Di Balik Tongkat Mayoret, Ada Mimpi Diva Menjadi Guru


Dentuman drum terdengar beriringan dengan langkah kaki yang tegap. Di tengah barisan marching band SMKN 4 Barru, seorang gadis berdiri dengan penuh percaya diri. 

Tongkat mayoret berada di tangannya, menjadi penanda setiap gerakan dan irama yang harus diikuti seluruh pasukan.

Dialah Diva, siswi kelas XI Jurusan Teknologi Pertanian SMKN 4 Barru. Pada peringatan HUT ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Pujananting, Diva mendapat kepercayaan menjadi mayoret marching band yang mengiringi jalannya upacara, Senin 17/8/2026.

Di balik seragam dan gerakan yang terlihat penuh percaya diri itu, tersimpan cerita seorang remaja dari Bampae, Lingkungan Padang Lampe, Kelurahan Mattappawalie, Kecamatan Pujananting.

Diva, putri pasangan Ali Hatta dan Rosmini, bukan hanya dikenal karena kemampuannya memimpin marching band. Di sekolah, ia juga memiliki prestasi akademik yang membanggakan.

Ia tercatat sebagai rangking pertama di kelas. Di luar kegiatan belajar, Diva juga memiliki bakat seni dan pernah meraih juara tari tingkat kecamatan.

Kini, kemampuan seni, kedisiplinan dan keberaniannya bertemu dalam satu peran: mayoret.

Menjadi mayoret bukan sekadar berdiri di barisan paling depan. Ia harus mampu menjaga ritme, menguasai gerakan, memberikan aba-aba dan memastikan seluruh anggota marching band tetap bergerak dalam satu irama.

Tanggung jawab itu menuntut konsentrasi dan kepercayaan diri.

Bagi Diva, pengalaman memimpin marching band menjadi bagian penting dari perjalanan masa sekolahnya. Ia belajar bahwa sebuah penampilan yang terlihat indah di hadapan penonton sesungguhnya lahir dari latihan, kedisiplinan dan kekompakan yang panjang.

Pagi itu, ketika musik marching band mengiringi prosesi upacara, Diva berdiri tegap. Tongkat mayoret bergerak mengikuti irama, sementara barisan di belakangnya menjaga langkah tetap serempak.

Di balik penampilan tersebut, ada sebuah cita-cita yang jauh lebih sederhana dan mulia. Diva ingin menjadi guru.

Cita-cita itu kini sedang ia perjuangkan dari bangku SMKN 4 Barru. 

Prestasi sebagai rangking pertama di kelas menjadi salah satu bukti kesungguhannya dalam belajar. Sementara marching band dan seni tari menjadi ruang baginya untuk membangun keberanian, disiplin dan kemampuan memimpin.

Hari itu, Diva bukan hanya mengiringi sebuah upacara.

Ia sedang menjalani bagian kecil dari perjalanan menuju masa depan yang diimpikannya.

Dari sebuah tongkat mayoret di tangan, dari langkah yang harus seragam dan irama yang harus tepat, Diva belajar satu hal penting: untuk mencapai mimpi, seseorang harus berani berdiri di depan, memimpin dengan tanggung jawab dan terus melangkah meski prosesnya tidak selalu mudah.

Dan kelak, ketika cita-citanya menjadi guru terwujud, mungkin pengalaman menjadi mayoret di lapangan Pujananting akan menjadi salah satu kenangan yang paling ia ingat—tentang masa ketika seorang gadis 17 tahun belajar memimpin barisan, sambil perlahan menyiapkan dirinya untuk memimpin generasi berikutnya.(syam m djafar) 

Posting Komentar untuk "Di Balik Tongkat Mayoret, Ada Mimpi Diva Menjadi Guru"