Catatan : Syamsu Marlin
Ada yang berbeda dari nasihat pernikahan yang disampaikan Lurah Mangempang, H. Syahriadi. Di tengah suasana bahagia dua insan yang duduk bersanding, ia tidak sekadar menyampaikan ucapan selamat atau petuah rumah tangga yang lazim terdengar. Ia mengajak hadirin melihat pernikahan dari sudut pandang yang lebih dalam: sebagai sebuah kelahiran kembali.
Bagi Syahriadi, pernikahan bukan hanya tentang dua orang yang dipertemukan dalam ikatan cinta. Lebih dari itu, pernikahan adalah awal kehidupan baru, sebuah perjalanan yang menuntut kedewasaan, ilmu, tanggung jawab, dan kesediaan untuk saling membimbing.
Ia menyebutnya sebagai *wiladatun jasmaniah* dan *wiladatun ruhaniah*.
Kelahiran jasmaniah adalah kelahiran pertama, ketika seorang anak hadir dari rahim ibunya, kemudian diterima, dididik, dan dibesarkan oleh keluarga. Sementara kelahiran ruhaniah adalah kelahiran kedua, ketika seseorang memasuki kehidupan rumah tangga bersama pasangan pilihannya.
Jika kelahiran pertama membawa manusia memasuki kehidupan dunia, maka kelahiran kedua mengantarkannya ke babak baru kehidupan yang harus dijalani dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Sebuah cara bertutur yang sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam.
Pesan itu disampaikan Syahriadi dalam nasihat pernikahan Mega Awliya dan Rian Ahrianto, di kampung AroppoE Desa Corawali Tanete Rilau Barru, Ahad 18/10/2026.
Di hadapan keluarga besar dan para undangan, ia mengajak kedua mempelai memahami bahwa akad nikah bukanlah garis akhir dari perjalanan cinta. Justru, itulah titik awal untuk belajar menjalani kehidupan bersama.
Setelah akad, cinta tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dibuktikan melalui kesabaran, kesetiaan, pengertian, dan kesediaan menerima kekurangan pasangan.
Rumah tangga tidak selalu berjalan dalam suasana bahagia. Akan ada perbedaan pendapat, ujian ekonomi, persoalan keluarga, bahkan keadaan yang menguji keteguhan hati. Pada saat seperti itulah, ilmu, agama, dan kedewasaan menjadi penopang.
Pesan Syahriadi seolah hendak mengingatkan bahwa memasuki pernikahan berarti bersedia tumbuh bersama. Bukan hanya menikmati kebahagiaan, melainkan juga memikul tanggung jawab untuk menjaga kebahagiaan itu.
Sebab, keluarga sakinah, mawaddah, warahmah tidak hadir begitu saja. Ia dibangun sedikit demi sedikit melalui kasih sayang yang dirawat, kepercayaan yang dijaga, dan ibadah yang dijalankan bersama.
Ada sisi emosional dalam pernikahan Mega dan Rian .Ayahanda Mega, almarhum Haji Ansar, tidak dapat menyaksikan langsung putrinya memasuki kehidupan rumah tangga. Namun, ketiadaan itu tidak menghapus kehadiran nilai-nilai cinta dan pengabdian seorang anak kepada ayahnya.
Dalam nasihatnya, Syahriadi menyinggung peran kakak Mega Awliya yang mengambil bagian dalam prosesi pernikahan sebagai bentuk cinta dan pengabdian kepada almarhum ayahanda.
Di titik ini, pernikahan tidak hanya berbicara tentang dua insan yang saling mencintai. Ia juga menghadirkan cerita tentang keluarga, kenangan, kehilangan, dan ikatan batin yang tetap hidup meskipun seseorang telah tiada.
Ada cinta yang tidak lagi dapat dinyatakan melalui kehadiran fisik, tetapi tetap terasa dalam tindakan dan penghormatan.
Bagi sebuah keluarga, momen pernikahan seperti ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang tanpa air mata. Kadang, rasa syukur dan kerinduan hadir bersamaan, menyatu dalam doa bagi mereka yang masih bersama maupun yang telah mendahului.
