Di Bawah Cahaya Api dan Denting Lesung, Gattareng Menjaga Jati Diri


Barru -B88News.id-  Malam baru saja turun ketika denting alu mulai memecah keheningan Lapangan Dusun Lempang, Desa Gattareng, Kecamatan Pujananting, Sabtu (25/7/2026). 

Suara kayu yang beradu di atas lesung berpadu dengan sorak warga yang memenuhi arena. Di tengah cahaya lampu dan kobaran api yang mengiringi Tari Sere Api, masyarakat berkumpul bukan sekadar menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi merayakan warisan yang telah hidup dari generasi ke generasi.

Festival Mappadendang dan Tari Sere Api (menari diatas bara api) malam itu resmi dibuka oleh Wakil Bupati Barru, Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si., mewakili Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari. Namun, yang menjadi pusat perhatian bukan hanya seremoni pembukaan, melainkan bagaimana sebuah desa memperlihatkan kebanggaannya terhadap budaya yang tetap bertahan di tengah derasnya arus modernisasi.

Bagi masyarakat Bugis, Mappadendang bukan sekadar atraksi. Tradisi ini lahir dari rasa syukur atas panen yang melimpah. Setiap hentakan alu pada lesung seakan menjadi doa yang dipanjatkan bersama, sementara irama yang tercipta menggambarkan semangat gotong royong yang selama ini menjadi denyut kehidupan masyarakat desa.

"Festival seperti ini harus dikenal lebih luas. Videonya harus diviralkan melalui media sosial. Anak-anak KKN juga saya minta ikut membantu mempromosikan agar dunia mengetahui kekayaan budaya Gattareng," ujar Abustan di hadapan ratusan warga.

Pesan itu bukan tanpa alasan. Di mata pemerintah daerah, budaya hari ini tidak lagi cukup hanya dipertontonkan kepada masyarakat sekitar. Budaya harus hadir di ruang digital, dikenalkan kepada generasi muda, bahkan menjadi daya tarik yang mampu mengundang wisatawan datang langsung ke desa.

Di balik semarak festival, tersimpan kabar yang turut membahagiakan para petani. Harga gabah yang kini mencapai Rp7.400 per kilogram menjadi angin segar bagi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor pertanian. 

Bagi Abustan, keberhasilan panen dan tradisi Mappadendang adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya menjadi simbol kesejahteraan sekaligus rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta.

Ia pun mengingatkan bahwa Mappadendang yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kab. Barru harus terus dijaga. Menurut Abustan, Gattareng memiliki keistimewaan karena mampu mempertahankan adat istiadat di tengah pertemuan berbagai budaya dari daerah tetangga seperti Kab. Bone, Maros, hingga Pangkep.

"Kalau budaya kita hilang, masa depan juga akan kehilangan jati dirinya. Karena itu budaya harus tetap dipelihara dan menjadi kebanggaan bersama," tegasnya.

Lebih jauh, Abustan melihat Gattareng bukan hanya sebagai desa yang kaya tradisi, tetapi juga memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata budaya. Hamparan persawahan, panorama pegunungan, Kopi Gattareng yang khas, hingga dodol kacang produksi masyarakat dinilai dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru apabila dipadukan dengan kekayaan budaya yang dimiliki.

Ia pun meminta Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Pemuda Olahraga bersama Dinas Pangan, Ketahanan Pangan,  Kabupaten Barru menyusun langkah strategis agar seluruh potensi tersebut dapat dikembangkan secara terpadu. 

Baginya, ketika budaya dirawat, pariwisata tumbuh, dan UMKM berkembang, maka kesejahteraan masyarakat akan ikut meningkat.

Di sela-sela sambutannya, Abustan juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat gotong royong yang menjadi ciri masyarakat pedesaan. Memasuki musim kemarau, ia turut mengimbau warga agar lebih waspada terhadap potensi kebakaran, baik akibat penggunaan kompor maupun korsleting listrik saat mengisi daya telepon genggam.

Malam itu juga menjadi ruang penghargaan bagi mereka yang setia menjaga warisan leluhur. Wakil Bupati memberikan apresiasi kepada Nur Amin, S.Pd., selaku penggiat pelestari budaya bersama seluruh panitia yang telah menginisiasi festival melalui dukungan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan. 

Pemerintah Kabupaten Barru bahkan berkomitmen memberikan penghargaan sebagai bentuk dukungan terhadap dedikasi mereka dalam melestarikan budaya lokal.

Bagi Nur Amin, perjuangan menghadirkan festival ini bukanlah perjalanan singkat. Ada proses panjang yang dilalui bersama masyarakat hingga akhirnya Mappadendang dan Tari Sere Api kembali bergema di tanah Gattareng.

"Budaya adalah ruh kehidupan sekaligus perekat persatuan masyarakat. Menjaga budaya berarti menjaga jati diri bangsa," ujarnya.

Ketika denting lesung perlahan mereda dan kobaran api mulai mengecil, satu pesan tetap tinggal di benak setiap orang yang hadir malam itu yakni budaya bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah denyut kehidupan yang terus menghidupkan sebuah desa, menguatkan identitas masyarakat, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih sejahtera. (syam) 

Posting Komentar untuk "Di Bawah Cahaya Api dan Denting Lesung, Gattareng Menjaga Jati Diri"