Saat Bupati Barru Mendongeng “Nene Pakande”, Menyalakan Cinta Literasi di Hati Anak-Anak



Barru –B88News.id-  Pagi itu Senin 22/6/2026, Baruga Singkeru AdaE di Rumah Jabatan Bupati Barru dipenuhi wajah-wajah kecil yang menyimpan beragam rasa. 

Ada yang tampak percaya diri mengulang-ulang cerita yang telah dihafalnya. Ada pula yang sesekali menatap guru pendampingnya, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang muncul menjelang tampil.

Mereka datang dari tujuh kecamatan di Kabupaten Barru. Bukan untuk mengikuti pelajaran di kelas, melainkan untuk menjadi pencerita. Sebanyak 60 siswa SD dan MI berkumpul dalam Lomba Bertutur Tingkat Kabupaten Barru Tahun 2026, sebuah ruang yang mempertemukan keberanian, imajinasi, dan kecintaan pada budaya dalam satu panggung yang sama.

Satu per satu anak-anak itu nantinya akan berdiri di depan banyak orang, menyampaikan kisah yang selama ini hidup dari generasi ke generasi. Kisah-kisah yang mungkin pernah mereka dengar dari orang tua, kakek, nenek, guru, atau buku-buku yang mereka baca di perpustakaan sekolah.

Di tengah suasana yang hangat itu, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari hadir membuka kegiatan. Namun kehadirannya tidak sekadar untuk meresmikan acara. Ia datang membawa pesan tentang pentingnya menjaga karakter dan budaya melalui cerita.

Baginya, bertutur bukan hanya soal kemampuan berbicara di depan umum. Di dalam setiap cerita terdapat nilai kehidupan yang mengajarkan kejujuran, keberanian, rasa hormat, kerja keras, dan cinta kepada daerah sendiri.

Di hadapan para peserta dan orang tua yang hadir, Andi Ina mengingatkan bahwa anak-anak yang duduk di ruangan itu adalah generasi yang kelak akan menentukan arah masa depan daerah dan bangsa.

"Anak-anak yang hari ini mengikuti lomba adalah generasi yang akan menjadi pemimpin masa depan. Karena itu, sejak dini mereka harus dibekali nilai-nilai kebaikan, pendidikan agama yang kuat, serta rasa hormat kepada orang tua dan guru," ujarnya.

Sesaat kemudian, suasana yang semula formal berubah menjadi lebih akrab. Bupati mulai bercerita tentang masa kecilnya. Tentang bagaimana orang tua menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik sejak dini, tentang pendidikan karakter yang tidak hanya diperoleh di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan sekitar.

Anak-anak mendengarkan dengan saksama. Sebagian tersenyum, sebagian lagi mengangguk pelan, seolah menemukan potongan kisah yang mirip dengan kehidupan mereka sendiri.

Namun momen yang paling membekas justru hadir setelah sambutan selesai. Alih-alih meninggalkan podium, Andi Ina memilih tetap berada di depan anak-anak. Ia kemudian mengajak mereka memasuki dunia dongeng melalui cerita rakyat yang telah lama dikenal masyarakat Sulawesi Selatan, "Nene Pakande".

Dengan suara yang berubah-ubah mengikuti tokoh dalam cerita, disertai gerakan tangan dan ekspresi yang hidup, Bupati seketika berubah menjadi seorang pendongeng.

Baruga yang semula dipenuhi kesunyian perlahan berubah menjadi ruang yang penuh tawa dan antusiasme. Anak-anak terpaku mengikuti alur cerita. Mata mereka berbinar. Beberapa bahkan tampak ikut menirukan ekspresi yang diperagakan sang Bupati.

Tidak ada sekat antara pemimpin daerah dan anak-anak pagi itu. Yang terlihat hanyalah kehangatan seorang ibu yang sedang menyampaikan cerita kepada anak-anaknya.

Di tengah derasnya pengaruh teknologi yang membuat anak-anak lebih akrab dengan layar gawai daripada buku cerita, momen tersebut terasa istimewa. Sebab di hadapan mereka, cerita rakyat kembali hidup. Bukan melalui video atau permainan digital, melainkan melalui tutur kata yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Keceriaan berlanjut ketika seluruh peserta diajak menyanyikan lagu "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat". Suara anak-anak memenuhi ruangan. Mereka bernyanyi bersama, bertepuk tangan, dan menikmati setiap bait lagu yang sarat pesan tentang disiplin, tanggung jawab, dan semangat belajar.

Bagi sebagian orang, lomba bertutur mungkin hanya sebuah agenda tahunan. Namun bagi anak-anak yang hadir hari itu, pengalaman tersebut adalah pelajaran tentang keberanian untuk tampil, kemampuan menyampaikan gagasan, dan kebanggaan terhadap budaya daerahnya sendiri.

Dari panggung sederhana di Baruga Singkeru AdaE, mereka belajar bahwa cerita bukan sekadar rangkaian kata. Cerita adalah warisan. Cerita adalah jembatan yang menghubungkan nilai-nilai luhur dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya.

Dan ketika anak-anak itu berdiri untuk bertutur, sesungguhnya mereka sedang melakukan sesuatu yang lebih besar: menjaga agar warisan budaya tetap hidup, sekaligus menulis kisah mereka sendiri untuk masa depan Barru.(syam) 

Posting Komentar untuk "Saat Bupati Barru Mendongeng “Nene Pakande”, Menyalakan Cinta Literasi di Hati Anak-Anak"