Menariknya, Syahriadi juga menghubungkan nasihat pernikahan dengan semangat *Singgah di Barru*, moto yang diperkenalkan sebagai bagian dari identitas Kabupaten Barru.
Ia mengajak masyarakat mengenal pentingnya pendidikan, khususnya pendidikan agama, dengan menyebut sejumlah lembaga pendidikan keagamaan di daerah itu, termasuk Pondok Pesantren DDI Mangkoso dan DDI Takkalasi.
Bagi Syahriadi, pengetahuan agama merupakan bekal penting agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
Pesan tersebut terasa relevan ketika dibawa ke dalam kehidupan rumah tangga. Sebab, membangun keluarga bukan semata-mata urusan perasaan. Ada nilai, prinsip, dan tanggung jawab yang perlu dipahami serta dijalankan bersama.
Cinta mungkin menjadi alasan dua orang memilih untuk menikah. Namun, ilmu, agama, dan komitmenlah yang membantu mereka menjaga pilihan itu sepanjang perjalanan.
Di sinilah nasihat pernikahan itu menemukan maknanya: pendidikan bukan hanya untuk menyiapkan seseorang menghadapi dunia kerja, tetapi juga untuk menyiapkan manusia menjalani kehidupan, termasuk menjadi suami, istri, dan orang tua.
Dengan gaya bertutur yang khas, Syahriadi juga menyelipkan humor ketika berbicara tentang pernikahan dan kehidupan kaum muda.
Di antara pesan yang disampaikannya, ia menekankan pentingnya kesetiaan dalam memilih dan menjalani kehidupan bersama pasangan. Ia mengemas nasihat itu melalui perbandingan yang ringan, sehingga suasana pernikahan tidak hanya dipenuhi petuah serius, tetapi juga gelak tawa para undangan.
Humor menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan yang sesungguhnya penting: menikah bukan sekadar menemukan seseorang yang menarik untuk dijadikan pasangan, melainkan menemukan teman perjalanan yang bersedia menjaga komitmen.
Sebab, kehidupan rumah tangga tidak cukup dibangun dengan ketertarikan pada awal perkenalan. Ia membutuhkan kesetiaan ketika keadaan berubah, kesabaran ketika muncul perbedaan, dan tanggung jawab ketika kehidupan menghadirkan tantangan.
Di balik kelakar yang mengundang senyum, tersimpan pesan agar generasi muda mempersiapkan diri sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Pada akhirnya, pesan pernikahan ala Lurah Mangempang mengajak kita melihat akad nikah bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang.
Pernikahan adalah kelahiran kedua. Sebuah momentum ketika dua manusia mulai belajar membangun dunia bersama, merawat cinta, menumbuhkan kedewasaan, dan menyempurnakan ikhtiar ibadah.
Seperti bayi yang baru lahir dan membutuhkan bimbingan untuk tumbuh, rumah tangga pun memerlukan proses. Ia perlu dirawat dengan komunikasi, dikuatkan dengan kepercayaan, dan diarahkan oleh nilai-nilai agama.
Bagi Mega Aulia dan Rian Ahrianto, hari pernikahan itu menjadi pintu masuk menuju babak baru kehidupan. Bagi keluarga besar yang hadir, momen tersebut menjadi perayaan cinta dan kebersamaan. Sementara bagi siapa pun yang mendengarkan nasihat Syahriadi, ada satu pesan yang layak dibawa pulang.
"Menikah bukan hanya tentang menemukan seseorang untuk hidup bersama, tetapi tentang kesediaan untuk terus belajar, bertumbuh, dan menjaga kesetiaan sepanjang perjalanan"
Sebab, kelahiran pertama membuat kita hadir di dunia. Kelahiran kedua mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan bersama orang yang kita cintai.(*)
Posting Komentar untuk "Dari Kelahiran Jasmani Menuju Kelahiran Rohani (Pesan Pernikahan ala Lurah Mangempang) "