Saat Desa Memilih Pemimpin: Ustadz Agus Menitip Pesan tentang Kepemimpinan dan Keikhlasan



25 Mei 2026 menjadi momen bersejarah di Kabupaten Barru karena terlaksananya pemilihan kepala desa serentak di 12 desa,  termasuk di desa Garessi Kecamatan Taneterilau. 

Karena itu melalui tulisan ini, izinkan saya menyampaikan beberapa pesan sebagai orang yang lahir dan besar di desa Garessi Kecamatan Taneterilau Kabupaten Barru dan juga sebagai wujud kecintaan kepada semuanya,  sekaligus harapan untuk desa Garessi dan secara umum Kabupaten Barru yang lebih baik dan lebih bermartabat.

Kepada calon kepala desa terpilih :

Hari ini masyarakat mungkin mengucapkan selamat kepadamu. Mereka datang dengan senyum, doa, dan harapan. Namun ketahuilah, di balik ucapan selamat itu ada amanah besar yang sedang diletakkan di pundakmu.

Jabatan ini bukan sekadar kemenangan. Ia adalah ujian. Banyak orang mampu naik ke kursi kepemimpinan, tetapi tidak semua mampu turun darinya dengan kehormatan.

Karena itu Allah mengajarkan doa:

{ وَقُل رَّبِّ أَدۡخِلۡنِی مُدۡخَلَ صِدۡقࣲ وَأَخۡرِجۡنِی مُخۡرَجَ صِدۡقࣲ وَٱجۡعَل لِّی مِن لَّدُنكَ سُلۡطَـٰنࣰا نَّصِیرࣰا } (QS. Al-Isra : 80)

Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan masuk yang benar, dan keluarkanlah aku dengan keluar yang benar, serta berikanlah kepadaku kekuasaan yang Engkau tolong.”

Kata "mudkhala sidqin" masuk yang benar dan "mukhraja sidqin" keluar yang benar, dimaknai oleh para ulama dengan beberapa penafsiran. Di antaranya :

•  Masuk ke suatu urusan dengan niat yang benar, cara yang benar, dan hasil yang diridhai Allah. 

•  Keluar dari suatu urusan dengan kehormatan, keselamatan, dan tanpa pengkhianatan. 

Ada pula ulama yang menafsirkan ayat tersebut terkait hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah:

•  masuk ke Madinah dengan kemuliaan, 

•  keluar dari Makkah tanpa kehinaan. 

Hanya saja, dengan melihat teks ayat tersebut yang sifatnya umum dan tidak dibatasi pada satu momen tertentu maka maknanya pun bisa bersifat umum, termasuk di antaranya berkaitan dengan kepemimpinan.

Masuk yang benar” berarti memulai amanah dengan niat yang ikhlas, hati yang bersih, dan tekad untuk melayani masyarakat, bukan untuk memperkaya diri atau mencari kemuliaan pribadi.

Keluar yang benar” berarti kelak meninggalkan jabatan dengan kehormatan, tanpa pengkhianatan, tanpa kezaliman, dan dengan doa baik dari masyarakat yang dipimpin.

Sedangkann kalimat "Sulthanan Nashiran" atau kekuasaan yang ditolong dan menolong adalah kekuasaan yang diberkahi Allah; kekuasaan yang digunakan untuk membela rakyat kecil, menegakkan keadilan, menjaga persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi desa.

Karena itu, berkaitan dengan pilkades serentak hari ini, saya mengajak kepada calon terpilih untuk merenungi pesan ayat tersebut. Seolah-olah Allah ingin mengatakan :

Masuklah ke jabatan ini dengan hati yang bersih. Jangan masuk dengan kesombongan.

Jangan masuk dengan dendam politik. Sebab rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara saja.

Rakyat membutuhkan hati yang mau mendengar serta sikap yang membawa keadilan di tengah masyarakat.

Jangan biarkan jabatan membuatmu jauh dari tangisan rakyat kecil.

Jika suatu hari engkau merasa lelah menghadapi masyarakat, ingatlah:

mereka tidak meminta engkau menjadi manusia sempurna.

Mereka hanya berharap engkau tidak melupakan mereka setelah terpilih.

Dan ingatlah…

suatu saat jabatan ini akan selesai.

Nama yang paling dicintai masyarakat bukanlah yang paling lama berkuasa, tetapi yang paling tulus melayani.

Kelak ketika engkau meninggalkan jabatan, semoga yang tersisa bukan kutukan masyarakat, tetapi doa-doa baik dari orang-orang kecil yang pernah engkau bantu.

