Ia tidak berdiri di panggung. Namanya jarang disebut dalam sambutan. Namun dari balik kameranya, banyak cerita tentang Barru sampai kepada publik.
Dialah Andi Fadly, fotografer Humas IKP Diskominfo-SP Kabupaten Barru. Kamera di tangan, langkah tak pernah benar-benar berhenti, dan satu ciri khas yang mudah dikenali: kuda-kudanya selalu rendah.
Ketika orang lain mencari tempat nyaman, Fadly mencari sudut terbaik. Ia rela jongkok, berlutut, kepanasan, berdebu, bahkan pulang terlambat demi menangkap satu momen yang mungkin hanya terjadi sekali.
Baginya, fotografi bukan sekadar memotret pejabat atau kegiatan pemerintahan. Ia memotret manusia di balik program—petani yang berbincang dengan Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, anak-anak yang tersenyum, warga yang menyampaikan harapan, hingga mereka yang jarang mendapat tempat di panggung.
Sebab bagi Fadly, pemerintahan bukan hanya rapat, gedung dan seremoni. Pemerintahan adalah manusia.
Sebuah foto mungkin hari ini hanya menjadi dokumentasi. Besok menjadi berita. Bertahun-tahun kemudian, ia bisa menjadi arsip dan bagian dari sejarah—mengingatkan bahwa pernah ada seorang pemimpin turun menemui rakyat, pernah ada warga menyampaikan harapan, dan pernah ada Barru yang sedang tumbuh dan bergerak.
Keringat, debu, panas dan lelahnya tidak pernah masuk ke dalam bingkai. Yang terlihat hanya foto yang seolah sederhana. Padahal di balik satu jepretan, ada perjuangan untuk menyelamatkan sebuah cerita.
Fadly bekerja di belakang layar, membiarkan orang lain tampil lebih jelas. Ia merendahkan tubuhnya bukan karena pekerjaannya rendah, tetapi karena dari posisi itulah sebuah cerita bisa terlihat lebih besar.
Mungkin itulah cara paling sunyi Andi Fadly mencintai Barru: bekerja tanpa banyak bicara, menyimpan setiap momen, lalu membiarkan foto-fotonya berbicara tentang Barru kepada generasi berikutnya.(syam)
Posting Komentar untuk "Di Balik Lensa: Cara Sunyi Andi Fadly Mencintai Barru"