Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi
Agustus selalu punya cara sendiri untuk mengetuk pintu hati kita. Di bawah langit Kabupaten Barru yang mulai temaram, Alun-Alun Colliq Pujie tidak sekadar berubah menjadi lautan lampu dan warna-warni tenda.
Lebih dari itu, tempat ini menjelma menjadi panggung besar tempat harapan, peluh, dan rasa cinta tanah air melebur menjadi satu dalam Semarak Kemerdekaan dan Gebyar UMKM menyambut HUT RI ke-81.
Kemerdekaan, bagi puluhan pelaku UMKM yang menggelar dagangannya di sana, bukan lagi sekadar teks sejarah yang dibaca di buku-buku sekolah. Kemerdekaan adalah malam-malam penuh peluh, kepulan asap dari pemanggang kue tradisional, dan senyum yang merekah setiap kali selembar rupiah berpindah tangan.
Sebanyak 80 tenant yang berdiri kokoh di alun-alun itu adalah simbol dari 80 cerita perjuangan domestik tentang para ibu yang ingin menyekolahkan anaknya, dan para ayah yang menolak menyerah pada keadaan.
Ketika Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, SH.,M.Si mengajak seluruh masyarakat untuk melangkah keluar rumah dan berbelanja di stand lokal, itu bukanlah imbauan seremonial belaka. Itu adalah sebuah ketukan nurani.
Setiap bungkus camilan yang kita beli, setiap suap makanan tradisional yang kita nikmati di sana, sejatinya adalah urat nadi yang memperpanjang napas dapur-dapur saudara kita sendiri. Di sanalah arti kemerdekaan yang sesungguhnya mewujud, saling menopang, dari Barru, oleh Barru, dan untuk Barru.
Namun, Alun-Alun Colliq Pujie tidak hanya bercerita tentang perputaran rupiah. Tempat ini telah bertransformasi menjadi ruang tempat generasi saling menyapa. Melalui tajuk Barru Pride, kita melihat spektrum kehidupan yang begitu indah dan menyentuh hati.
Ada rasa haru yang membuncah saat melihat anak-anak kecil dengan berani naik ke atas panggung melantunkan ayat dan pesan damai dalam lomba Pildacil. Di sudut lain, tawa bahagia pecah menyaksikan langkah jenaka namun penuh percaya diri dari para lansia dalam Fashion Show Nenek-Nenek Lincah.
Mereka, yang rambutnya telah memutih, seolah ingin berbisik kepada kita yang muda: "Api cinta pada tanah ini tidak boleh padam oleh usia".
Di panggung ini juga, kedekatan antara pemimpin dan rakyatnya terasa begitu nyata tanpa jarak. Suasana malam menjadi begitu cair dan penuh tawa saat mikrofon beralih ke tangan para abdi negara dalam Lomba Karaoke. Mulai dari para Pimpinan OPD, Camat, Lurah, hingga Kepala Desa, semuanya bergantian naik ke atas panggung untuk menyumbangkan suara terbaik mereka.
Ketegangan tugas kedinasan sehari-hari seolah luntur, digantikan oleh riuh rendah sorak-sorai penonton yang terhibur melihat sisi humanis para pemimpin mereka. Ada yang bernyanyi dengan penuh penghayatan, ada pula yang tampil jenaka memancing tawa, namun semuanya bermuara pada satu hal: merayakan kegembiraan kemerdekaan bersama rakyat yang mereka layani.
Lalu, tengoklah ke jalanan kota saat ratusan anak sekolah berbaris dalam gerak jalan serentak. Langkah kaki mereka yang berdentum kompak, kaos kaki putih yang mulai kotor oleh debu jalanan, dan keringat yang bercucuran di bawah terik matahari adalah replika kecil dari sebuah perjuangan. Mereka belajar bahwa untuk mencapai garis akhir, ego harus diredam demi sebuah kebersamaan.
Kemudian, lihat pula bagaimana para Pimpinan OPD, jajaran dari seluruh instansi, pegawai kantor, hingga elemen organisasi masyarakat (ormas) turut melebur, menurunkan ego jabatan, dan ikut mengambil barisan. Mereka berjalan beriringan di bawah terik matahari yang sama, mengayunkan langkah dengan ritme yang sama, dan menatap satu arah yang sama.
Derap langkah kaki yang berdentum kompak antara pemimpin, pelayan publik, masyarakat umum, dan generasi muda ini menjadi simbol paling murni dari sinergi: sebuah kepatuhan kolektif untuk bergerak maju bersama demi kemajuan Kabupaten Barru.
Semarak Kemerdekaan dan Genyar UMKM Barru 2026 ini pada akhirnya memberi kita sebuah perenungan mendalam. Menjadi merdeka di usia ke-81 ini berarti kita tidak berjalan sendiri-sendiri. Merdeka adalah ketika pemerintah daerah membuka ruang, pelaku usaha lokal mengisinya dengan harapan, dan masyarakat menyambutnya dengan uluran tangan.
Malam nanti, ketika lampu-lampu di Alun-Alun Colliq Pujie kembali menyala dan tawa anak-anak terdengar di sela-sela musik tradisional, datanglah. Belilah sebungkus harapan dari tenant terdekat. Karena di Barru, kita merayakan kemerdekaan dengan cara paling indah, memerdekakan ekonomi saudara sendiri lewat kebersamaan yang kokoh.
Posting Komentar untuk "Merajut Asa di Alun-Alun Colliq Pujie: Saat Kemerdekaan Menghidupkan Dapur UMKM Barru"