Timur.
Terima kasih atas 1 tahun 12 bulan pengabdian di Barru. Selamat mengemban amanah baru sebagai Wakil Direktur Intelkam Polda Sulawesi Selatan.
Bawalah pengalaman dari Barru sebagai bekal untuk tugas berikutnya.
Semoga amanah, semakin matang dalam pengabdian, dan selalu diberi kekuatan dalam menjalankan tanggung jawab.
Barru melepas. Sulawesi Selatan menyambut.
Perjalanan belum selesai. Hanya halamannya yang berganti. Salamakki Tapada Salama'
Bumi Colliq Pujie, 25 September 2026.
Posting Komentar untuk "Ketika Panglima Timur Harus Pergi: Jejak Ananda Fauzi Menjadi Bagian dari Cerita Barru"