Oleh: Sudarto (Dosen Universitas Negeri Makassar, FIP Jurusan PGSD)
Bayangkan seseorang melaju kencang di motor, angin semilir datang, tiba-tiba rem blong dan jatuh terjerembab di aspal panas. Sakitnya menusuk tulang, darah mengucur, tapi pelajaran datang: hati-hati, jangan sombong berkendara. Atau panjat pohon mangga, tergelincir, badan membentur tanah keras. Rasa perih campur malu. Dari atap rumah memperbaiki genteng, tergelincir, pinggang retak, istirahat berminggu-minggu. Kejatuhan fisik begitu menyakitkan, tapi ada yang lebih dalam lagi: jatuh dari jabatan tinggi, reputasi hancur oleh berita palsu, nama baik tercoreng skandal.
Sakitnya tak terlukiskan, jiwa terpuruk. Namun, wahai saudaraku, kejatuhan itu bukan kutukan, melainkan panggilan lembut Tuhan, Allah SWT. Allah Maha Penolong, kejatuhan adalah teguran halus agar kita kembali kepada-Nya. Ramadhan adalah puncak panggilan itu, bulan di mana sungai rahmat mengalir deras, mengajak kita sadar: la haula wala quwwata illa billah, tak ada daya dan kekuatan kecuali denganNya.
Mengurai sakit kejatuhan, mulailah dari yang sederhana. Jatuh motor: kulit lecet, tulang retak, tapi bangun lagi dan lebih hati-hati. Jatuh pohon: tangan berdarah, tapi panen mangga jadi pelajaran syukur. Jatuh atap: istirahat paksa, renungkan betapa rapuhnya tubuh ini. Fisik sakit, tapi hati belajar ketergantungan pada Yang Maha Kuat. Kini, kejatuhan sosial lebih ganas. Jabatan direktur direnggut korupsi, tiba-tiba jadi pengangguran. Reputasi influencer hancur oleh video viral salah paham. Nama baik pengusaha tercoreng gugatan, teman menjauh.
Sakitnya menusuk dada, malam gelisah, air mata basahi bantal. Tapi dengar panggilan Tuhan: "Kembalilah kepada-Ku, wahai hamba-Ku yang lalai!"
Selama ini, kita jauh dari-Nya. Sibuk duniawi: kerja lembur lupakan shalat, scrolling medsos lupakan dzikir, kumpul harta lupakan halal dan sedekah.
Melenceng ke jalan sesat, merasa sombong pegang kendali hidup. Allah panggil lembut lewat kejatuhan. Bukan hantaman keras seperti bencana besar, tapi teguran halus: jatuh itu agar sadar, yang hebat hanya Allah, yang lain tak ada apa-apanya. La haula wala quwwata illa billah: seruan itu bergema di hati yang jatuh. Jangan pernah jauh dari-Nya, apalagi melupakan-Nya. Apapun posisimu: presidenkah, pedagangkah, abang becakkah, orang kayakah, orang miskinkah, pejabat tinggikah, ibu rumah tanggakah : itu semua karena izin-Nya. Sadarlah, wahai manusia!
Banyak tokoh jatuh karena mulai jauh dari Tuhan. Mario Teguh lewat Golden Ways, motivator hebat, pernah jatuh reputasi gara-gara isu pribadi. Media ganyang, penggemar kecewa. Tapi jatuh itu panggilan: kembali fokus pada nilai ilahi, bukan sensasi. Soekarno, sang proklamator bangsa, jatuh dari puncak kekuasaan, kesepian di akhir hayat. Jauh dari ajaran agama yang dulu ia pegang? Suharto, bapak pembangunan, jatuh di1998 lewat reformasi bergemuruh, korupsi jadi tudingan. Habibie, presiden transisi, mundur hormat tapi hati terluka. Masih banyak: pejabat daerah tersangkut KPK, artis skandal narkoba, pengusaha bangkrut. Mereka dulunya kuat, tapi lupa sumber kekuatan: Allah. Jatuh itu tanda sayang-Nya Tuhan, agar kembali ke jalan benar,agar selamat di sisi-Nya.
Ramadhan adalah puncak panggilan itu. Bulan suci di mana setan dibelenggu, pintu surga terbuka, rahmat turun. Puasa lapar ingatkan rapuhnya manusia, tarawih malam hapus dosa kejatuhan lalu. Lailatul Qadar, satu malam lebih baik dari 83 tahun ibadah:waktu sempurna taubat. Allah bilang lewat Al-Qur'an surah Al-Fajr: "Hai orang-orang yang bertakwa, wahai orang-orang yang tenang jiwanya." Ramadhan panggil yang jatuh: kembalilah! Sedekah hapus utang dosa, shalat bangun semangat baru, buka puasa syukuri nikmat. Bukan hukuman, tapi pelukan sayang Sang Khalik. Yang jarang disadari: kejatuhan sebelum Ramadhan saatnya bangkit di bulan ini.
Bayangkan kisah seorang pengusaha besar di suatu kota besar. Dulu sombong, korupsi demi untung besar. Jatuh: perusahaan bangkrut, istri pergi, reputasi hancur. Depresi, tapi Ramadhan datang. Puasa pertama, air mata sahur: "Ya Allah, ampuni aku!" Tarawih di masjid, rasakan la haula..... Semangat bangkit, bisnis halal dan kembali sukses. Atau ibu rumah tangga jatuh reputasi gara-gara gosip tetangga. Ramadhan, maafkan semua, hati tenang. Tokoh besar pun begitu: jatuhnya mereka adalah panggilan agar kembali, Ramadhan puncaknya.
Allah Maha Penolong. Setelah jatuh, Ia tunjukkan jalan naik: lebih tinggi dari sebelumnya. Seperti Yusuf AS jatuh sumur dan penjara, jadi menteri Mesir akhirnya. Jatuh fisik atau sosial sama: ujian tanda sayang-Nya. Sadarlah: posisi tinggi sementara, kekayaan fana. Jauh dari Allah, jatuh pasti. Dekat, dilindungi.
Ramadhan 2026 ini, dengarlah panggilan. Yang jatuh motor, syukuri selamat. Jatuh jabatan, renungkan amanah. Kembali ke haribaan-Nya via puasa, shalat, sedekah. La haula wala quwwata illa billah, ucapkan tiap jatuh. Itu semua tanda kasih Tuhan, agar kita selamat dunia wal akhirat.
Penutup: Wahai manusia, jangan tunggu kejatuhan besar. Ramadhan puncak panggilan, sungai rahmat alir deras. Kembalilah, sebelum terlambat. Allah menanti taubatmu, dengan pelukan kasih-Nya.
Posting Komentar untuk "Kejatuhan adalah Panggilan Lembut Tuhan agar Manusia Kembali kepada-Nya: Ramadhan Puncak Panggilan Itu"