Pendidikan Gagal: Dunia Terpuruk dalam Lingkaran Dentuman Perang dan Kemiskinan

Oleh: Sudarto (Dosen Fakultas Pendidikan Universitas Negeria Makassar)


Di tengah gemerlap teknologi dan janji-janji kemajuan abad ke-21, dunia justru terjebak dalam pusaran kegagalan pendidikan yang mengerikan. Pendidikan, yang sejatinya menjadi mercusuar harapan, kini tampak gagal total. Perang meletus di mana-mana, dari Timur Tengah hingga Eropa Timur, dari Afrika hingga Amerika dan Asia. Pengetahuan yang dipelajari di sekolah-sekolah ternama selama bertaun-tahun tak lagi melayani kesejahteraan umat manusia, melainkan menjadi alat untuk saling membunuh. 

Triliunan dolar yang dikucurkan untuk senjata canggih seharusnya bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup miliaran orang di bumi. Ini bukan sekadar opini; ini adalah jeritan darurat dari sebuah sistem pendidikan global yang telah kehilangan arah.

Bayangkan saja: setiap tahun, dunia menghabiskan ribuan miliar dolar untuk industri militer. Angka itu setara dengan anggaran kesehatan dan pendidikan global gabungan. Jika dialihkan, uang itu bisa menghapus kelaparan, membangun rumah sakit di pelosok desa, dan menyekolahkan setiap anak di planet ini. Namun, realitasnya jauh dari itu. Pendidikan global gagal karena tak lagi mengajarkan nilai kemanusiaan, melainkan membiarkan ilmu pengetahuan direkayasa untuk saling menghancurkan.

Akar Kegagalan: Pendidikan Humanis yang Terlupakan

Pendidikan modern lahir dari mimpi para filsuf seperti Plato dan Konfusius, yang memandang ilmu sebagai jalan menuju harmoni sosial. Tapi hari ini, di tahun 2026, mimpi itu pupus. Lihat konflik di Ukraina, Gaza, Sudan, dan Myanmar. Di sana, insinyur lulusan universitas top merancang drone pembunuh, senjata pemusnah, dan kapal pembawa hulu maut,  ahli kimia menciptakan gas beracun, dan programmer membangun AI untuk targeting melenyapkan musuh. 

Pengetahuan mereka bukan untuk kesejahteraan, tapi untuk kematian massal. Mengapa ini terjadi? Pertama, kurikulum pendidikan global terlalu fokus pada STEM—sains, teknologi, rekayasa, dan matematika—tanpa humanistis: etika dan keimanan yang kuat. Di Amerika Serikat, dana riset militer mencapai ratusan miliar dolar per tahun, menarik talenta terbaik ke proyek senjata. Di China dan Rusia, program pendidikan nasional memprioritaskan teknologi pertahanan. 

Hasilnya? Generasi muda  mereka yang brilian tapi kehilangan empati. Sebuah studi dari UNESCO tahun lalu menunjukkan bahwa 70% mahasiswa teknik di negara-negara maju tak pernah mempelajari etika perang atau hak asasi manusia secara mendalam.

Kedua, ketimpangan akses pendidikan memperburuk situasi. Di negara miskin seperti Yaman atau Haiti, jutaan anak tak sekolah karena perang atau kemiskinan. Mereka tumbuh menjadi tentara anak atau korban kekerasan, jauh dari sebutan “inovator”. Sementara itu, di negara kaya, pendidikan elit melahirkan pemimpin yang memilih “hobby” perang daripada diplomasi dan kedamaian sejati. 

Bayangkan, jika pidato seorang presiden dari suatu negara  yang sejatinya melindungi dunia bilang: "Kekuatan adalah perdamaian." Kata-kata ini mencerminkan kegagalan pendidikan yang memuja-muja militerisme.

Perang di Mana-Mana: Bukti Nyata Kegagalan

Perang bukan kebetulan; ia adalah produk sampingan pendidikan yang salah arah. Ambil contoh konflik Israel-Palestina. Ribuan lulusan teknik dari MIT dan Tel Aviv University merancang Iron Dome, sistem pertahanan canggih seharga miliaran dolar dan persenjataan canggih. Di sisi lain, ilmuwan Palestina menggunakan pengetahuan kimia untuk membuat roket roket pertahanan. Pengetahuan yang sama bisa membangun irigasi gurun atau rumah sakit, tapi terpakas dipilih untuk mempertahankan diri dari gempuran Israel.

Di Ukraina, perang dengan Rusia telah menewaskan ratusan ribu nyawa sejak 2022. Drone Bayraktar TB2, dibuat dengan teknologi modern, menjadi simbol kekuatan. Para insinyurnya adalah produk pendidikan Eropa yang hebat, tapi hasilnya adalah kehancuran kota-kota. Biaya satu drone saja mencapai sekitar 5 juta dolar—cukup untuk membangun 500 sekolah dasar di Afrika. 

