BARRU –B88News.id- Tidak semua anak memulai perjalanan pendidikannya dengan langkah yang mudah.
Ada yang harus berjuang melawan keterbatasan. Ada yang harus menunda mimpi ketika keadaan keluarga tidak memungkinkan. Namun, ada pula anak-anak yang ketika sebuah pintu kesempatan dibukakan, memilih untuk berlari mengejarnya.
Nur Awalya adalah salah satunya.
Lahir di Bojo, 16 November 2012, Nur Awalya kini menjadi salah satu siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Barru. Anak pertama dari tiga bersaudara ini tumbuh dalam keluarga yang menjadi sumber kekuatan sekaligus alasan terbesar baginya untuk terus berjuang.
Di rumah, ia terbiasa membantu sang ibu mengurus rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. Namun di balik keseharian sederhana itu, tersimpan sebuah perjuangan yang mungkin tidak banyak diketahui orang.
Nur Awalya pernah menghadapi keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan.
Di usia ketika seorang anak seharusnya sibuk memikirkan pelajaran dan cita-cita, ia justru harus berhadapan dengan kenyataan bahwa tidak semua mimpi dapat diraih dengan mudah.
Tetapi Nur Awalya tidak berhenti bermimpi.
Kemudian datanglah Sekolah Rakyat.
Bagi sebagian orang, mungkin hanya sebuah sekolah.
Tetapi bagi Nur Awalya, Sekolah Rakyat adalah kesempatan kedua.
Kesempatan untuk kembali mengenakan seragam.
Kesempatan untuk kembali duduk di bangku sekolah.
Kesempatan untuk belajar.
Dan yang paling penting, kesempatan untuk kembali percaya bahwa masa depannya masih ada.
Dalam Proposal Hidup yang disusunnya, Nur Awalya menuliskan rasa syukurnya karena melalui program Sekolah Rakyat ia memperoleh kesempatan untuk kembali mengenyam pendidikan.
Sejak saat itu, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Ia belajar dengan tekun dan disiplin. Ia ingin menjadi anak yang rajin, cerdas dan bermanfaat bagi keluarga, teman serta gurunya.
Namun Nur Awalya tidak hanya memiliki mimpi untuk dirinya sendiri.
Ia ingin suatu hari menjadi seorang guru.
Guru yang dapat mendidik. Guru yang membimbing. Guru yang membantu anak-anak lain menemukan masa depan yang lebih baik.
Mungkin ada alasan mengapa cita-cita itu terasa begitu dekat dengan hatinya.
Sebab ia tahu bagaimana rasanya ketika kesempatan untuk belajar hampir hilang.
Ia tahu bagaimana berharganya sebuah pintu yang kembali terbuka.
Dan kelak, ia ingin menjadi orang yang membantu membuka pintu itu bagi anak-anak lainnya.
Kini, perjalanan Nur Awalya memasuki babak baru.
Sebagai siswa Sekolah Rakyat, ia mendapat kepercayaan menjadi bagian dari Kontingen Pramuka Kabupaten Barru pada Jambore Nasional (Jamnas) Tahun 2026.
Dari ruang kelas SRT 1 Barru, langkahnya kini bergerak menuju panggung nasional.
Ia bukan hanya membawa seragam Pramuka.
Ia membawa nama Kabupaten Barru.
Ia membawa doa kedua orang tuanya.
Ia membawa semangat teman-teman dan guru-gurunya.
Dan mungkin, tanpa ia sadari, ia juga membawa cerita tentang anak-anak yang pernah berada di posisi yang sama—anak-anak yang memiliki mimpi besar tetapi membutuhkan kesempatan untuk mewujudkannya.
Bagi Nur Awalya, Jambore Nasional bukanlah akhir perjalanan.
Ini baru sebuah awal.
Awal dari keberanian untuk tampil.
Awal dari pengalaman untuk belajar.
Awal dari perjalanan panjang menuju cita-cita menjadi seorang guru.
Di dalam Proposal Hidupnya, ia menuliskan satu kalimat yang menggambarkan sumber kekuatannya:
“Keluarga adalah motivasi terhebat untuk sukses, dan keluarga adalah alasan terbaik untuk tetap hidup.”
Kalimat itu mungkin sederhana.
Tetapi bagi Nur Awalya, itulah bahan bakar untuk terus melangkah.
Dari Bojo, ia memulai perjalanan.
Dari keterbatasan, ia belajar bertahan.
Dari Sekolah Rakyat, ia menemukan kembali harapan.
Dan kini, di usia 13 tahun, langkah kecilnya telah membawanya hingga ke Jambore Nasional 2026.
Seorang anak yang nyaris kehilangan kesempatan bersekolah, kini dipercaya membawa nama daerahnya ke panggung nasional.
Barangkali inilah makna sesungguhnya dari sebuah kesempatan.
Bukan sekadar membuat seorang anak kembali bersekolah, tetapi membuatnya kembali berani bermimpi.
Dan Nur Awalya sedang membuktikan:
Ketika kesempatan datang, mimpi yang hampir padam pun bisa kembali menyala.(syamsu marlin)
Posting Komentar untuk "Dari Sekolah Rakyat, Nur Awalya Kini Bawa Nama Barru ke Jambore Nasional"