Dan semoga masyarakat mengenangmu bukan karena baliho dan janji, tetapi karena akhlak dan keadilanmu.

Karena pemimpin sejati bukan yang ditakuti rakyatnya,

melainkan yang kepergiannya dirindukan rakyatnya.

"Memulai jabatan dengan baik itu adalah karunia namun mengakhiri jabatan dengan baik itu adalah kemuliaan".

Pertahankan niat baik, istiqamah dalam kejujuran dan keadilan, maksimalkan pelayanan kepada masyarakat dengan tetap berusaha selalu mendekatkan diri  kepada Allah. Maka di sanalah cinta masyarakat dan ridha Allah engkau dapatkan.

Terakhir, untuk cakon kepala desa terpilih :

Jangan hanya meminta dukungan manusia, tetapi mintalah pertolongan Allah dalam setiap keputusan.

Di antara doa yang baik dibaca oleh seorang pemimpin adalah:

اللَّهُمَّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ، وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ، وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا

Ya Allah, masukkan aku ke dalam amanah ini dengan benar, dan keluarkan aku darinya dengan benar, serta berikan kepadaku pertolongan dan kekuasaan yang Engkau ridhai.”

Juga doa Nabi Musa yang diabadikan dalam al-Qur'an :

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي

Ya Tuhanku, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, lepaskan kekakuan lidahku agar mereka memahami perkataanku.”

Serta doa:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى حَمْلِ الْأَمَانَةِ، وَوَفِّقْنِي لِلْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ، وَاجْعَلْنِي سَبَبًا لِخَيْرِ عِبَادِكَ

Ya Allah, bantulah aku memikul amanah ini, berilah aku taufik untuk berlaku adil dan penuh kasih, serta jadikan aku sebab kebaikan bagi hamba-hamba-Mu.”

Semoga Allah menjadikan kepemimpinan ini sebagai jalan pengabdian, ladang amal saleh, dan sebab hadirnya keberkahan bagi masyarakat dan desa yang dipimpin.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sementara untuk calon kepala desa yang tidak terpilih. Mungkin malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ada harapan yang telah lama dibangun, ada tenaga, waktu, pikiran, bahkan perasaan yang telah dicurahkan sepenuh hati. Tidak sedikit langkah yang ditempuh, tidak sedikit doa yang dipanjatkan. Maka wajar bila hati terasa berat.

Namun percayalah, tidak semua perjuangan harus berakhir dengan jabatan. Ada perjuangan yang Allah abadikan sebagai kemuliaan hati, kesabaran, dan keikhlasan.

Jangan merasa kehilangan kehormatan hanya karena belum terpilih. Sebab kemuliaan seseorang bukan pada kursi yang didudukinya, tetapi pada ketulusan pengabdiannya kepada masyarakat. Bisa jadi hari ini Allah belum memberi amanah itu, karena Allah sedang menjaga hati dan mempersiapkan kebaikan yang lebih besar.

Tetaplah tersenyum kepada masyarakat yang dulu mendukung ataupun yang tidak memilih. Jangan biarkan perbedaan pilihan melahirkan jarak dan luka. Rangkul kembali semuanya, karena setelah pemilihan ini, kita tetaplah saudara yang tinggal di tanah yang sama, minum dari sumber yang sama, dan berharap kebaikan untuk desa yang sama.

Dan kepada para pendukung, mari belajar dewasa dalam menyikapi hasil. Tidak semua yang kita inginkan menjadi takdir kita, tetapi semua takdir Allah pasti mengandung hikmah.

Kadang yang paling indah bukanlah menjadi pemimpin, tetapi menjadi orang yang tetap menjaga persatuan ketika dirinya tidak dipilih.

Semoga Allah mengganti setiap rasa lelah dengan pahala, mengganti kesedihan dengan ketenangan, dan mengganti harapan yang tertunda dengan kebaikan yang tidak pernah disangka-sangka.

Sebagai penutup :

"Bila Allah mewujudkan apa yang kita inginkan berarti Dia merestui keinginan kita. Namun bila Allah tidak mewujudkan keinginan kita maka itu berarti Dia menginginkan kita mengikuti keinginannya. Dan pastinya keinginan Allah jauh lebih baik daripada keinginan kita".

* Prof. (HC) Dr. H. Muhammad Agus. S. Thi. M. Thi (Rektor IAI DDI Mangkoso) 

Posting Komentar untuk "Saat Desa Memilih Pemimpin: Ustadz Agus Menitip Pesan tentang Kepemimpinan dan Keikhlasan"