Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi.
Di sudut ruang yang riuh oleh prosesi akademik Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. H. Kamaruddin Hasan, S.Ag., M.Pd., saya memilih tempat yang tak biasa untuk menjadi saksi. Duduk di atas tumpukan kursi merah di pojok aula.
Saya tidak sendirian, tapi seekor kucing lokal bercorak tabby datang menemani, seolah tahu bahwa di tempat tinggi ini, sebuah dialog sunyi tentang masa depan peradaban sedang kami simak bersama.
Dari podium utama, gema suara profesor menggetarkan ruangan, membawakan judul orasi yang memukau: "Neuro-Semiotik Pedagogy: Rekonstruksi Pedagogi Humanistik dalam Menjaga Kedaulatan Makna di Era Kecerdasan Artifisial." Sebuah gagasan besar yang mengingatkan kita agar manusia tidak kehilangan jiwanya di hadapan kepungan algoritma kecerdasan buatan (AI).
Sembari pandangan saya terpaku pada layar besar di depan, tangan saya bergerak secara alami mengelus bulu lembut kucing di samping saya. Di sinilah letak keindahan semiotis yang magis. Di bawah sana, forum ilmiah sedang sibuk mendiskusikan bagaimana menjaga 'rasa' dan 'kemanusiaan' agar tidak digantikan oleh mesin yang dingin. Sementara di atas tumpukan kursi ini, saya langsung mempraktikkannya.
Sentuhan tangan saya pada makhluk bernyawa ini adalah komunikasi non-verbal yang murni sebuah bahasa rasa yang tidak membutuhkan baris kode digital ataupun logika komputasi.
Kucing ini tidak memahami istilah "pedagogi", namun ia mengerti kehangatan, ketenangan, dan cinta kasih dari sebuah elusan. Sesuatu yang sangat organik dan tidak akan pernah bisa direplikasi oleh AI secanggih apa pun.
Terkesima oleh orasi ilmiah yang luar biasa itu, saya menyadari satu hal dari tempat duduk ganjil ini; untuk menjaga kedaulatan makna di era artifisial, kita tidak boleh kehilangan kedekatan dengan alam dan kepekaan humanis yang paling mendasar.
Menyaksikan momen bersejarah ini bersama seekor kucing dari atas tumpukan kursi bukan lagi sekadar kebetulan, melainkan cara alam semesta mempertegas pesan sang profesor: bahwa inti tertinggi dari pendidikan adalah merawat kehidupan dan memanusiakan manusia.(*)
Posting Komentar untuk "Meresapi Makna dari Pojok Aula: Sebuah Kesaksian Humanis._(Momen bersejarah di Ballroom Teater Menara Pinisi UNM. Kamis, 30 Juli 2026)._"