Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi
Ada sebuah ruang di kedalaman dada kita yang tidak pernah terjamah oleh riuh rendah dunia. Sebuah ruang sunyi bernama kalbu, yang seringkali kita biarkan tak terawat, pengap, dan perlahan kehilangan cahayanya.
Di sana, tertumpuk sisa-sisa luka, dendam yang mengering, serta jelaga dosa yang kita kumpulkan tanpa sengaja dari langkah-langkah yang terlampau jauh mengejar bayang-bayang.
Lalu, Ramadhan datang membawa Rahmat Ilahi seperti sinar matahari yang menyelinap masuk melalui celah-celah pintu yang telah lama terkunci.
Inilah waktunya kita berhenti berlari. Kita duduk bersimpuh, memegang kuas kejujuran, dan mulai melukis. Puasa yang kita jalani adalah cara kita membasuh kanvas jiwa yang kotor dengan air mata tobat. Setiap rasa lapar yang merayapi perut adalah pengingat bahwa jiwa kita jauh lebih lapar akan ridha-Nya.
Setiap huruf Al-Qur’an yang kita eja dengan terbata-bata adalah goresan cahaya perak yang mulai mengusir pekatnya malam. Dan dalam sujud-sujud panjang di penghujung malam, kita sebenarnya sedang menghancurkan dinding-dinding ego yang selama ini menghalangi masuknya Nur (Cahaya) Allah ke dalam hati.
Melukis cahaya di ruang gelap kalbu bukanlah tentang menjadi sempurna dalam semalam. Ini adalah tentang keberanian untuk mengakui bahwa kita rapuh, lalu membiarkan tangan Tuhan menuntun kita kembali ke jalan pulang. Hingga akhirnya, saat Ramadhan berpamitan, kita tidak lagi membawa hati yang sama. Kita membawa sebuah ruangan yang telah terang, di mana di dalamnya hanya ada cinta, kedamaian, dan bayang-bayang-Nya yang menetap abadi.
07 Ramadhan 1447 H / 25 Pebruari 2026 M
Posting Komentar untuk "Melukis Cahaya di Ruang Gelap Kalbu"