Di tengah kemeriahan Penamatan Santri ke-84 dan Wisuda Ma'had Aly ke-7 Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Ahad lalu, ada satu pemandangan yang berlangsung hanya beberapa detik, namun meninggalkan kesan yang jauh lebih lama daripada rangkaian seremoni yang berlangsung berjam-jam.
Usai menyampaikan sambutan, Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, melangkah mendekati Pimpinan Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Anregurutta Prof. Dr. KH. Muhammad Faried Wajedy. Lc. MA.
Di hadapan ratusan santri, para orang tua, ulama, dan tamu undangan, ia kemudian menundukkan tubuhnya dan dengan penuh takzim mencium tangan sang guru.
Tak ada aba-aba. Tak ada pula skenario yang disiapkan. Semuanya mengalir begitu saja, lahir dari rasa hormat yang tulus. Sejenak, riuh tepuk tangan yang sebelumnya memenuhi ruangan seolah mereda. Mata para hadirin tertuju pada satu pemandangan sederhana yang menyimpan makna mendalam, seorang kepala daerah menunjukkan penghormatan tertinggi kepada seorang ulama dan pendidik.
"Setinggi apa pun jabatan yang diraih seseorang, di hadapan ulama dan guru, ia tetaplah seorang murid. Sebab, kehormatan sejati tidak terletak pada kekuasaan, melainkan pada kerendahan hati dalam memuliakan orang-orang yang telah mengajarkan ilmu dan adab. Karena itu, setinggi apa pun jabatan yang disandang, penghormatan kepada ulama tetap berada di tempat yang paling utama."
Bagi masyarakat pesantren, gestur itu bukan sekadar tradisi. Ia adalah pelajaran tentang adab. Bahwa setinggi apa pun jabatan yang disandang, selalu ada sosok yang harus dimuliakan karena ilmu, keteladanan, dan pengabdiannya.
Sebab, di dunia pesantren, ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi juga diwariskan melalui penghormatan dan keteladanan.
Momen itu menjadi semakin bermakna karena berlangsung di tempat yang selama puluhan tahun telah melahirkan ribuan santri, ulama, dan pemimpin masyarakat.
Di hadapan generasi muda yang baru saja menamatkan pendidikannya, Andi Ina seolah menyampaikan pesan tanpa kata: bahwa keberhasilan dan kekuasaan tidak akan pernah sempurna tanpa kerendahan hati.
Mungkin, bagi sebagian orang, itu hanyalah sebuah cium tangan. Namun bagi para santri yang menyaksikannya, itu adalah pelajaran yang tidak tertulis di dalam kitab maupun buku pelajaran.
Sebuah pelajaran tentang bagaimana ilmu harus melahirkan adab, dan bagaimana seorang pemimpin tetap menempatkan dirinya sebagai murid di hadapan guru.
Di tengah zaman yang serba cepat dan sering kali mengabaikan tata krama, pemandangan singkat di DDI Mangkoso itu seakan mengingatkan kembali bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari jabatan yang dimiliki, tetapi juga dari kerendahan hatinya dalam menghormati orang-orang yang telah menerangi jalan hidupnya.(syam md)
Posting Komentar untuk "Ketika Seorang Bupati Menundukkan Diri di Hadapan Anregututta"