Ketika Mesin Makin Cerdas, Prof. Kamaruddin Hasan Memilih Membela Hati Seorang Guru



          Catatan: Syamsu Marlin*

Di Ruang Teater Menara Pinisi Lantai 3 Universitas Negeri Makassar (UNM), Kamis (30/7/2026), Prof. Dr. Kamaruddin Hasan, S.Ag., M.Pd. berdiri di podium untuk menerima amanah sebagai Guru Besar. Di hadapannya hadir sivitas akademika dan tamu undangan. 

Namun pidato yang ia sampaikan terasa melampaui seremoni. Pidato itu seakan ditujukan kepada seluruh dunia pendidikan yang kini berada di persimpangan zaman.

Di luar gedung, kecerdasan artifisial berkembang dengan kecepatan yang nyaris sulit dibayangkan. AI mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, menulis artikel, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu menyusun karya ilmiah. Perlahan muncul kegelisahan: masihkah guru dibutuhkan ketika mesin semakin cerdas?

Prof. Kamaruddin tidak menjawabnya dengan rasa takut. Ia justru mengajak semua orang melihat sesuatu yang lebih mendasar.

Menurutnya, tantangan terbesar masa depan bukanlah menciptakan mesin yang semakin pintar, melainkan memastikan manusia tidak kehilangan makna, empati, dan nuraninya.

"Mesin bisa memberi jawaban, tetapi tidak bisa mengajarkan kebijaksanaan," tegasnya.

Kalimat itu menjadi denyut utama pidato ilmiahnya berjudul Neuro-Semiotic Pedagogy: Rekonstruksi Pedagogi Humanistik dalam Menjaga Kedaulatan Makna di Era Kecerdasan Artifisial. 

Bagi akademisi kelahiran Barru itu, pendidikan tidak pernah sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia: membentuk karakter, melatih kepekaan, dan menumbuhkan keberanian mengambil keputusan yang benar, bukan sekadar keputusan yang mudah. Di situlah guru memiliki peran yang tak tergantikan.  

Guru katanya bukan hanya pengajar rumus, teori, atau definisi. Guru adalah orang yang mampu membaca kegelisahan dari sorot mata muridnya, hadir ketika mereka kehilangan arah, menguatkan saat mereka gagal, dan menanamkan harapan ketika dunia menawarkan jalan pintas.

Semua itu tidak pernah bisa diprogram ke dalam mesin. AI dapat menyusun ribuan kalimat dalam hitungan detik. Namun AI tidak pernah merasakan kecemasan seorang anak yang takut mengecewakan orang tuanya. AI mampu memberikan jawaban terbaik, tetapi tidak mampu menumbuhkan keberanian untuk bangkit setelah kegagalan.

Teknologi memang akan terus berkembang. Namun tanpa nilai-nilai kemanusiaan, kecerdasan hanya akan menjadi kumpulan data yang kehilangan jiwa.

Melalui konsep Neuro-Semiotic Pedagogy, Prof. Kamaruddin mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan empati, budaya, karakter, dan kebijaksanaan. AI boleh menjadi alat yang luar biasa, tetapi guru tetaplah cahaya yang menunjukkan arah.

Karena sejatinya, sekolah bukan hanya tempat belajar mengenal dunia. Sekolah adalah tempat seseorang belajar menjadi manusia.

Di penghujung pidatonya, Prof. Kamaruddin meninggalkan pesan yang akan terus relevan, bahkan ketika teknologi semakin melampaui imajinasi.

"Kelak, mungkin mesin mampu mengerjakan hampir semua hal. Namun selama manusia masih membutuhkan kasih sayang, keteladanan, kejujuran, kebijaksanaan, dan makna dalam hidupnya, guru akan selalu berdiri di tempat yang tak pernah mampu digantikan oleh kecerdasan buatan." katanya. 

Sebab lanjut mantan Ketua DPD KNPI dan BKPRMI Barru ini, masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang cerdas. Masa depan membutuhkan manusia yang berhati. Dan di sanalah, seorang guru akan selalu menemukan alasan untuk tetap ada.

Lantas siapakah  Prof. Dr. H. Kamaruddin Hasan, S.Ag.,M.Pd.?. Kamaruddin Hasan, lahir di Barru, 31 Januari 1973. Ia menempuh pendidikan di IAIN Alauddin, Universitas Negeri Makassar, dan UIN Alauddin Makassar. 

Selama lebih dari dua dekade ia mendedikasikan diri sebagai dosen, peneliti, pemimpin akademik, dan birokrat pendidikan. Ia pernah menjabat Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Barru, Ketua STIA Al Gazali Barru, hingga Rektor ITBA Al Gazali Barru.

Di Universitas Negeri Makassar, ia mengajar pada jenjang sarjana dan pascasarjana dengan fokus pada bidang ilmu pendidikan. 

Ia juga aktif menghasilkan penelitian, buku, dan artikel ilmiah. Prof. Kamaruddin juga mengembangkan konsep Neuro-Semiotic Pedagogy yang menegaskan pentingnya peran guru sebagai pembentuk karakter di era kecerdasan artifisial. Atas dedikasi dan kontribusinya, ia dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Ilmu Pendidikan dan Keguruan Universitas Negeri Makassar. 

*) Syamsu Marlin, wartawan tinggal di Barru. 


Posting Komentar untuk "Ketika Mesin Makin Cerdas, Prof. Kamaruddin Hasan Memilih Membela Hati Seorang Guru"