Oleh : Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Enam hingga sembilan tahun aku duduk di bangku sekolah, namun ada satu hal yang hingga kini masih membekas sebagai luka kecil dalam ingatan: aku tidak pernah benar-benar hafal perkalian. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak pernah benar-benar disuruh berlatih dan menghafal. “Nanti juga bisa pakai kalkulator,” begitu kata sebagian guru dan orang dewasa di sekitarku. Aku pun percaya. Toh, di era serba digital ini, siapa sih yang masih mau repot-repot menghafal angka? Gumamku.
Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari ada sesuatu yang hilang pada diriku. Ketika teman-teman sebayaku dengan lancar menghitung, menganalisis soal, bahkan mengajarkan adiknya, aku masih tersendat di hal paling mendasar. Kalkulator memang membantu, tapi ia tidak membuatku berpikir. Ia hanya memberi jawaban, tanpa melatih otakku untuk bekerja dan berpikir. Dan di situlah aku merasa tertinggal. Bukan karena bodoh, tapi karena fondasi paling dasar dalam matematika : hafalan perkalian, tidak pernah benar-benar aku bangun.
Penyesalan yang Terlambat Disadari
Sekarang, saat aku membutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam berpikir numerik, aku sadar bahwa menghafal perkalian bukan sekadar soal “bisa hitung”. Ia adalah pintu gerbang menuju kemampuan berpikir yang lebih tinggi. Tanpa fondasi ini, aku seperti mencoba membangun rumah tanpa pondasi. Setiap kali menghadapi soal yang membutuhkan kecepatan, aku harus berhenti, membuka kalkulator, atau bahkan menghitung manual dengan jari. Sementara teman-teman? Mereka sudah melangkah ke soal-soal berikutnya.
Ini bukan soal malu. Ini soal kesempatan yang hilang. Kesempatan untuk melatih otak, untuk membangun kepercayaan diri, dan untuk tidak bergantung pada alat bantu di hal-hal yang seharusnya sudah menjadi refleks. Aku menyesal. Tapi penyesalan itu datang terlambat. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah berbagi cerita, agar adek-adek tidak mengalami hal yang sama.
Mengapa Hafalan Perkalian Itu Penting?
Banyak yang beranggapan bahwa menghafal perkalian adalah hal yang tidak penting, tidak relevan di era AI dan kalkulator digital. Tapi penelitian menunjukkan sebaliknya. Menghafal perkalian bukan sekadar menghafal angka, melainkan melatih otak untuk berpikir cepat, akurat, dan efisien.
Ketika kita menghafal perkalian, kita sebenarnya sedang membangun “jalan cepat” di dalam otak. Jalan ini memungkinkan kita mengakses informasi matematis tanpa harus berpikir panjang. Bayangkan jika setiap kali ingin menghitung 7 × 8, kita harus menjumlahkan 7 sebanyak 8 kali. Itu tidak hanya lambat, tapi juga membebani memori kerja kita. Dengan hafalan, kita bisa langsung mengakses jawaban, sehingga otak bebas digunakan untuk hal-hal yang lebih kompleks, seperti menganalisis soal, membuat strategi, atau bahkan menciptakan solusi baru.
Dari C1 ke C6: Tangga Berpikir yang Harus Dilewati
Dalam dunia pendidikan, ada yang namanya Taksonomi Bloom, sebuah kerangka yang menggambarkan tingkat kemampuan berpikir manusia, dari yang paling dasar hingga paling tinggi. Tingkatan ini dibagi menjadi enam level: C1 (mengingat/menghafal), C2 (memahami), C3 (menerapkan), C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (mencipta).
Nah, menghafal perkalian itu ada di level paling dasar dan pertama (C1). Ya, sekadar mengingat. Tapi justru karena ini adalah level paling dasar, ia menjadi fondasi untuk naik ke level berikutnya. Bagaimana mungkin kita bisa memahami (C2) konsep luas persegi panjang, misalnya jika kita masih tersendat saat menghitung 5 × 6? Bagaimana bisa kita menganalisis (C4) pola bilangan jika kita masih harus membuka kalkulator untuk 8 × 7?
Tanpa menguasai C1, untuk naik ke C2 saja itu sudah sangat berat. Apalagi ke C3, C4, C5, dan C6. Ini seperti mencoba lari maraton tanpa pernah belajar berjalan. Otak kita butuh fondasi yang kuat sebelum bisa diajak berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.
Ayok, Adek-Adek, Hafalkan Perkalian Sejak Dini!
Untuk adek-adek yang masih sekolah, dengarkan baik-baik: jangan tunggu sampai menyesal seperti aku. Hafalkan perkalian sejak dini. Bukan karena disuruh guru, bukan karena takut dihukum, tapi karena itu adalah investasi dan kebutuhan untuk masa depanmu sendiri.
Mulailah dari yang mudah: perkalian 1 sampai 5. Lalu lanjut ke perkalian 6 sampai 10. Gunakan lagu, permainan, atau bahkan aplikasi di ponsel. Yang penting, lakukan dengan senang hati. Jangan jadikan beban, tapi jadikan tantangan. Setiap kali kamu berhasil menghafal satu baris perkalian, rayakan dan bersyukur! Karena itu adalah satu langkah kecil yang akan membawamu jauh ke depan.
Ingat, menghafal perkalian bukan soal menjadi “jenius matematika atau jenius fisika”. Ini soal melatih otakmu untuk berpikir dengan baik, cepat, dan tepat. Ini soal membangun kepercayaan diri. Ini soal tidak ingin tertinggal saat teman-temanmu sudah melangkah lebih jauh.
Penutup: Jangan Biarkan Penyesalanku Menjadi Penyesalanmu
Aku tidak bisa kembali ke masa lalu. Aku tidak bisa mengubah keputusan untuk tidak menghafal perkalian. Tapi aku bisa berbagi cerita, agar kamu, adek-adek, adik kelas, atau bahkan anak-anakku nanti tidak mengalami hal yang sama.
Hafalkan perkalian. Bukan karena disuruh, tapi karena kamu peduli pada masa depanmu sendiri. Karena kamu ingin otakmu bekerja dengan baik. Karena kamu ingin naik dari C1 ke C6, dari mengingat hingga mencipta.
Dan ketika kamu sudah hafal, jangan berhenti di situ. Gunakan fondasi itu untuk melangkah lebih tinggi. Karena dunia tidak butuh orang yang hanya bisa menekan tombol kalkulator. Dunia butuh orang yang bisa berpikir, menganalisis, dan menciptakan solusi.
Mulailah hari ini. Satu baris perkalian setiap hari. Dalam sebulan, kamu sudah bisa menguasai semuanya. Dan dalam setahun, kamu akan melihat betapa mudahnya matematika—dan betapa kuatnya otakmu.
Jangan tunggu sampai menyesal. Karena seperti aku, penyesalan itu datang terlambat.
Posting Komentar untuk "Enam-Sembilan Tahun Aku Sekolah, Tetapi Belum Hafal Perkalian"