Catatan, Syamsu Marlin
Senja di Anjungan Pantai Losari Makassar, Sabtu (12/9/2026), perlahan menurunkan warna jingga di ufuk barat. Angin laut berembus, debur ombak memecah tepian, sementara panggung kegiatan Fashion and Fusion Attayang Sunset yang dihelat Pemerintah Kota Makassar mulai menyala.
Lalu suara gendang mulai menggema, gerak para penari menyatu dengan irama. Tepuk tangan penonton pecah. Di tengah keramaian Kota Makassar, sebuah identitas daerah hadir dan menyapa.
Tarian kolosan Barru Pride, bukan sekadar pertunjukan seni. Ia adalah perayaan artistik yang merefleksikan kebanggaan To Berru terhadap tanah kelahiran, identitas budaya, sejarah, serta warisan intelektual yang tumbuh dan diwariskan lintas generasi.
Membawa budaya Barru ke Losari bukan sekadar tampil di atas panggung. Ada keberanian. Ada latihan. Ada keringat. Dan ada kecintaan untuk menjaga warisan leluhur.
Di balik pertunjukan itu hadir para seniman, budayawan, pelaku budaya, serta seluruh tim Sanggar Bolong Ringgi, binaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Barru.
Namun Barru Pride membawa sesuatu yang jauh lebih dalam. Pertunjukan ini menerjemahkan spirit sosok agung Retna Kencana Arung Pancana Toa Colliq Pujie, perempuan intelektual dan penggerak zaman yang namanya terukir dalam sejarah kebudayaan Nusantara.
Dari tanah Berru, Colliq Pujie hadir bukan sekadar sebagai bangsawan, tetapi sebagai pemikir, sastrawan, dan penjaga pengetahuan yang memiliki peran penting dalam penyalinan dan pelestarian I La Galigo, mahakarya sastra Bugis yang telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World.
Kini, semangat itu kembali diterjemahkan ke dalam bahasa zaman. Bukan melalui lembaran lontaraq semata, tetapi melalui gerak, musik, tari, visual, dan bahasa artistik. Dari Lontaraq Menuju Panggung
Keanggunan perempuan. Ketajaman intelektualitas. Keberanian menjaga pengetahuan. Dan keteguhan merawat warisan leluhur. Semua itu menjadi energi dalam setiap adegan Barru Pride.
Dari aksara menuju gerak.
Dari lontaraq menuju panggung.
Dari sejarah menuju kreativitas.
Barru menunjukkan bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang hanya disimpan di masa lalu. Kebudayaan adalah denyut yang harus terus dihidupkan.
Sebab sejarah tidak akan berarti jika hanya dikenang.
Ia harus dibaca.
Dipahami.
Dikembangkan.
Dan diwariskan.
Kehadiran Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Barru, A. Milawaty, S. Sos. MM menjadi energi tambahan bagi para pelaku seni yang tampil.
"Kehadiran mereka menguatkan langkah kami. Rasanya semua lelah latihan terbayar," kata salah satu penari muda Barru.
Ketika To Berru Tampil di Rumah Orang sore itu, warga Makassar yang awalnya hanya menikmati suasana Losari perlahan berhenti.
Mata tertuju ke panggung.
Ponsel terangkat.
Rekaman video dimulai.
Tepuk tangan mengalir.
Di tengah kota yang menjadi salah satu pusat kebudayaan dan kreativitas Sulawesi Selatan, Barru hadir dengan wajahnya sendiri.
Tidak meminta untuk dilihat.
Tetapi tampil dengan percaya diri.
Inilah makna lain dari Barru Pride: menjadi duta budaya sekaligus memperkenalkan jati diri To Berru kepada khalayak yang lebih luas.
Ketika pertunjukan berakhir, musik berhenti. Lampu panggung perlahan meredup.
Namun pesan Barru Pride tidak ikut padam. Sebab pertunjukan ini tidak sekadar menghadirkan kembali masa lalu. Ia menghidupkan kembali memori kolektif sebagai sumber inspirasi untuk menatap masa depan.
Barru Pride adalah cara sebuah daerah mengatakan kepada dunia bahwa kekayaan budaya tidak hanya terletak pada apa yang dimiliki, tetapi juga pada pengetahuan yang mampu dijaga, dihidupkan, dan diwariskan.
"Ketika pemerintah, seniman, budayawan, dan masyarakat berjalan dalam satu irama, kebudayaan tidak sekadar dipertunjukkan. Ia dihidupkan, dirawat, dan diwariskan," ujar perwakilan panitia.
Dan senja di Losari akhirnya berganti malam.
Lampu panggung padam.
Tetapi kisah itu tidak selesai.
Karena di tengah gemuruh Kota Makassar, Barru telah meninggalkan satu pesan:
Budaya boleh berangkat dari tanah kelahiran, tetapi kebanggaan tidak mengenal batas.
Dari Berru, semangat Colliq Pujie kembali menyala.
Dari masa lalu, menuju masa depan.
Barru Pride — kebanggaan To Berru yang terus hidup, terus berkarya, dan terus diwariskan.
Dari Barru, untuk Indonesia.(*)
Posting Komentar untuk "BARRU PRIDE DI ATTAYANG SUNSET LOSARI _Ketika Budaya Barru Menyala di Senja Makassar_"