Rumah Tua, Disini Kami Belajar Menjadi Manusia (Ungkapan Hati Sang Prof.)



Tiba-tiba pagi itu saya meminta anak saya memotret saya di depan rumah tua ini. Rumah sederhana peninggalan bapak dan mama kami. 

Rumah kayu yang mungkin bagi sebagian orang tampak biasa saja, bahkan jauh dari kesan megah. Catnya mulai menua, tangganya menyimpan jejak waktu, dan dinding-dindingnya diam menyaksikan pergantian musim kehidupan.

Tetapi bagi saya, rumah ini bukan sekadar bangunan. Di rumah inilah kehidupan kami dibentuk.

Hampir setiap pekan saya berusaha pulang ke rumah ini. Bukan karena ada kemewahan yang tersisa di dalamnya, melainkan karena ada kerinduan yang selalu memanggil. Saya datang sekadar duduk sejenak, memanjatkan doa, lalu menatap foto bapak dan mama yang tergantung tenang di dalam rumah. Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika memandang wajah keduanya. Seolah rumah ini masih menyimpan suara mereka, nasihat mereka, dan kasih sayang mereka yang tidak pernah benar-benar pergi.

Kadang saya duduk lama dalam diam. Dan dalam diam itu, ingatan saya berjalan jauh ke masa kecil.

Di rumah panggung sederhana inilah kami dibesarkan dengan lima nilai utama kehidupan yang sampai hari ini tetap menjadi pegangan hidup kami: kesederhanaan, sopan santun, penghormatan kepada orang lain, memuliakan guru, dan kebermanfaatan bagi sesama.

Nilai pertama yang ditanamkan bapak dan mama adalah kesederhanaan. Kami diajarkan bahwa hidup tidak perlu dipertontonkan. Bahwa kehormatan seseorang bukan terletak pada apa yang dimilikinya, melainkan pada bagaimana ia menjalani hidup dengan jujur dan bermartabat. Kami tumbuh tanpa kemewahan, tetapi tidak pernah merasa miskin kasih sayang dan pendidikan akhlak.

Bapak dan mama tidak banyak berbicara tentang teori kehidupan, tetapi mereka memperlihatkannya setiap hari. Mereka mengajarkan bahwa tangan yang bekerja keras lebih mulia daripada hidup yang hanya mengejar pujian manusia.

Nilai kedua adalah sopan santun. Di rumah ini kami belajar bagaimana menghormati orang lain, bagaimana berbicara dengan baik, bagaimana menundukkan ego di hadapan orang yang lebih tua, dan bagaimana menjaga lisan agar tidak melukai hati orang lain. Bapak dan mama selalu percaya bahwa pendidikan tinggi tanpa adab hanyalah kesombongan yang dipoles ilmu.

Nilai ketiga adalah penghormatan kepada sesama manusia. Kami diajarkan untuk tidak memandang orang dari jabatan, kekayaan, atau kedudukannya. Di rumah ini kami belajar bahwa setiap manusia harus dihargai karena kemanusiaannya. Tidak boleh merendahkan orang kecil, tidak boleh memandang hina pekerjaan orang lain, sebab hidup setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing.

Nilai keempat yang sangat kuat ditanamkan oleh kedua orang tua kami adalah memuliakan guru. Bapak dan mama selalu mengatakan bahwa guru adalah orang yang membantu membuka pintu masa depan. Karena itu guru harus dihormati, didengar, dan didoakan. 

Mungkin karena itulah dalam perjalanan hidup saya, dunia pendidikan kemudian menjadi jalan pengabdian yang saya tekuni hingga hari ini.

Dan nilai terakhir yang paling sering diulang oleh bapak dan mama adalah kebermanfaatan. Mereka selalu berpesan bahwa sebaik-baik hidup adalah hidup yang memberi manfaat kepada orang lain. 

Tidak perlu menjadi orang besar untuk berguna. Tidak perlu terkenal untuk membantu sesama. Bahkan senyum, nasihat baik, dan kehadiran yang menenangkan bagi orang lain pun adalah bentuk kebermanfaatan.

Hari ini bapak dan mama memang telah wafat. Tetapi sesungguhnya mereka belum benar-benar pergi. Nilai-nilai kehidupan yang mereka tanamkan masih hidup dalam diri anak-anaknya. Rumah tua ini pun seakan menjadi saksi bahwa cinta orang tua tidak pernah selesai sekalipun waktu telah memisahkan.

Ketika saya duduk di tangga rumah ini dan anak saya memotret saya, sesungguhnya yang sedang saya abadikan bukanlah gambar tentang rumah tua. Saya sedang mengabadikan akar kehidupan saya. Tempat di mana saya pertama kali belajar menjadi manusia.

Dan semakin jauh perjalanan hidup membawa saya, semakin saya sadar: sebesar apa pun pencapaian seseorang, pada akhirnya ia akan selalu kembali mencari rumah yang membesarkannya, doa-doa yang menguatkannya, dan wajah orang tua yang paling ia rindukan.

# Ungkapan Hati Prof Dr. H. Kamaruddin Hasan. M. Pd (Rektor ITBA Al Gazali Barru) 

Posting Komentar untuk "Rumah Tua, Disini Kami Belajar Menjadi Manusia (Ungkapan Hati Sang Prof.) "