Dari “Guru Serba Bisa” Menjadi “Guru Karena Bisa”: Mengapa Siswa Kita Gagal Paham Pelajaran?

Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)

Bayangkan seorang guru matematika yang ditugaskan mengajar Fisika kelas XI. Ia hafal rumus integral, tapi saat bicara Usaha, siswanya bengong. "Gaya itu apa, Bu?" tanya seorang murid. Guru itu tersenyum, "Nanti cari sendiri di buku ya." Kelas berlalu sebagai formalitas, siswa pulang tanpa paham apa-apa. Ini bukan cerita lama, tapi realitas kelas di banyak sekolah Indonesia hari ini. Dari "Guru Serba Bisa" yang mengajar apa saja demi mutasi jabatan, kita butuh transformasi ke "Guru Karena Bisa"—ahli sejati yang menguasai materi dan tahu cara menyampaikannya.

Fenomena ini jadi biang kerok rendahnya kualitas pendidikan kita. Hasil PISA 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 70-an dari 80 negara untuk literasi, matematika, dan sains. Siswa tak paham bukan karena bodoh, tapi guru sering tak menguasai bidangnya. Saatnya sadar: guru bukan sekadar pengisi kelas, tapi arsitek pemahaman siswa. Mereka harus kuasai isi materi, pahami esensinya, dan pandai menyulapnya jadi pelajaran hidup.

Jerat Sistem: Guru Serba Bisa, Materi Asing

Di Indonesia, sistem penempatan guru penuh paradoks. Banyak guru bersertifikat IPA dipaksa ngajar IPS, atau sebaliknya, alasannya: kekurangan tenaga pengajar terutama di daerah terpencil. Data Kemendikbudristek 2024 menyebut 30% guru SD mengajar di luar bidang keahlian. Di SMA, angkanya tak jauh beda: 25% guru fisika ajarkan ekonomi, guru bahasa Inggris ajarkan sejarah. Alasannya? Kebutuhan lapangan tak sinkron dengan formasi. Guru mutasi ke kota besar demi gaji lebih atau alasan lainnya, tinggalkan sekolah pelosok dengan stok minim.

Akibatnya, pengajaran jadi formalitas. Guru baca slide PowerPoint tanpa paham konteks, siswa hafal rumus tanpa mengerti makna dan tujuan. Seorang guru bahasa Indonesia yang sebenarnya lulusan teknik sipil, mengajar puisi Chairil Anwar dengan mengandalkan Google site. Siswa bertanya metafor, jawabannya: "Yang penting hafal untuk ujian." Hasilnya? Nilai bagus di kertas, tapi nol pemahaman. Laporan Bank Dunia 2025 ungkap, 40% lulusan SMA tak kompeten di bidang dasar karena "guru sendiri tak kompeten materi".

Ini bukan salah individu, tapi sistem. Program PPG (Pendidikan Profesi Guru) fokus sertifikasi umum, bukan spesialisasi mendalam. Guru dilatih serba bisa, tapi lapangan butuh spesialis “guru Bisa”. Bandingkan dengan Finlandia, mislanya, di mana guru harus menguasai betul bidangnya plus pedagoginya yang mumpuni. Hasilnya? Siswa mereka top PISA dan pemahaman siswa mereka mendalam terhadap setiap topik.

Dampak Nyata: Siswa Hilang Arah, Bangsa Tertinggal

Bayangkan dampaknya di kehidupan nyata. Misal, siswa yang tak paham kimia organik dari guru non-kimia, lulus jadi teknisi pabrik, akhirnya gagal inovasi. Di era Industri 4.0, kita butuh anak muda paham betul setiap pengetahuan dan keterampilan—bukan hanya berakhir di hafalan. Hafalan baru tahap 1, masih ada 5 tahap selanjutnya: pemahaman, aplikasi, analisis, evaluasi dan creat. Survei McKinsey 2025 tunjukkan, 60% pekerja muda Indonesia tak siap kerja karena gap skill dasar dari sekolah.

Cerita pilu sering terdengar. Seorang guru olahraga ajarkan matematika, siswa kelas 12 tak bisa kalkulus saat SNMPTN. Atau guru agama ajarkan fisika, hukum Newton disamakan dengan hukum berkaitan ayat suci atau hadits. Siswa pulang bingung, orang tua frustasi, guru capek pura-pura pintar. Akhirnya, pendidikan jadi pabrik ijazah, bukan pabrik orang pintar.

Saatnya Revolusi: Guru Karena Bisa, Bukan Karena Ada

Sudah waktunya guru jadi ahli sejati. Kuasai materi betul-betul: tahu isi dari A sampai Z, pahami aplikasi nyata, dan kreatif ajarkan supaya siswa paham. Bukan lagi "Guru Serba Bisa", tapi "Guru Karena Bisa"—kompeten, percaya diri, dan inspiratif.

Bagaimana caranya? Mulai dari diri guru. Ikuti pelatihan mandalam bidang matematika, IPA, IPS, Bahasa, dan seterusnya, gabung komunitas seperti “Guru IPA Kreatif” atau “Guru Matematika Hebat” di platform Merdeka Mengajar. Pelajari pedagogi aktif: gunakan eksperimen sederhana untuk biologi, fisika dan  kimia, simulasi virtual untuk sejarah, gamifikasi untuk matematika. Contoh: guru fisika bikin roket air dari botol bekas, siswa paham gaya dorong sambil seru-seruan.

Sekolah harus dukung: alokasikan jam pelatihan mingguan, pairing guru senior junior per bidang. Hindari penugasan lintas disiplin kecuali darurat dan sangat mendesak.

Peran Pemerintah dan Masyarakat: Bangun Ekosistem Pendidikan Unggul

Pemerintah pegang kunci utama. Reformasi formasi guru: prioritaskan spesialisasi saat rekrutmen PPG, target minimal 50% guru untuk ikut pelatihan pendalaman materi dari SD sampai SMA. Evaluasi kemampuan guru secara periodik. Lakukan pelatihan yang kontinyu untuk pendalaman materi..

Menuju Generasi Emas yang Benar-Benar Paham

Dengan transformasi ini, Indonesia bisa lahirkan generasi emas 2045 yang tak hanya hafal, tapi paham dan cipta. Bayangkan siswa SD paham siklus metamorfosis kupu-kupu dan bisa ternak kupu-kupu, SMA paham perubahan iklim dengan baik sehingga bisa prediksi kapan akan terjadi banjir rob. Guru jadi pahlawan bangsa, siswa jadi pemimpin masa depan. Dari formalitas kelas ke pemahaman abadi—itulah jalan menuju pendidikan berkualitas. Guru, saatnya bangkit! Pemerintah, saatnya action! Demi anak-anak kita yang layak dapat masa depan yang lebih baik.

Posting Komentar untuk "Dari “Guru Serba Bisa” Menjadi “Guru Karena Bisa”: Mengapa Siswa Kita Gagal Paham Pelajaran?"