Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Bayangkan seorang petani Bugis di sebuah desa pinggir kota Bulukumba, panen padi pas-pasan tapi tetangganya bangun perahu pinisi mewah. "Sudahlah syukuri saja," bisik orang bijak desa, "jangan iri usaha lebih." Petani itu pun pasrah, tanahnya mandul tahun depan.
Kisah nyata salah kaprah bersyukur: diartikan pasif terima nasib, tak boleh usaha lebih baik, tak boleh punya keinginan lain—akibatnya stagnasi kemiskinan, kebodohan, bangsa pun tertinggal. Padahal QS Ibrahim:7 tegas janji Allah, "Jika kamu bersyukur, pasti Kami tambah nikmatmu."
Syukur seharusnya aktif dan berarti menerima: terima apa yang diberikan Allah, banyak atau sedikit, jangan hanya terima yang banyak nolak yang dikit apalgi nolak yang banyak-itu sungguh kufur namanya. Dapat sedikit terima dengan ikhlas sambil berusaha raih yang lebih banyak lagi, seperti Nabi Muhammad SAW bangun masjid sambil dakwah (dapat pahala masjid dapat lagi pahala dakwah), sahabat kaya bangun ekonomi umat (sudah kaya, bangun lagi umat semakin banyak pahala didapat).
Salah paham ini racun kemajuan Indonesia—waktu umat pasrah "syukur", Singapura malah bergerak cepat dari miskin ke kaya raya. Saatnya benahi makna: syukur artinya terima, jangan nolak-nolak pemberian Allah tandanya sombong, syukur itu dinamis dorong inovasi, syukur itu syarat awal bukan akhir, usaha ikhlas tambah rezeki, bangsa jaya dunia akhirat pun selamat.
Salah kaprah bersyukur lahir budaya pasif: "Sudah nasib, syukuri saja." Di desa Takalar, anak muda tolak kuliah "syukurlah, jadi nelayan saja seperti bapak, tidak usah aneh-aneh." UMKM tutup toko online "syukur dagang keliling saja cukup." Akibatnya? Kemiskinan turun temurun jadi warisan, SDI Indonesia mentok di 71,8 (peringkat 120 dunia). Padahal, QS An-Nahl:114 peringatkan, "Makanlah yang halal lagi baik... syukurilah nikmat Allah." Syukur bukan diam, tapi aksi nikmat halal lebih baik. Hadits Nabi: "Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah," (HR Tirmidzi)—syukur berarti menerima dan tandanya mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu, aktif balas budi, usaha tingkatkan diri. Kaum Nuh banyak kufur: syirik patung lalu rusak alam, banjir azab—kita? rusak hutan tambang liar, banjir Sumatera 2025. Syukur alam? Tanam pohon sambil infak reboisasi, bukan pasrah longsor tanpa usaha nyata.
Realitas pilu: survei BPS 2025, 25 juta miskin kronis "sudah syukur." Pengusaha pemula gagal "nasib," tak belajar strategi. Padahal Rasulullah kaya dagang, bangun ekonomi Madinah—syukur harta zakat bangun umat. Imam Ghazali, teori syukur aktif: ilmu pahami nikmat, lisan ucap terimakasih dan hamdalah, hati ridha, anggota badan aksi tingkatkan. Syukur pasif kufur nikmat, QS Ibrahim:7 ancam azab pedih. Kaum Saba' taman subur tak syukur, banjir lumpur gersang—mirror kita deforestasi, banjir Jakarta tahunan. Syukur benar: terima musim kering, usaha irigasi sumur bor, hasil melimpah.
Akibat salah kaprah dahsyat sungguh: generasi Z pasrah konten medsos "syukur warisan," tak ada skill digital—unemployment capai 15%. Petani organik gagal "syukur padi biasa," tak belajar hidroponik, tak belajar tingkatkan panen. Buruh migran pulang miskin "nasib," tak usaha UMKM. Bangsa stagnan: GDP per capita $4.300 (peringkat 105 dunia) padahal alam kita kaya raya, Singapura $82.000 dari nelayan jadi penghubung dunia. QS Al-Insan:3, "Kami tunjuk jalan lurus, ada yang syukur ada yang kufur." Syukur pilih jalan tambah nikmat: terima gaji UMR, usaha skill sertifikasi naik karir. Hadits Ibnu Abu Dunya: "Alhamdulillah sekali wajib nikmat lagi,"—syukur magnet rezeki, kufur pangkal bencana.
Cara syukur dinamis praktis. Pertama, lisan verbal: aaa’terima kasih ya Allah atas pemberianMu’ sambil ucap hamdalah pagi petang, "Alhamdulillah," merasut dalam hati lalu selalu olahraga tingkatkan stamina. Kedua, hati ridha: terima kenyataan "syukur pengalaman," belajar lebih giat lagi atau bekerja lebih semangat lagi. Ketiga, aksi optimalisasi: syukuri motor butut, nabung beli motor baru; syukuri S1, sambil belajar untuk S2; syukuri uang 5 ribu sambil berusahan dan nabung dapat 5 juta. Keempat, gunakan pemberian Allah pada jalan yang benar, jalan yang diridloiNya. Kelima, bergembira atas pemberian Allah-tanda syukur paling mudah dilihat “gembira”.
Syukur bukan pasrah, tapi bahan bakar kemajuan. Terima pemberian Allah apa adanya, sambil usaha raih lebih baik lagi; terima hasil usaha yang ada sambil berusaha lebih giat untuk dapatkan hasil lebih baik lagi; bersyukur—nikmat bertambah QS Ibrahim:7, bangsa jaya dunia akhirat. Indonesia emas bukan mimpi: syukur dinamis lahirkan generasi progresif. Syukur dan Hamdalah pagi, usaha siang, tambah nikmat malam. Syukur benar, jauhi murka Allah, kemajuan nyata!. Semakin hari Indonesia semakin maju, bukan stagnan apalagi turun.(*)
Posting Komentar untuk "Syukur Bukan Batasi Keinginan: Salah Kaprah “Syukur” Cekal Kemajuan Bangsa!"