Kalah Jadi Abu, Menang Jadi Arang: Itulah, Berkelahi Tidak Ada Gunanya!

Oleh : Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)


Pernahkah kamu bertanya, apa sebenarnya yang kamu dapatkan setelah berkelahi? Setelah tawuran dengan teman sekolah, dengan mahasiswa dari fakultas atau kampus lain, atau dengan kelompok yang berbeda pandangan? Jawabannya sederhana: tidak ada! Sama sekali tidak ada! Yang ada hanya luka, penyesalan, waktu yang terbuang, tenaga yang habis, persaudaraan yang retak, dan persatuan yang hancur. “Kalah jadi abu, menang jadi arang”, begitulah peribahasa lama yang begitu tepat menggambarkan kebodohan dari setiap bentuk perkelahian.
Mahasiswa, pelajar, pemuda : kalian adalah tulang punggung bangsa. Kalian adalah generasi yang diharapkan membawa bangsa ke gerbang kemajuan. Tapi apa jadinya jika tulang punggung itu patah karena saling menghancurkan? Apa jadinya jika generasi yang diharapkan memimpin justru sibuk dengan urusan yang tidak ada manfaatnya? Inilah realitas pahit yang harus kita hadapi bersama: kita masih terlalu sering berkelahi, masih terlalu mudah terprovokasi, dan masih terlalu lupa bahwa perpecahan adalah jalan menuju kehancuran.
Tidak Ada yang Menang dalam Perkelahian
Mari kita bicara jujur. Dalam setiap perkelahian, tidak ada satu pun pemenangnya. Mereka yang kalah mungkin terluka, dipermalukan, atau bahkan kehilangan nyawa. Tapi mereka yang menang? Apakah mereka benar-benar menang? Mereka juga terluka, juga kehilangan waktu, juga merusak masa depan mereka sendiri. Bedanya hanya satu: yang kalah sadar mereka kalah, sementara yang menang merasa menang padahal sebenarnya juga kalah. Balas dendam pun kadang menanti.
Inilah yang dimaksud dengan "kalah jadi abu, menang jadi arang." Keduanya sama-sama hangus. Keduanya sama-sama rusak. Tidak ada yang keluar dari perkelahian dalam keadaan utuh, baik secara fisik maupun moral. Luka di badan bisa sembuh, tapi luka di hati, luka di persaudaraan, dan luka di masa depan bisa bertahan seumur hidup.
Pelajar yang terlibat tawuran bisa dikeluarkan dari sekolah. Mahasiswa yang berkelahi bisa di-drop out dari kampus. Dan yang lebih parah, mereka yang terluka parah atau meninggal dalam perkelahian kehilangan kesempatan untuk meraih mimpi mereka. Semua ini hanya karena ego sesaat, karena provokasi yang sebenarnya tidak perlu ditanggapi, karena keinginan untuk "terlihat hebat" di depan teman-teman.
Tapi pertanyaannya: hebat seperti apa? Hebat karena bisa memukul orang? Hebat karena bisa membuat orang lain takut? Itu bukan hebat. Itu justru tanda kelemahan. Orang yang kuat adalah orang yang bisa mengendalikan diri, bukan orang yang mudah terpancing emosi. Orang yang hebat adalah orang yang bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, bukan dengan kepalan tinju atau hunusan senjata.

