Agar Ramadhan Tidak Pergi Meninggalkan Kita

     Oleh : Sudarto (Dosen PGSD FIP                    Universitas Negeri Makassar)

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, di mana waktu berlalu begitu cepat seperti angin musim panas yang membara, umat Islam dihadapkan pada panggilan suci: bagaimana menjadikan seluruh bulan dalam tahun Hijriah sebagai bulan Ramadhan yang penuh berkah? Bukan sekadar menunggu datangnya Syawal dengan kegembiraan Idul Fitri, melainkan meramadhankan setiap hari, setiap malam, setiap napas sehingga Ramadhan tidak pernah meninggalkan kita. 

Jika Ramadhan adalah sekolah taqwa, mengapa tidak menjadikan 354 hari tahun Hijriah sebagai kelas abadi yang membentuk jiwa saleh, di mana setiap detik menjadi pelajaran rahmat yang mengalir lembut seperti embun pagi menyentuh kelopak mawar di taman surga?

Meramadhankan seluruh bulan berarti menjaga sikap spiritual seperti saat menahan lapar dan dahaga di siang hari Ramadhan, di mana matahari membakar kulit tapi hati tetap dingin bagai air zamzam yang jernih. Bayangkan, puasa bukan hanya menahan makanan dan minuman, tapi juga menahan amarah yang membara seperti bara api di dada, si singa liar yang mengaum menantang kesabaran. Dalam Al-Qur'an yang indah bagai simfoni langit, Allah SWT berfirman, "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (QS. Ali Imran: 134). 

Di bulan Ramadhan, kita belajar meredam ledakan emosi saat lapar menyerang atau godaan dunia menghampiri seperti ombak ganas menyapu pantai. Lalu, bagaimana menerapkannya sepanjang tahun, dari hembusan angin Syawal hingga hening Muharram? Kita mulai dengan latihan sederhana: saat kemarahan muncul, mungkin karena kemacetan lalu lintas di jalan raya yang panjang tak berujung, perdebatan keluarga yang memanas, atau teman yang menyakiti : ambil napas dalam seperti hembusan subuh Ramadhan, ingat puasa yang pernah kita lalui, dan katakan dalam hati, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Amarah yang ditahan bukanlah kekalahan, melainkan kemenangan atas nafsu amarah yang menjadi pintu pertama menuju neraka, membuka jalan bagi sungai ampunan yang mengalir deras ke samudra rahmat Ilahi.

Lebih dari itu, aliran spiritual ini mengalir ke menjaga makan dan minum, yang bukan hanya ritual fardhu di Ramadhan tapi gaya hidup sehat yang menjadikan tubuh sebagai baitullah yang suci dan terawat selama sebelas bulan di luar Ramadhan. Saat imsak menyelimuti malam, kita belajar menghargai setiap suap nasi hangat, setiap teguk air putih yang disyukuri bagai nikmat langit pertama kali turun ke bumi. Sepanjang tahun, kita terapkan prinsip ini dengan makan secukupnya, menghindari israf (pemborosan) yang dilarang Allah dalam QS. Al-A'raf: 31, "Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebih-lebihan (boros)." 

Di era fast food yang menggoda seperti ilusi setan dan minuman manis berlebih yang meracuni darah, meramadhankan bulan berarti memilih makanan halal thayyib : sayur segar yang hijau seperti taman Eden, buah-buahan manis alami bagai madu lebah Jinan, dan protein sederhana yang disertai doa panjang seperti doa berbuka Ramadhan. Kita hindari makan malam larut yang merusak ritme tubuh seperti jam pasir yang terganggu angin, kita gantikan dengan sahur spiritual: bangun malam bertahajud, sujud panjang di sajadah terhampar yang menyimpan rahasia malam-malam suci, lalu kita santap hidangan ringan sambil melantunkan hamdalah.

 Dengan demikian, tubuh bukan lagi budak nafsu yang haus tak terkendali, tapi alat halus untuk mendekat kepada Sang Pencipta, bergerak ringan bagai burung elang melayang di angkasa iman.
Konsep meramadhankan seluruh bulan tahun Hijriah pun mengalir mulus ke penjagaan lisan dari ghibah dan fitnah, seperti saat Ramadhan di mana kita selalu berusaha menahan ucapan sia-sia, menjadikan kata-kata sebagai mutiara bukan duri berdarah. Rasulullah SAW, cahaya yang menyinari kegelapan zaman, mengingatkan, "Barangsiapa yang berpuasa, maka puasanya tidak sah jika ia tidak menjauhkan diri dari perkataan sia-sia" (HR. Bukhari-Muslim).

 Sepanjang bulan-bulan Syawal yang riang bagai tarian angin, Dzulqa'dah yang tenang seperti danau pegunungan, hingga Muharram yang suci penuh asyura, kita jadikan setiap percakapan sebagai amal shaleh yang abadi : bukan gosip remeh yang menguap seperti asap, tapi diskusi ilmu yang membangun jembatan hati, berbagi ayat Qur'an yang bergema lembut, atau senyum tulus yang melelehkan es permusuhan antar saudara. Di negeri kita yang masjidnya berdiri megah seperti permata di dada Nusantara, kita hijrah dari kerumunan warung kopi ke masjid-masjid dengan menggaungkan majelis tadarus dan muhasabah umat. Media sosial kita ubah menjadi sungai dakwah, sehingga lisan menjadi kuda jinak yang membawa kita ke ridha  Ilahi.

Tak lupa, shalat lima waktu yang menjadi tiang agama, dirutinkan seperti tarawih Ramadhan yang khusyuk bagai tarian jiwa di hadapan sang Kekasih. Di bulan “suci”, kita bangun untuk witir dan tahajud, merasakan manisnya iman yang meleleh di dada seperti madu murni. Untuk meramadhankan seluruh tahun, kita bangun secara rutin untuk shalat malam secara bertahap, mulai dari dua rakaat isya sunnah yang hangat menyapa jiwa lelah, tambah hingga delapan rakaat seperti qiyamul lail yang menari di kegelapan malam, membuka gerbang rahmat bagai pintu surga yang terbuka lebar. Di pedesaan sunyi atau hiruk-pikuk kota besar, lita saksikan adzan sebagai simfoni pagi, sajadah menjadi pelabuhan aman, dan sujud panjang menjadi pelukan abadi kepada Ar-Rahman.

Zakat dan sedekah pun menyatu dalam prinsip ini, mengalir seperti sungai emas dari langit Ramadhan ke tanah Hijriah penuh. Infak harian dua setengah persen untuk yang membutuhkan, tambah sedekah waktu silaturrahmi ke handai tolan, atau berbagi nasi di pinggir jalan yang ramai. Komunitas masjid menjadi jantung denyut, arisan ibadah menyatukan hati seperti benang sutra tak terputus. Tantangan godaan dunia diatasi muhasabah senja, istighfar malam yang membersihkan jiwa bagai hujan deras.

Hanya jika seluruh bulan diramadhankan, Ramadhan sejati berhasil dalam pelukan, jiwa terukir taqwa abadi terpatrikan. Seperti kurma berbuah lebat  di setiap pohon, kita sebagai umat subur akan iman. Insya Allah surga dan ridho-Nya jadi balasan.

Posting Komentar untuk "Agar Ramadhan Tidak Pergi Meninggalkan Kita"