Afrika tak luput. Di Sudan, perang saudara memakan korban sekitar 20.000 jiwa tahun ini saja. Pengetahuan agronomi yang dipelajari di universitas lokal tak digunakan untuk panen padi, melainkan untuk strategi gerilya. Sementara itu, pengeluaran militer Afrika mencapai 50 miliar dolar per tahun, padahal benua itu membutuhkan 100 miliar untuk infrastruktur air bersih.

Data PBB mencatat: sejak tahun 2000, lebih dari 50 konflik bersenjata terjadi secara aktif, mayoritas melibatkan teknologi tinggi dari lulusan pendidikan formal ternama. Ini bukti bahwa sekolah dan perguruan Tinggi gagal menanamkan nilai perdamaian. Albert Einstein pernah bilang, "Pendidikan itu bukan apa yang kamu pelajari dari buku, tapi apa yang kamu terapkan dalam kehidupan." Sayangnya, aplikasi hari ini adalah bom dan peluru kendali.

Biaya Senjata: Triliunan yang Hilang untuk Kemanusiaan

Mari kita hitung untung-rugi secara sederhana. Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), pengeluaran militer global 2025 mencapai 2,4 triliun dolar AS. Itu naik 7% dari tahun sebelumnya, didorong perang dan ketegangan AS-China.

Bayangkan alokasi ulang: Kesehatan: 1 triliun dolar bisa vaksinasi seluruh dunia dan bangun 10.000 rumah sakit baru; Pendidikan: 500 miliar dolar cukup untuk sekolah gratis bagi 250 juta anak miskin; Pangan dan Air: 400 miliar dolar bisa akhiri kelaparan kronis yang diderita 800 juta orang; dan  Lingkungan: Sisanya untuk reboisasi dan energi hijau, cegah bencana iklim.

Contoh nyata: F-35 fighter jet AS harganya 1,7 triliun untuk program penuh. Uang itu bisa beri makan 1 miliar orang selama setahun. Atau, rudal hipersonik Rusia seharga 10 juta dolar per unit—cukup bangun 1.000 sumur air di Gaza.

Alih-alih, uang ini mengalir ke perusahaan seperti Lockheed Martin dan Raytheon, yang untung triliunan dari perang. Pendidikan gagal karena tak mengajarkan anak muda bahwa inovasi untuk senjata adalah pengkhianatan terhadap umat manusia. Sebaliknya, kurikulum harus prioritaskan pengembangan gizi, energi terbarukan, dan pertanian pintar.

Jalan Keluar: Reformasi Pendidikan Mendesak

Untuk lepas dari lingkaran ini, dunia butuh revolusi pendidikan. Pertama, integrasikan etika global ke setiap mata pelajaran dan mata kuliah. Ajarkan sejarah perang bukan sebagai glorifikasi, tapi pelajaran kegagalan yang harus menjadi inspirasi dalam menghindari  perang. Kedua, alihkan dana riset militer ke sipil dan kesejahteraan. Pemimpin pemerintahan dunia, seperti AS bisa potong 20% anggaran pertahanannya—setara 200 miliar dolar—untuk beasiswa kuliah perdamaian.

Ketiga, libatkan pemuda. Program seperti tukar pelajar atau mahasiswa antarnegara yang berkesinambungan untuk bangun empati dan solidaritas lintas negara. Keempat, teknologi AI harus diarahkan untuk kegiatan dan program bertujuan yang baik: bukan drone pembunuh, tapi AI prediksi konflik dan mediasi agar konflik gagal terjadi.

Negara seperti Finlandia tunjukkan jalan: sistem pendidikannya top dunia, fokus kesejahteraan, dan negara itu damai. Indonesia punya potensi dengan 50 juta pelajar; jika pendidikan kita reformasi, kita bisa pimpin Asia bebas perang dan dunia penuh kedamaian.

Panggilan untuk Aksi

Tapi, jangan putus  asa! Kegagalan pendidikan ini bukan akhir cerita. Ia adalah panggilan yang bangunkan kita para insan pendidik. Pemimpin dunia, mulai dari Amerika, Eropa, Afrika dan Asia, harus sadar: pengetahuan untuk membunuh  sesama adalah dosa terbesar manusia. Alihkan biaya senjata ke kebutuhan hidup, dan dunia pun akan berubah dalam satu generasi.

Para orang tua, guru, dan pelajar: tuntut perubahan! Tanda tangani petisi PBB untuk "Pendidikan Perdamaian Global". Bagikan artikel ini sebisa mungkin. Karena jika pendidikan gagal, tak ada harapan lain. Dunia kita terlalu berharga untuk dikorbankan demi peluru dan bom. 

Saatnya menata ulang pendidikan global demi hilangnya bau mesiu dan kembalinya kesadaran manusia untuk hidup secara damai dari Barat hingga Timur, dari Utara hingga Selatan.(*) 

Posting Komentar untuk "Pendidikan Gagal: Dunia Terpuruk dalam Lingkaran Dentuman Perang dan Kemiskinan"