Di Shaf yang Sama, Ketika Doa Andi Ina Mengetuk Pintu Langit



BARRU —B88News.id-  Udara pagi masih terasa sejuk di Lapangan Pondok Pesantren Modern Kurir Langit. Embun belum sepenuhnya menghilang. Langit Barru masih mendung tipis, tetapi hujan yang dinanti belum juga turun.

Pagi itu, Jumat 18/9/2026 ribuan warga datang. Ada petani yang meninggalkan sawahnya sejenak, santri yang datang dengan sarung dan peci, ibu-ibu yang membawa mukena, hingga para pegawai yang ikut duduk bersama masyarakat.

Mereka datang dengan satu harapan: memohon kepada Allah agar Barru kembali mendapatkan hujan.

Di tengah jamaah, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari hadir bersama suaminya, Ketua PMI Barru Ir. Muhammad Yulianto Badwi. Hadir pula Wakil Bupati Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si., dan Ketua TP PKK Barru Andi Milawaty Abustan.

Tidak ada jarak pagi itu. Abustan dan Muh. Yulianto Badwi berbaur di saf laki-laki. Bupati Andi Ina duduk  dan Ketua TP. PKK A. Milawaty bersama jamaah perempuan. Seperti warga lainnya, ia menunggu salat dimulai.

Ketika Shalat Istisqa dimulai, suasana lapangan berubah hening. Semua menundukkan kepala. Andi Ina pun larut dalam kekhusyukan.

Saat khutbah disampaikan Imam Prof. (H.C.) Dr. H. Muhammad Aydi Syam, tentang dosa, taubat, dan pentingnya memohon ampun kepada Allah, wajah Andi Ina tampak semakin teduh.

Kepalanya tertunduk. Kedua tangannya terangkat. Sorot matanya seperti menembus langit. Bibirnya bergerak perlahan mengikuti doa dan istighfar.

Tidak ada yang istimewa dari gerakannya. Tetapi justru di situlah juga letak keistimewaannya. Ia terlihat seperti seorang ibu yang sedang berdoa untuk keluarganya.

Bedanya, pagi itu keluarga yang ia doakan begitu luas: seluruh masyarakat Barru.

Seorang jamaah yang berada tidak jauh darinya bahkan berbisik, “Bupati kita terharu.”

Mungkin benar. Sebab sebagai kepala daerah, Andi Ina tentu melihat langsung bagaimana kondisi masyarakat ketika hujan tak kunjung datang. Ada petani yang menunggu air untuk sawahnya. Ada warga yang mulai khawatir dengan kondisi lingkungan dan kebakaran. Ada banyak keluarga yang berharap langit segera kembali bersahabat.

Maka ketika doa dipanjatkan, sulit rasanya memisahkan antara seorang bupati dan seorang manusia yang juga memiliki rasa khawatir.

Usai shalat, sebagian jamaah mulai beranjak. Namun Andi Ina masih duduk.

Tangannya tetap terangkat. Kepalanya masih tertunduk. Tidak tergesa-gesa. Ia menyelesaikan doanya dalam diam.

Pemandangan itu sederhana. Tetapi mungkin justru karena kesederhanaannya, banyak yang merasakan sesuatu.

Bahwa pagi itu, Bupati Andi Ina tidak sedang berdiri di depan masyarakat untuk memberikan arahan. Ia duduk bersama masyarakat.

Sama-sama membutuhkan hujan. Sama-sama membutuhkan pertolongan Allah. Sama-sama menunggu langit membuka pintunya.

Ketika akhirnya berbicara, Andi Ina menyampaikan dengan sederhana.

Kami hadir sebagai pemerintah dan menyatu bersama masyarakat. Kegiatan ini menjadi ruang bagi kita untuk bersama-sama berdoa. Ini untuk kemaslahatan kita bersama.”

Tak ada kalimat panjang. Tak ada pesan yang berlebihan.

Karena pagi itu, semua orang sudah memahami maksud kedatangan mereka.

Mereka hanya ingin memohon. Memohon agar Allah menurunkan hujan.

Dan ketika ribuan tangan  menengadah ke langit, doa itu terasa bukan lagi milik seorang bupati, bukan pula milik petani, santri, pegawai, atau ibu-ibu. Itu menjadi doa seluruh Barru.

Doa sederhana dari sebuah daerah yang sedang menunggu hujan, dan semoga langit segera menjawabnya.(syam) 

Posting Komentar untuk "Di Shaf yang Sama, Ketika Doa Andi Ina Mengetuk Pintu Langit"