Kartini dan Nike Ardilla: Sang Pendobrak

                    Oleh: Sudarto
     (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri                Makassar)

Di tengah hirukpikuk zaman, ketika layar ponsel berdesing tanpa henti dan kehebatan seserang algoritma yang tentukan, kisah dua perempuan dari dua masa yang berbeda selalu menyentuh dada begitu dalam dan mengharukan: Raden Ajeng Kartini dan Raden Rara Nike Ardilla sang pahlawan. Mereka tak lahir di satu zaman, tetapi darah perjuangan dan luka yang mereka tanggung seolah berpadu menjadi satu suara yang sama bertautan: suara perempuan Indonesia yang berani mendobrak dinding perbatasan: bermimpi, menangis, lalu bangkit dengan kepala tegak, penuh adab dan iman.

Kartini, perempuan muda dari Jepara yang hidup di zaman kegelapan adat yang membelenggu perempuan, memilih pena sebagai pedang untuk berjuang. Dalam bilik rumah yang mewah namun sempit, ia menulis suratsurat yang tak pernah ia kira akan menjadi inspirasi besar bagi generasi setelahnya dan menjadi nafas yang panjang. Ia menulis tentang kegelisahan, tentang keinginan untuk belajar, tentang keinginan untuk melihat perempuan bebas menentukan nasibnya sendiri dan oleh belenggu adat tak jadi penghalang. 

Di tengah masyarakat yang menuntut perempuan diam, menunduk, dan menikah begitu usia “cukup”, Kartini berbisik dalam hati: “Mengapa aku tidak boleh seperti adikadik lelakiku tersayang?”
Pertanyaan itu sederhana, namun dari situlah lahir gempa : gempa kecil yang mengguncang dinding pengabdian tak berujung, pernikahan paksa yang bersandung, dan dunia yang menyangka perempuan hanya terbuat dari kain kafetaria dan kebisuan yang tak berujung. Kartini tak pernah bisa merasakan kemerdekaan luas seperti yang kita nikmati sekarang. Ia lahir dan wafat sebelum Indonesia merdeka, sebelum Republik ini bernapas bebas lapang. Namun, rohnya mengalir dalam setiap kelas yang kita masuki, dalam setiap perempuan yang berani menegakkan kepalanya dan berkata lantang, “Aku ingin belajar, aku ingin punya pilihan, aku ingin disayang dan memberi kasih sayang.”

Lalu, di masa yang jauh lebih modern, di tengah gemerlap lampu panggung dan dentuman kaset atau disk yang menari dari recorder tua, muncullah seorang perempuan yang bertaruh dengan mimpi: Nike Ardilla, atau biasa dipanggil lengkap Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi. Ia bukan lahir dari keluarga hartawan, bukan juga berasal dari kehidupan yang gemerlapan. Ia putri dari Jawa Barat, yang tumbuh di tengah rindu dan ketidakpastian. Namun, dalam suaranya yang lantang dan sensitif menerawang, ada getaran hati yang tak bisa dipalsukan : getaran seorang perempuan yang terus berjuang walau sendirian, menabrak batas pembicaraan, menanggung gosip dan sindiran, serta menelan ejekan, hanya untuk bisa bernyanyi dengan elegan, untuk bisa berkata, “Aku ada di sini untuk kalian.”

Nike Ardilla tak pernah memakai seragam prajurit sebagai pejuang. Ia hanya memakai jeans, jaket, dan rambut yang diikat dengan semangat yang tak pernah terbendung. Namun, di balik tatapan tajamnya yang often times menakutkan tersimpan cerita yang panjang dan luka yang dalam: luka seorang anak perempuan yang terbuang, luka seorang gadis yang dituduh tak beralasan, luka seorang artis yang dicap “nakal” hanya karena ia berani mengungkapkan perasaan cinta dan keputusasaan lewat lirik lagu yang membuat bimbang kadang. Ia bernyanyi tentang kehilangan, tentang kegelisahan, tentang keberanian untuk pergi ketika cinta sudah tak lagi menyembuhkan dan memberi kasih sayang. Dalam banyak lagunya, para perempuan Indonesia menemukan suara mereka yang selama ini tertelan oleh kebisuan : suara yang sangat penuh makna dan keagungan.

Jika Raden Ajeng Kartini berbicara dengan pena di tengah ruang terbatas di zaman kolonial yang serba kasar, Raden Rara Nike Ardilla berbicara dengan suara menggelegar yang memecah udara ruang keluarga besar, mahasiswa kost di dalam kamar, dan lapak penjual kaset atau disk di pinggir trotoar. Mereka sama: keduanya menolak diam walau tetap sabar. Keduanya menolak didefinisikan hanya oleh status pihak luar, oleh pernikahan yang digelar, dan oleh celaan masyarakat yang tak berdasar. Mereka berdua punya mimpi yang sangat besar tak kenal pembatas pagar: Kartini memimpikan perempuan bersekolah sampai kelar, menulis dan bernalar, menjadi istri shalehah dan penyabar, dan berpikir logis dengan ajaran islam sebagai dasar; Nike bermimpi besar : bisa bernyanyi penuh mercusuar, diterima dari dalam sampai luar, dan diakui sebagai sosok yang berhak mengemukakan isi hati yang selalu berdebar  lewat musik dan lagu tanpa kasar untuk kemajuan perempuan dan bangsanya yang besar, walau harus menangis dengan air mata berderai di pipi menebar.

