Dari Jepara Sampai Luwu: Kartini dan Emmy Saelan, Dua Bunga Abadi dari Tanah Air Pengukir Melodi Perjuangan


        Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP                     Universitas Negeri Makassar)

Di bawah langit biru Indonesia yang tak pernah pudar, dua wanita lahir dari rahim waktu yang berbeda, namun terikat oleh benang merah yang sama: semangat tak kenal lelah untuk membebaskan kaumnya dari belenggu ketidakadilan. Raden Ajeng Kartini, putri bangsawan Jawa yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, tumbuh di tengah aroma kayu jati dan hembusan angin pantai utara Jawa yang membawa bisik-bisik laut. Ia adalah anak ketiga dari Pangeran Sosroningrat, bupati yang mulia, dikelilingi buku-buku Belanda dan mimpi-mimpi besar yang terpendam di balik tenunan kain kebaya.

Sementara itu, di ujung timur nusantara, di Desa Malangke, Luwu, Sulawesi Selatan, lahir Salmah Soehartini Saelan, yang lebih dikenal sebagai Emmy Saelan pada tanggal 15 Oktober 1924. Bukan dari istana, melainkan dari tanah merah yang subur, di antara sawah hijau dan pegunungan yang menjulang gagah perkasa, ia dibesarkan dalam keluarga sederhana yang mencintai kedamaian, jauh dari gemerlap keraton, dekat dengan deru derasnya ombak Selat Makassar.

Perbedaan kelahiran mereka seperti dua nada dalam simfoni kehidupan: Kartini mekar di taman elit kolonial yang sangat menekan, di mana pengetahuan Eropa bertemu tradisi Jawa yang kaku dan selalu membeda-bedakan antara laki dan perempuan, sementara Emmy Saelan bertunas di ladang perjuangan rakyat kebanyakan, di mana angin perang dunia kedua sudah mulai mengguncang bumi Indonesia yang tak terelakkan. Kartini terikat pingitan di dinding berbambu bagian pinggiran menjadi saksi bisu tangisnya yang haus akan ilmu dan kemajuan, sementara Emmy Saelan, generasi setelahnya yang datang kemudian, menghadapi tembakan nyata musuh di medan perang dengan peluru berdesingan. Namun, di balik perbedaan itu, keduanya menyemai warna unik perjuangan yang tak terpisahkan: Kartini dengan pena yang menusuk hati penjajah melalui surat-suratnya yang berderetan, Emmy Saelan dengan tangan lembut perawat yang berubah menjadi pedang di genggaman pejuang di atas medan. 

Mereka bukan sekadar wanita sembarangan; mereka adalah api yang menyala di dua zaman, menerangi jalan bagi generasi perempuan Indonesia yang kelak akan bangkit melanjutkan apa yang mereka perjuangkan.

Bayangkan Kartini di kamar kecilnya yang pengap, malam-malam panjang di mana lilin menyala redup, mencurahkan isi hatinya ke atas kertas dengan tinta celup. Dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang", buku habitasi surat-suratnya yang diterbitkan pasca wafatnya pada tahun 1904 menyebar ke seluruh bumi bagai uap, ia menangis lantang atas nasib perempuan Jawa yang terkurung keterbelengguan adat dan jauh dari makeup. "Saya ingin perempuan kita bebas, saya ingin perempuan belajar, saya ingin perempuan berdiri sejajar dengan laki-laki dalam meraih ilmu dan perjuangan," tulisnya dengan tinta yang basah oleh air mata berderai penuh ratap.

Pemikirannya tentang emansipasi bukan sekadar kata-kata untuk diucap; itu adalah jeritan jiwa yang menuntut pendidikan bagi perempuan agar semakin cakap, hak untuk memilih jodoh bukan karena terperangkap, dan kehormatan dalam rumah tangga yang saling menganggap. Bagi Indonesia, Kartini melihat bangsa yang kuat lahir dari rakyat yang cerdas dan tanggap, di mana perempuan bukan budak tradisi yang tak dianggap, melainkan pilar bangsa dimana kemajuan tersingkap. Ia membayangkan negeri di mana anak perempuan bisa bersekolah, bisa membaca, dan bisa bermimpi tak berbatas dengan jiwa yang mantap. Nilai-nilainya bisa ditangkap: keberanian, intelektual, cinta pada tanah air, dan keyakinan bahwa perubahan dimulai dari dalam menjadi fondasi gerakan perempuan Indonesia modern yang selalu up. Ia adalah pelopor untuk keluar dari keterbelengguan sebagai perangkap, yang dengan suara lembutnya lewat surat mengguncang fondasi kolonialisme yang sangat biadab, membuka pintu bagi jutaan wanita Indonesia untuk melangkah keluar meninggalkan kegelapan menuju dunia yang semakin beradab.

