Ada momen yang tak biasa dalam rangkaian kegiatan kunjungan supervisi KKN Universitas Negeri Makassar (UNM) di Barru, di Baruga Singkerru AdaE Rujab Bupati Barru, Jumat 17/4/2026.
Di tengah forum resmi yang sarat agenda akademik dan pemerintahan, Plt Rektor UNM, Prof. Dr. Farida Patittingi, SH. M. Hum memilih menyampaikan apresiasinya kepada Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, SH. M. Si dengan cara yang berbeda, yaitu melalui sebuah puisi.
Bukan sekadar rangkaian kata, puisi itu menjadi cermin penghormatan terhadap sosok pemimpin perempuan yang dinilai tangguh, tenang, dan konsisten dalam memimpin.
Dengan suara yang mengalir, Rektor UNM membacakan bait demi bait yang menggambarkan perjalanan dan kekuatan batin seorang Andi Ina. Beberapa baik menegaskan cerminan ketangguhan Bupati perempuan pertama di Barru itu.
Puisi Rektor UNM itu datang seperti bisikan pelan, namun menetap.
“Tangannya mungkin rapuh terlihat, tapi di sanalah dunia bertumpu…”
Seolah menggambarkan Andi Ina Kartika Sari dari jarak yang begitu dekat. Sebuah potret tentang kelembutan yang tidak pernah benar-benar lemah. Di tangan yang tampak biasa itu, tersimpan tanggung jawab yang tak ringan tentang harapan masyarakat, tentang masa depan yang terus diperjuangkan.
Lalu puisi itu bergerak, menjadi lebih dalam, lebih perih, sekaligus lebih indah.
“Ia merajut harapan dari luka, menjadi mimpi dari air mata…”
Kalimat ini bukan sekadar metafora. Ia seperti denyut yang menghidupkan perjalanan seorang perempuan yang tidak asing dengan luka. Namun alih-alih tenggelam, ia memilih merajutnya menjadi sesuatu yang lebih utuh, lebih bermakna.
Dari sana, mimpi-mimpi lahir. Bukan mimpi yang mudah, tapi mimpi yang ditempa oleh ketabahan. Ketika keraguan datang, puisi itu tidak menutupinya. Ia justru mengakuinya dengan jujur.
“Ketika dunia meragukannya, ia memilih tetap berjalan. Bukan tanpa takut, melainkan berani meski gentar…”
Di sinilah romantika itu menemukan maknanya, bukan tentang keindahan tanpa cela, tetapi tentang keberanian yang tetap hidup di tengah ketidakpastian. Ada getar, ada ragu, tapi langkah itu tidak pernah benar-benar berhenti.
Dan pada akhirnya, puisi itu memanggil namanya dengan penuh hormat, hampir seperti doa yang lirih:
“ Ibu Andi Ina Kartika Sari… Perempuan tangguh bukan tanpa lelah, bukan pula tanpa air mata…”
Sebuah pengakuan yang membumi. Bahwa ketangguhan bukanlah ketiadaan rasa sakit, melainkan kesediaan untuk tetap berdiri meski hati pernah retak. Bahwa air mata bukan tanda kalah, tetapi bagian dari perjalanan.
Hingga sampai pada satu kalimat yang terasa paling sunyi, sekaligus paling kuat:
“Ia hanya tahu satu hal: berhenti bukan pilihan…”
Kalimat itu seperti janji yang tidak diucapkan keras-keras, tapi terus dipegang erat.
Dan kemudian, seperti senja yang pelan-pelan turun, puisi itu menutup semuanya dengan sebuah senyum:
“Dan saat ia tersenyum, ia bukan karena segalanya mudah, melainkan karena ia telah menaklukkan dirinya sendiri…”
Senyum itu menjadi romantika paling utuh tentang perjuangan yang tidak selalu terlihat, tentang kemenangan yang tidak perlu dirayakan dengan gemuruh.
Di antara luka dan senyum itu, Andi Ina tidak hanya menjadi pemimpin. Ia menjelma cahaya yang lahir dari keteguhan, dan tetap bersinar, bahkan ketika dunia sempat meredupkannya.
Posting Komentar untuk "Puisi untuk Bupati: Cara Rektor UNM Membaca Ketangguhan Andi Ina"