Ada satu kesamaan yang paling mengiris: keduanya pergi di usia muda, meninggalkan dunia yang belum sepenuhnya siap untuk menerima dan melepaskan mereka. Kartini wafat di usia 25 tahun, setelah pernikahan yang tak pernah ia duga, setelah perjuangan yang tak pernah ia lihat berbuah langsung. Namun, di dalam kamarkamar kecil sekarang, nama Kartini menjadi doa bagi anak perempuan yang belajar membaca dan menulis : mereka adalah generasi yang menikmati kemerdekaan yang tak pernah Kartini rasakan sendiri.
 Nike Ardilla wafat di usia hampir 20an, tepat di puncak kejayaan, di saat suaranya paling didengar dan hatinya paling disentuh. Tapi sejak luka itu, kasetnya tak pernah benarbenar berhenti berputar: di salon potong rambut, di angkutan kota, di warung kopi, dan kamarkamar kost mahasiswa, suaranya terus mengalun, memecah kerinduan, seolah mengingatkan kita bahwa seorang perempuan tak perlu menunggu pengakuan siapa pun untuk mengejar mimpi dan membangun.

Kartini dan Nike Ardilla bukan sekadar nama di buku sejarah atau di daftar lagu di YouTube dan TikTok. Mereka adalah simbol dua bentuk perjuangan perempuan Indonesia yang top: yang satu lewat gagasan dan tulisan yang mengubah cara pandang masyarakat, yang satunya lagi lewat suara dan jiwa yang menggetarkan hati masyarakat. Mereka mengajari kita bahwa perempuan tidak harus selalu elok, apalagi minder, dan tunduk pada aturan yang membelenggu kemajuan. Mereka boleh menangis, tetapi tidak boleh berhenti bergerak untuk pencapaian. Mereka boleh terjatuh, tetapi tak perlu menyerah, dan selalu bangkit lagi dengan penuh harapan.

Dalam hati sebagian besar perempuan Indonesia, ada bayangbayang Kartini: perempuan yang berani menuntut pendidikan, dan bayangbayang Nike Ardilla: perempuan yang berani menuntut cinta dan kebebasan hati. Mereka adalah dua sosok yang, meski dari latar belakang dan zaman yang berbeda, samasama mengajarkan satu hal: perempuan tak perlu takut berjuang untuk menemukan jati dirinya dan memajukan bangsanya.

Saat suara Nike Ardilla membelah udara dengan lirik yang seakan menggenggam hati, dan saat kita membaca surat Kartini yang penuh harapan dan kegelisahan, terdapat getaran yang sama di dada. Ada rasa haru yang tak bisa dijelaskan dengan logika: rasa haru pada seorang perempuan yang berani menulis, berani bernyanyi, dan berani menangis di depan dunia tanpa malu dan iba. Mereka adalah pelita yang dulu menyala di tengah kegelapan, dan kini cahaya itu semakin terang : tidak di dalam ruang, tetapi di dalam hati jutaan perempuan dan juga lakilaki yang terinspirasi oleh keberanian mereka.

Ketika kita mengenang Kartini, kita tak hanya mengenang seorang putri yang ditawan oleh keterbelengguan. Ketika kita mengenang Nike Ardilla, kita tak hanya mengenang seorang penyanyi yang jatuh tragis di tengah jalan beraspal. Kita sebenarnya sedang mengenang seluruh perempuan Indonesia yang berdiri di antara nestapa dan harapan, di antara ketakutan dan keberanian, di antara celaan dan pujian. Mereka adalah cermin: cermin yang jujur, yang menunjukkan betapa rapuhnya kita, tetapi sekaligus betapa kuatnya kita untuk menolak menyerah.

Maka di hari ketika dunia merayakan atau hanya sekadar mengingat Kartini, dan di saat sebuah lagu Nike Ardilla tak sengaja mengalun dari radio tua atau You Tube dan merasuk ke dalam raga dan jiwa, biarkanlah air mata mengalir berderai, biarkanlah hati teriris rindu dan pilu. Karena air mata dan kepiluan itu bukan tanda kelemahan, tetapi pengakuan bahwa kita masih memiliki rasa kemanusiaan yang peka terhadap perjuangan perempuan. Kartini dan Nike Ardilla mungkin telah pergi untuk selamanya, tetapi getaran hati mereka tetap berada di antara kita : menyemangati setiap perempuan yang berdiri di hadapan cermin dan berkata pada dirinya sendiri, dengan suara yang pelan namun tegas: “Aku boleh berbeda. Aku boleh berjuang. Aku boleh menangis, tapi aku tidak boleh berhenti.” Dan, di dalam kalimat itu, terdapat jiwa Kartini dan Nike Ardilla yang terus menyala dan bersinar: menerangi perempuan Indonesia dan Ibu Pertiwi.

Posting Komentar untuk "Kartini dan Nike Ardilla: Sang Pendobrak"