Catatan, Syamsu Marlin
Jarum jam tepat menunjuk 00.00 WITA. Kota Barru terlelap dalam gelap. Jalan-jalan mulai lengang, suara kendaraan menghilang, dan malam seperti sengaja menahan napas.
Namun di Taman Makam Pahlawan Sumpang Binangae, puluhan cahaya kecil menyala. Lilin-lilin diletakkan di sisi pusara. Obor menerangi deretan nisan. Di antara makam-makam itu, para pejabat, prajurit, anggota Pramuka dan peserta upacara berdiri dalam diam.
Malam itu, Barru menundukkan kepala. Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., bersama Wakil Bupati Barru Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si., Turut hadir Sekda Barru A. Syarifuddin, para Staf Ahli dan Asisten, pimpinan OPD, para Danramil se-Kabupaten Barru, para PJU Polres Barru, serta peserta apel lainnya hadir dalam Apel Kehormatan dan Renungan Suci, Minggu (16/8/2026), untuk mengenang mereka yang telah memberikan hidupnya bagi kemerdekaan Indonesia.
Tidak ada panggung megah. Tidak ada sorak-sorai. Hanya cahaya lilin, deretan pusara dan kesunyian yang terasa begitu dalam.
Apel tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Dandim 1405/Parepare Letkol Inf. Erwin Hidayat, S.I.P. memimpin prosesi penghormatan yang berlangsung khidmat.
Bupati Andi Ina dan Wakil Bupati Abustan bersama jajaran Forkopimda mengikuti seluruh rangkaian apel. Cahaya obor dan lilin perlahan menerangi makam-makam yang selama puluhan tahun menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa.
59 Nama, 59 Pengorbanan
Di tempat itu, sejarah tidak dibacakan dengan suara yang meledak-ledak.
Sejarah justru terasa melalui keheningan.
Dalam naskah Apel Kehormatan dan Renungan Suci yang dibacakan Dandim Erwin Hidayat, disebutkan 59 pahlawan di Kabupaten Barru dikenang malam itu.
Mereka terdiri atas 27 orang Badan Perjuangan, 13 orang TNI Angkatan Darat, 1 orang TNI Angkatan Udara, 3 orang Kepolisian RI, 3 orang sipil, 4 orang TBO, serta 8 orang veteran.
Mereka mungkin telah lama pergi.
Tetapi nama dan pengorbanannya tidak pernah benar-benar hilang.
Di atas pusara yang diterangi nyala lilin, satu pesan dibacakan:
“Perjuangan saudara-saudara adalah perjuangan kami juga, dan jalan kebaktian yang saudara-saudara tempuh adalah jalan bagi kami semua.”
Kalimat itu terasa lebih dalam ketika dibacakan di tengah makam para pejuang.
Sebab kemerdekaan yang hari ini dinikmati bukanlah hadiah.
Ia adalah warisan yang dibayar mahal.
Dengan keberanian.
Dengan darah.
Dengan air mata.
Dengan kehilangan.
Dan dengan kehidupan yang dipersembahkan tanpa meminta kembali.
Ketika Cahaya Kecil Menjaga Api Perjuangan
Apel dilanjutkan dengan mengheningkan cipta dan doa.
Puluhan kepala tertunduk.
Tidak ada yang lebih kuat dari keheningan pada saat itu.
Nyala lilin yang kecil justru terasa seperti pesan besar: api perjuangan boleh diwariskan, tetapi tidak boleh dipadamkan.
Usai apel, Bupati Andi Ina Kartika Sari bersama Wakil Bupati Abustan A. Bintang berdiri di hadapan deretan nisan.
Keduanya memberikan penghormatan terakhir.
Dalam beberapa detik yang hening itu, seolah tidak ada jarak antara masa lalu dan masa kini.
Para pahlawan telah menyerahkan masa depan kepada generasi setelahnya.
Dan generasi hari ini berdiri di hadapan mereka dengan satu kewajiban: menjaga apa yang telah diperjuangkan.
Malam itu Barru bukan sekadar menggelar sebuah upacara.
Barru sedang berbicara dengan sejarah.
Mengatakan bahwa nama-nama yang terukir di batu nisan tidak akan dibiarkan menjadi sekadar angka dalam catatan sejarah.
Kemerdekaan Harus Diteruskan
Peringatan kemerdekaan akhirnya kembali pada pertanyaan paling sederhana: untuk apa kemerdekaan diperjuangkan?
Jawabannya bukan hanya untuk dikibarkannya Merah Putih setiap 17 Agustus.
Bukan pula sekadar untuk upacara dan perayaan.
Kemerdekaan harus hadir dalam kerja nyata, pengabdian, persatuan, kepedulian dan keberpihakan kepada masyarakat.
Sebab para pahlawan telah menyelesaikan bagian mereka.
Kini, giliran generasi hari ini meneruskan perjuangan ituMalam boleh kembali gelap. Lilin boleh padam. Obor boleh kehilangan nyalanya.
Tetapi semangat para pahlawan harus tetap menyala.
Sebab selama Merah Putih masih berkibar, selama Indonesia masih berdiri, perjuangan mereka belum selesai.(*)
Posting Komentar untuk "Ketika Malam Terdiam, 59 Pahlawan Kembali Dipanggil oleh Sejarah"