Barru-B88News.id– Suasana haru bercampur bangga menyelimuti pelaksanaan Haflah Qiraatil Kutub Madrasah I'dadiyah Pondok Pesantren DDI Mangkoso di Kampus III Putri Bulu Lampang, Sabtu (27/6/2026).
Momen mengharukan itu terjadi saat seorang ayah, Jamaluddin, berdiri di tengah peserta dan tamu undangan dipersilahkan untuk menguji kemampuan putrinya sendiri dalam menyambung ayat Al-Qur'an.
Di hadapan para santri, guru, dan orang tua yang hadir, Ainun Mahya, santriwati asal Takalar yang lahir di Makassar pada 7 Januari 2013, tampil dengan tenang dan penuh percaya diri. Dengan mikrofon di tangan, ia menjawab setiap sambungan ayat yang dibacakan sang ayah dengan lancar.
Tatapan bangga terpancar dari wajah Jamaluddin. Sesekali senyum haru tak dapat disembunyikannya saat mendengar putrinya mampu menyelesaikan sambungan ayat dengan baik. Tepuk tangan para hadirin pun bergema, menambah hangat suasana yang sarat makna tersebut.
Momen itu menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan di pesantren bukan hanya melahirkan kecakapan ilmu agama, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan dan kebanggaan bagi keluarga.
Bagi seorang ayah, menyaksikan langsung buah hati yang mampu menguasai ilmu Al-Qur'an adalah anugerah yang tak ternilai.
Di tengah pelaksanaan Haflah Qiraatil Kutub, pelukan batin antara ayah dan anak itu terasa lebih kuat daripada kata-kata. Sebuah kebanggaan sederhana, namun begitu dalam. Ketika seorang ayah menguji, dan seorang anak menjawab dengan ilmu, adab, serta keyakinan yang ditanamkan melalui pendidikan pesantren.
Tak sedikit hadirin yang tampak larut dalam suasana haru. Bagi para orang tua yang hadir, momen tersebut seolah menjadi pengingat bahwa setiap doa, perjuangan, dan pengorbanan dalam mendidik anak akan menemukan jawabannya pada waktu yang tepat.
Kebahagiaan seorang ayah hari itu bukanlah karena putrinya tampil di atas panggung, melainkan karena ia menyaksikan sendiri cahaya ilmu yang tumbuh dalam diri anaknya.
Haflah Qiraatil Kutub yang digelar DDI Mangkoso ini pun menjadi lebih dari sekadar seremoni akademik. Ia menjadi ruang perjumpaan antara ilmu, cinta keluarga, dan nilai-nilai pesantren yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di hadapan ratusan pasang mata, Ainun dan ayahnya menghadirkan sebuah pelajaran berharga, bahwa pendidikan terbaik bukan hanya tentang kecerdasan, tetapi juga tentang kebahagiaan orang tua melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak.
Di penghujung sesi, senyum yang terukir di wajah Jamaluddin menjadi potret kebanggaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sebab bagi setiap orang tua, tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain menyaksikan anaknya berdiri tegak dengan ilmu, sementara doa-doa yang selama ini dipanjatkan perlahan menjelma menjadi kenyataan. (syam m djafar)
Posting Komentar untuk "Haru dan Bangga, Ayah Uji Putrinya Sambung Ayat di Haflah Qiraatil Kutub DDI Mangkoso"