Oleh: Armin Mustamin Toputiri
AHMAD Eddy Baramuli, lahir 13 Mei 1936. Ia mantan Ketua DPRD Sulsel, tokoh senior Partai Golkar, (adik kandung Ahmad Arnold Baramuli), wafat dan siang tadi jenazahnya dikebumikan di kampung halamannya di Pinrang.
Kepulangannya, menyisih banyak kisah di benak saya sebagai junior. Ia salah satu senior saya segani dan hormati, dulu kala bersesama dalam kepengurusan Partai Golkar Sulsel di bawah kepemimpinan mendiang H.M. Amin Syam.
***
SATU kisah bersamanya, tetiba melintas di benak saya.
Pilpres sistem terbuka -- dipilih langsung oleh rakyat atas amandemen ketiga UUD 1945 tahun 2001 -- kali pertama dihelat di 2004.
Partai Golkar -- pemenang pemilu legislatif 2004 -- lewat mekanisme "konvensi Calon Presiden", mengusung Capres eks-Panglima ABRI Wiranto. Wakilnya Salahuddin Wahid, tokoh NU, adik kandung Abdurrahman Wahid.
Guna memenangkan Wiranto-Wahid, Partai Golkar, membentuk Tim Pemenangan. Senior, wakil ketua DPD Golkar Sulsel, Eddy Baramuli ditunjuk memimpin orkestrasi pemenangan.
***
SEIRING waktu, Capres Wiranto hendak berkunjung ke Sulsel, berkampanye di hadapan massa. Tim dipimpin Eddy, menetapkan tiga titik pusat kampanye, Makassar, Bone dan Pare-Pare.
Sebelum Wiranto datang, di kantor Golkar Sulsel diadakan rapat dipimpin Eddy. Agendanya, membincang soal teknis pelaksanaan kampanye di tiga titik.
Segala urusan teknis disepakati, lancar dan tertib. Namun, urusan penjadwalan di tiga titik kampanye, berlangsung alot dan sengit. Saking serunya, Eddy sekian kali memukul meja, sebentuk ekspresi guna menguatkan argumennya agar diterima peserta rapat.
Satu pihak, mayoritas bertahan. Ingin agar pasca kampanye di Makassar dilanjutkan ke Bone, lalu terakhir ke Pare-Pare,
Pihak kedua minoritas -- Eddy berada di kelompok ini -- sebaliknya, ngotot bahwa pasca kampanye di Makassar, lanjut ke Pare-Pare, dan terakhir di Bone.
Argumen pihak pertama, rasional dibanding pihak kedua. Kampanye terakhir di Pare-Pare (bukan di Bone) guna mempersingkat jalur Wiranto balik ke bandara Hasanuddin untuk lanjut besoknya berkampanye di Gorontalo.
Jauh beda jarak ditempuh, jika kampanye terakhir di Bone. Tapi, serasional apa jua pendapat pihak pertama, Eddy tetap saja bergeming pada pendiriannnya. Bahwa kampanye terakhir di Bone, bukan di Pare-Pare.
Alih-alih, Edy serentak diserang peserta rapat. Dituding otoriter, tak penduli usulan peserta rapat. "Jika keadaannya begini, kita voting saja!" Tegas seorang peserta rapat.
Eddy masih bergeming. Ia tetap pada pendiriannya. "Aakh, tak ada istilah voting dalam rapat kali ini", sigap Eddy Baramuli menimpali dengan nada tinggi.
***
"JIKA kalian tetap saja ngotot, tak mau menerima pendapat saya, silahkan kalian mengaturnya sendiri, saya tak ikut serta" gertak Eddy Baramuli.
"Jangan begitu ketua" ujar seorang peserta rapat. "Seperti telah kita sepakati tadi, Bapak selaku koordinator tim, mesti terbang naik helikopter, mendampingi Capres Wiranto"
Menyimak pendapat terakhir, Eddy naik pitam. "Kalian ini bagaimana sih?" Ujar Eddy dengan nada kesal.
"Bagaimana, apanya ketua?" Tanya satu peserta rapat.
"Persoalan yang itunya..." jawab Eddy.
"Soal itu, apanya....?"
"Soal naik helikopter itu" kata Eddy. Peserta rapat bingung. "Aakh, kalian ini masa tak mengerti maksud saya......" lanjutnya.
Peserta rapat saling pandang. Eddy dengan nada pelan, akhirnya beterus terang. "Masa kalian tak bisa mengeri" kata dia. "Saya ini takut naik helikopter...!"
Ha ha ha... Mendengar keterusterangan Eddy, rapat yang sebelumnya alot dan tegang, justru berbalik arah dipenuhi riuh gelak tawa. Eddy pun ikut tersenyum kecut.
***
EDDY ngotot agar titik pelaksanaan kampanye, pasca Makassar ke Pare-Pare, lanjut terakhir di Bone, tak lain maksudnya jika usulannya diterima, mempermudah jalur baginya untuk menghadiri semua titik kampanye lewat darat, sekalipun Capres Wiranto lewat udara berkendara helikopter.
Menjadi alot, peserta rapat tak tahu apa isi di balik ngototnya Eddy sebagai Ketua Tim. Sisi lain, Eddy tak hendak berterus terang sejak awal. Meski di ujung, Eddy akhirnya menyerah. Ia berterus terang, takut naik helikoptee. Dan rapat, pun akhirnya dipenuhi gelak tawa.
Alhasil, semua makhfum, sepakat pada jadwal yang sejak mula ngotot ditahan dan dipertaruhkan oleh Eddy Baramuli. Dan dari rapat itulah, terungkap jika Eddy Baramuli, pantang naik pesawat selain maskapai Garuda Indinesia.
Dan kini, H. Ahmad Eddy Baramuli telah berada di alam sana. Jazadnya pun telah berkalang tanah, tapi legasinya sebagai tokoh SOKSI, senior Partai Golkar, abadi selamanya. Ila ruhu al Fatihah.
Cikini, 11 Juni 2026
Posting Komentar untuk "Sepenggal Kisah, MENGENANG H. AHMAD EDDY BARAMULI"