Berkelahi Itu Buang-Buang Waktu dan Tenaga
Pikirkan sejenak. Berapa jam waktu yang kamu habiskan untuk merencanakan tawuran? Berapa banyak energi yang kamu keluarkan untuk berkelahi? Berapa banyak uang yang kamu pakai untuk transportasi, untuk membeli sesuatu yang akan dijadikan senjata, atau untuk mengobati luka setelah berkelahi?
Sekarang bandingkan dengan apa yang bisa kamu lakukan dengan waktu, tenaga, dan uang itu. Kamu bisa belajar untuk ujian. Kamu bisa berlatih keterampilan baru. Kamu bisa membaca buku yang memperluas wawasan. Kamu bisa berolahraga untuk kesehatan. Kamu bisa membantu orang tua di rumah. Kamu bisa membuat proyek yang bermanfaat untuk masyarakat.
Tapi tidak. Waktu itu justru dipakai untuk hal yang tidak ada manfaatnya. Tenaga itu justru dihamburkan untuk merusak, bukan membangun. Uang itu justru dipakai untuk hal yang bisa dihindari. Ini bukan hanya bodoh. Ini adalah pengkhianatan terhadap diri sendiri, terhadap orang tua yang sudah bekerja keras membiayai sekolahmu, dan terhadap bangsa yang menyiapkan fasilitas lagi membutuhkan kontribusimu.
Setiap menit yang kamu habiskan untuk berkelahi adalah menit yang tidak akan pernah kembali. Setiap luka yang kamu dapatkan adalah luka yang bisa saja kamu hindari. Setiap kesempatan yang hilang karena skorsing atau drop out adalah kesempatan yang tidak bisa diganti. Apakah ini sepadan dengan rasa "hebat" sesaat yang kamu dapatkan dari tawuran?Tidaaaak!!
Hilang Persaudaraan, Hilang Persatuan
Indonesia adalah bangsa yang besar, karena jumlah penduduknya, karena wilayahnya, dan yang tak kalah penting karena keberagamannya. Kita terdiri dari ratusan suku, ribuan pulau, puluhan bahasa, dan berbagai agama. Kekuatan kita terletak pada keberagaman ini manakala keberagaman tersebut dirajut penuh persaudaraan. Jika kita terpecah, keberagaman justru menjadi kelemahan dan alat pemecah-belah bagi para penghianat bangsa..
Perkelahian antar pelajar, antar mahasiswa, antar kelompok adalah bentuk perpecahan kecil yang jika dibiarkan akan menjadi perpecahan besar. Dari tawuran karena hal sepele, bisa berkembang menjadi konflik antar suku, antar agama, dan antar daerah. Dan ketika kita terpecah, kita menjadi lemah. Ketika kita lemah, kita mudah dikuasai oleh yang selalu mengintai untuk mencaplok kita.
Sejarah telah mengajarkan ini dengan sangat jelas. Bangsa kita dijajah selama ratusan tahun bukan karena penjajah lebih kuat secara jumlah, tapi karena kita terpecah-belah. Kerajaan-kerajaan di Nusantara saling berperang, saling menghancurkan, saling melemahkan. Dan ketika penjajah datang, mereka dengan mudah menguasai kita satu per satu. Kita tidak bisa bersatu melawan musuh bersama karena terlalu sibuk bermusuhan satu sama lain.
Ini adalah pelajaran sangat berharga yang harus kita ingat selamanya: perpecahan adalah jalan menuju lahirnya penjajahan. Persatuan adalah jalan menuju kemerdekaan. Jika kita ingin Indonesia tetap merdeka, jika kita ingin bangsa kita tidak lagi dikuasai oleh bangsa lain manapun baik secara militer, ekonomi, maupun budaya maka kita harus bersatu. Dan persatuan dimulai dari hal kecil: berhenti berkelahi.
Sadarlah: Sejarah Berulang Jika Kita Tidak Belajar
Sadarlah sekarang. Sadarlah bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan masa depan bangsa. Jika kita terus berkelahi, jika kita terus terpecah, maka sejarah kelam penjajahan bisa saja terulang dalam bentuk baru. Bukan lagi penjajahan militer seperti dulu, tapi penjajahan ekonomi, penjajahan teknologi, dan penjajahan budaya.
Bangsa lain akan dengan mudah menguasai kita jika kita tidak bersatu. Mereka akan mengambil sumber daya alam kita, menguasai pasar kita, mendominasi budaya kita. Dan kita tidak akan bisa berbuat apa-apa karena terlalu sibuk dengan urusan internal kita sendiri. Ini bukan ramalan. Ini adalah realitas yang sudah terjadi di banyak negara yang terpecah.
Mahasiswa dan pelajar harus menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan. Kalian adalah orang-orang yang terdidik, yang punya wawasan, yang punya akses informasi. Kalian seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat, bukan justru menjadi sumber masalah. Kalian seharusnya menjadi pemersatu, bukan pemecah belah.
Mari Perkuat Persatuan, Tinggalkan Kebiasaan Berkelahi!
Sudah cukup. Sudah terlalu banyak waktu, tenaga, nyawa, dan masa depan yang terbuang karena perkelahian. Sudah terlalu banyak persaudaraan yang retak, persatuan yang hancur, dan kesempatan yang hilang. Sekarang adalah waktunya untuk berubah.
Tinggalkan kebiasaan berkelahi. Tinggalkan tawuran. Tinggalkan segala bentuk kekerasan yang tidak ada manfaatnya. Ganti dengan hal-hal yang membangun: belajar bersama, berdiskusi, berkolaborasi, berinovasi. Gunakan perbedaan bukan sebagai alasan untuk bermusuhan, tapi sebagai peluang untuk saling melengkapi.
Perkuat persatuan dengan memulai dari diri sendiri. Jangan mudah terprovokasi. Jangan mudah marah. Jangan mudah menganggap orang lain sebagai musuh. Lihatlah orang yang berbeda denganmu bukan sebagai ancaman, tapi sebagai saudara yang perlu diajak bekerja sama.
Bangsa ini butuh kalian. Bukan kalian yang saling menghancurkan, tapi kalian yang saling mendukung. Bukan kalian yang terpecah, tapi kalian yang bersatu. Bukan kalian yang lemah, tapi kalian yang kuat karena bersama-sama.
Mulai hari ini, putuskan untuk tidak lagi berkelahi. Putuskan untuk menjadi bagian dari solusi, bukan masalah. Putuskan untuk memperkuat persatuan, bukan perpecahan. Karena hanya dengan bersatu kita bisa menang. Hanya dengan bersatu kita bisa maju. Hanya dengan bersatu kita bisa membuat bangsa kita “Indonesia” menjadi bangsa yang besar, kuat, dan bermartabat. Selamat tinggal perkelahian! Selamat datang persaudaran! Selamat datang kemajuan!

Posting Komentar untuk "Kalah Jadi Abu, Menang Jadi Arang: Itulah, Berkelahi Tidak Ada Gunanya!"