Kini, kita alihkan pandangan ke Emmy Saelan, putri pejuang dari Luwu Raya yang hatinya sekeras batu karang Makassar di dalam medan. Lahir dua puluh lima tahun setelah Kartini meninggalkan, Emmy Saelan tumbuh di era di mana Indonesia baru saja meraih kemerdekaan, tapi Belanda masih haus darah anak bangsa dan ingin kembali melanjutkan penjajahan. Sebagai perawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar yang selalu penuh pasien, ia merawat luka pejuang dengan tangan penuh kasih dan belaian, membersihkan darah dan menyembuhkan jiwa yang remuk karena peperangan. Tapi, perjuangan tak berhenti di ranjang pasien. Pada tahun 1946, ia bergabung dengan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) untuk terjun ke medan pertempuran, memimpin laskar wanita di luar dugaan, membawa obat-obatan di pundaknya sambil menggenggam senjata dan tasbih di tangan. Ia bertempur di garis depan, menghadapi pasukan KNIL/NICA yang kejam tak kenal ampun, dengan api semangat yang sama membara seperti Kartini menghadapi adat pingitan.

Emmy Saelan bukan menulis surat seperti yang Kartini lakukan; ia adalah pahlawan medan tempur yang menyandang senapan. Pada tanggal 21 Januari 1947, di pantai Kassi-Kassi dekat Makassar kota  nelayan, saat terkepung musuh bebuyutan, ia memilih meledakkan granat di dadanya daripada menyerah pada Belanda yang akan melanjutkan penjajahan. "Lebih baik mati daripada menjadi budak penjajah kesetanan!" jeritnya dalam hati yang tak tergoyahkan, mengorbankan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan. 

Perbedaan dengan Kartini begitu nyata dalam pandangan: satu berjuang dengan kata-kata di kertas bertuliskan perjuangan, yang lain di pasir pantai dengan darah  berlumuran. Tapi, warna perjuangan mereka sama indahnya nian: dedikasi total untuk Indonesia modern dan kaum perempuan. Emmy Saelan membuktikan bahwa perempuan Sulawesi Selatan tak kalah gagah dari pria pejantan, bahwa tangan yang merawat bisa menjadi tangan yang memegang senapan, bahwa keberanian fisik adalah bentuk cinta tanah air yang tak ternilai sepanjang zaman. Nilai pemikirannya yang bisa jadi pelajaran? Bahwa perempuan adalah pelindung negeri tak terkecualikan, pelopor  perang di atas medan, dan simbol ketangguhan yang tak tergoyahkan. Ia gugur di usia 22 tahun, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang tertuliskan, dimana namanya terbisikkan abadi lewat monumen dan nama jalan.

Kartini dan Emmy Saelan, dua bunga teratai dari tanah yang berbeda, sama-sama pelopor wanita Indonesia. Kartini membuka gerbang pendidikan kaumnya, menabur benih emansipasi yang kini berbuah sekolah-sekolah perempuan yang melahirkan pemimpin wanita di dunia pendidikan, parlemen dan pemerintahan. Emmy Saelan meneruskan api itu di medan perang, menunjukkan bahwa perjuangan fisik dan spiritual tak terpisah, tapi saling menguatkan, bahwa perempuan bisa jadi pahlawan nasional dengan nyawa sebagai taruhan. Keduanya mengajarkan nilai yang agung: keberanian untuk melawan ketidakadilan, cinta tak bersyarat pada Indonesia di sepanjang zaman, dan bahwa perempuan adalah setengah langit yang menyangga bumi sebagai keyakinan. Di era di mana perempuan Indonesia kini terbang tinggi tak terkalahkan : dari pilot dan angkatan hingga senat, menteri dan presiden, mereka adalah akar pohon beringin yang kokoh dan tangguh tak terpatahkan.

Bayangkan jika mereka bertemu di alam abadi: Kartini dengan senyum lembutnya akan memeluk Emmy, berkata, "Kau Emmy, telah mewujudkan mimpiku dengan darahmu yang memasahi pantai pertiwi." Emmy akan balas, "Engkau, Kartini, kakakku telah menyalakan apiku dengan penamu yang menari." Air mata kita mengalir saat ini, karena kisah mereka bukan sejarah mati; itu adalah darah pada diri kita yang mengalir di pembuluh nadi. Di Hari Kartini setiap tanggal 21 April, ingatlah bukan hanya putri Jepara, tapi juga putri Luwu yang gugur di pantai keabadian. Mereka adalah melodi perjuangan yang tak pernah usai, menyanyikan lagu kemerdekaan bagi setiap perempuan Indonesia. 

Jangan biarkan api mereka padam; biarkan ia membakar jiwa kita untuk terus berjuang, seperti mereka: dengan hati yang penuh cinta, tangan yang tak kenal menyerah, dan mimpi yang abadi untuk tanah air tercinta: Indonesia yang semakin terbang tinggi.

Posting Komentar untuk "Dari Jepara Sampai Luwu: Kartini dan Emmy Saelan, Dua Bunga Abadi dari Tanah Air Pengukir Melodi Perjuangan"