Ada yang selalu terasa berbeda ketika sebuah pernikahan digelar dalam balutan adat. Ia bukan sekadar seremoni, melainkan pertemuan nilai, penghormatan, dan kehangatan yang mengikat banyak hati dalam satu ruang kebahagiaan.
Suasana itulah yang menyelimuti pernikahan Muhammad Reza Abubakar, S.E., putra kedua Abubakar, S.Sos., M.Si., Pj. Sekda Barru, dan Amaliah Arifin, S.Tr.Keb., yang resmi mempersunting Kemala Dewi, S.Pd., putri kedua Abdul Kadir, S.Sos., S.Pd., dan Abidah Djuhaeni, di Gedung Islamic Center Barru, Jumat, 10/4/2026.
Balutan busana adat Bugis yang dikenakan kedua mempelai memancarkan keanggunan sekaligus menjadi penanda kuat bahwa tradisi tetap hidup dan dijaga. Setiap detail dari ornamen hingga perhiasan mengandung makna tentang kehormatan, harapan, dan doa bagi kehidupan baru.
Di tengah momen sakral itu, kehadiran Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, menjadi bagian dari hangatnya kebersamaan. Ia hadir bukan semata sebagai kepala daerah, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar yang turut berbagi doa dan kebahagiaan.
Bupati Andi Ina tampak anggun mengenakan gamis modern bernuansa terang dengan motif floral yang lembut, dipadukan dengan hijab senada yang memperkuat kesan elegan dan bersahaja.
Sementara itu, sang suami, Muhammad Yulianto Badwi yang akrab disapa Puang Anto, tampil berwibawa dalam balutan kemeja batik bermotif klasik bernuansa gelap.
Keduanya terlihat berjalan berdampingan di tengah para tamu undangan, menghadirkan potret keharmonisan yang sederhana namun hangat. Bukan sekadar serasi dalam balutan busana, tetapi juga dalam kebersamaan yang terpancar dari senyum dan sapa yang mereka bagikan.
Di sisi lain, Abubakar dan keluarga tak mampu menyembunyikan haru yang berpadu dengan bahagia. Setiap sapaan hangat, jabat tangan, dan percakapan ringan menjadi bukti bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi juga pengikat silaturahmi yang lebih luas dari dua keluarga besar.
Kehadiran para tamu, termasuk jajaran pejabat pemerintah daerah, tokoh masyarakat bahkan mantan-mantan Bupati semakin menegaskan bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang layak dirayakan bersama. Dalam kebersamaan itulah, nilai kekeluargaan menemukan maknanya, saling mendoakan dan saling menguatkan.
Pernikahan ini menjadi lebih dari sekadar hari bahagia bagi kedua mempelai. Ia adalah pengingat bahwa di tengah dinamika kehidupan, selalu ada ruang untuk merayakan cinta, merawat tradisi, dan mempererat kebersamaan.
Dan di Barru, hari itu, cinta dan adat berjalan beriringan, mengikat bukan hanya dua hati, tetapi juga banyak kisah dalam satu kehangatan yang tak terlupakan. (syam m. djafar)
Posting Komentar untuk "Di Balik Balutan Adat, Hangatnya Kebersamaan di Pernikahan Reza Abubakar"