Hampir Setahun Berlalu, Saatnya PWI Barru Menata Kembali Langkah


           Catatan,  Syamsu Marlin*) 

Waktu terus bergerak. Kalender berganti halaman. Hampir setahun telah berlalu sejak kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Barru dilantik pada 23 Desember 2025.

Namun, di tengah perjalanan itu, ada ruang yang terasa sunyi, ruang tempat pengurus seharusnya duduk bersama, bertukar gagasan, mengevaluasi perjalanan, dan merumuskan arah organisasi.

Sejak dilantik, belum sekalipun seluruh pengurus duduk bersama dalam rapat lengkap untuk membicarakan program kerja dan masa depan organisasi.

Hampir setahun berlalu. Organisasi ada, tetapi denyut kegiatannya belum terasa sebagaimana yang diharapkan.

Aktivitas yang lebih sering terlihat justru berkaitan dengan keikutsertaan dalam turnamen sepak bola. Tentu tidak ada yang keliru dengan olahraga. Sepak bola dapat menjadi ruang silaturahmi dan mempererat persaudaraan.

Namun, PWI memiliki rumah perjuangan yang lebih besar yaitu profesi kewartawanan.

PWI 'bukan' organisasi olahraga. Ia adalah organisasi profesi yang membawa nama wartawan, menjaga etika jurnalistik, meningkatkan kompetensi, memperkuat solidaritas, dan mempertahankan marwah pers di tengah masyarakat.

Karena itu, sebuah pertanyaan layak disampaikan, bukan sebagai tudingan, melainkan sebagai refleksi bersama: Ke mana PWI Barru hendak melangkah?

Pertanyaan itu lahir dari kegelisahan. Kegelisahan melihat sebuah organisasi yang semestinya menjadi ruang bertemunya gagasan, tetapi belum sepenuhnya menemukan ruang untuk duduk bersama.

Padahal tantangan profesi wartawan hari ini semakin kompleks. Arus informasi bergerak begitu cepat. Media sosial berkembang tanpa batas. Disinformasi semakin mudah menyebar. Pada saat yang sama, wartawan dituntut semakin profesional, kompeten, independen, dan teguh memegang etika jurnalistik.

Dalam kondisi seperti itu, organisasi profesi justru harus semakin kuat. PWI harus hadir bukan hanya ketika ada pertandingan atau seremoni. PWI harus hadir ketika wartawan membutuhkan ruang belajar, peningkatan kapasitas, perlindungan profesi, jejaring, dan solidaritas.

Belum terlambat untuk memulai. Justru masih terbuka kesempatan untuk menata kembali langkah. Sejumlah agenda penting telah menanti. Porwanas dan Hari Pers Nasional (HPN) dapat menjadi momentum untuk kembali menyatukan energi dan menghidupkan semangat organisasi.

Porwanas membutuhkan persiapan. HPN membutuhkan keterlibatan.

Dan keduanya membutuhkan organisasi yang sehat dan bergerak. Karena itu, langkah pertama sebenarnya sederhana, duduk bersama.

Undang seluruh pengurus. Bangun kembali komunikasi. Bicarakan apa yang selama ini tersendat. Susun program kerja. Bagi tanggung jawab. Tentukan target dan mulai bekerja.

Tidak perlu mencari siapa yang paling benar. Tidak pula perlu sibuk mencari siapa yang paling salah. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melihat kekurangan, lalu memperbaikinya bersama.

Sebab organisasi yang kuat bukan organisasi yang tidak pernah menghadapi persoalan. Organisasi yang kuat adalah organisasi yang berani melakukan evaluasi dan memperbaiki diri.

PWI Barru telah memiliki kantor sekretariat. Namun, sekretariat itu perlu dibenahi dan dihidupkan kembali sebagai rumah bersama para wartawan Barru. Menata organisasi juga berarti menata rumahnya. 

Kantor Sekretariat bukan sekadar alamat administratif, tetapi tempat pengurus dan anggota bertemu, berdiskusi, menyusun agenda, berbagi informasi, meningkatkan kapasitas, dan membicarakan berbagai persoalan organisasi.

Tidak harus mewah. Yang penting layak, nyaman, terbuka, dan benar-benar berfungsi sebagai ruang bersama.

Sebab sebuah sekretariat yang hidup adalah salah satu tanda bahwa organisasinya juga hidup.

Dari ruang sederhana itu, gagasan-gagasan besar dapat lahir. Dari meja yang sama, perbedaan dapat dibicarakan. Dari pertemuan yang rutin, kebersamaan dapat kembali dibangun.

Karena itu, membenahi sekretariat yang sudah ada semestinya menjadi bagian dari langkah awal kebangkitan PWI Barru.

Mari jadikan sekretariat itu bukan sekadar sebuah ruangan, tetapi simbol kebersamaan. Rumah tempat wartawan Barru kembali duduk satu meja. Rumah tempat gagasan bertemu. Rumah tempat organisasi kembali menemukan denyutnya.

Hampir setahun bukan waktu yang singkat. Tetapi waktu yang telah berlalu tidak harus menjadi alasan untuk berhenti. Saatnya Menentukan Arah. Masih ada ruang untuk mengejar ketertinggalan. Masih ada kesempatan memperkuat kebersamaan. Masih ada waktu menjadikan sisa masa kepengurusan sebagai perjalanan yang meninggalkan karya dan jejak.

PWI Barru memiliki wartawan-wartawan dengan pengalaman, kapasitas, jaringan, dan gagasan. Potensi itu jangan berjalan sendiri-sendiri. Satukan langkah. Hidupkan organisasi.

Jadikan rapat bukan sekadar agenda administratif, melainkan ruang untuk melahirkan gagasan, keputusan, dan kerja nyata.

Sebab pada akhirnya, yang dinilai bukan siapa yang paling sering tampil.

Yang akan dikenang adalah siapa yang hadir dan bekerja ketika organisasi membutuhkan.

Kini PWI Barru berada di sebuah persimpangan. Satu jalan adalah membiarkan waktu terus berjalan seperti sebelumnya.

Jalan lainnya adalah berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah dilalui, mengakui apa yang perlu dibenahi, lalu kembali melangkah bersama.

Pilihan itu masih terbuka.

Belum terlambat kita memulai.

Mari kembali ke rumah.

Mari duduk satu meja.

Mari benahi sekretariat.

Mari hidupkan PWI Barru.

Sebab yang sedang kita jaga bukan semata-mata sebuah kepengurusan.

Yang kita jaga adalah marwah organisasi, profesionalisme, dan kehormatan profesi wartawan di Bumi Colliq Pujie.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat sekaligus mengetuk kesadaran kita bersama untuk kembali menata langkah. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk bersama-sama memperbaiki apa yang masih kurang.

Sebab perjalanan yang baik selalu dimulai dari keberanian untuk berbenah. Dan belum terlambat untuk memulainya.

Salamakki Tapada Salama'. 



*) Penulis adalah Wartawan di Barru

Posting Komentar untuk "Hampir Setahun Berlalu, Saatnya PWI Barru Menata Kembali Langkah"