Banjir dan Longsor: Teguran Sang Pencipta Panggil Taubat Kaffah—Agama Nyata, Indonesia Aman nan Jaya!"

     Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP                    Universitas Negeri Makassar)

Air menggelegak ganas menyapu desa-desa, tanah longsor mengubur harapan, ribuan sekolah Sumatera porak-poranda, ratusan rumah ibadah hancur, ratusan jiwa hilang dalam sekejap. 

Banjir dan longsor 2025 di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan sekadar fenomena alam—ia teguran lembut Sang Pencipta agar manusia kembali sadar akan dosa kolektif yang merusak bumi. 

Deforestasi liar, tambang ilegal, sampah mencekik sungai, korupsi bendungan: tangan kita picu malapetaka ini, seperti firman-Nya dalam QS Ar-Rum ayat 41, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali sadar." 

Kemendikdasmen sudah gerak cepat dengan miliaran bantuan darurat, voucher jutaan per sekolah, dan tenda kelas sementara sudah terbagikan, tapi solusi akar lebih dalam: bencana ini dorong pelaksanaan agama secara nyata dan penuh kesadaran, menyeluruh kaffah, mulai dari sekolah dan rumah tangga, didukung pemerintah serta masyarakat. 

Saatnya agama bukan hanya formalitas ritual kering, jadikan pelaksanaan agama kontinyu dan kaffah demi Indonesia aman dari bencana, jaya selamat dunia akhirat. ​

Banjir dan longsor 2025 bukan kebetulan musiman, melainkan jeritan bumi yang tercekik ulah manusia. BMKG catat curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim, tapi pemerintah telusuri akarnya: kerusakan lingkungan masif dari pembalakan hutan lindung untuk villa elite, tambang emas ilegal yang rusak DAS, dan sampah rumah tangga yang menyumbat sungai hingga meluap. Saatnya taubat ekologis nasional, karena hutan hilang berarti air tak lagi diserap, longsor datang saat tanah kehilangan akar pohon pelindung.

Bencana bukan azab buta, tapi pembersih dosa dan pengingat taubat, seperti sabda Rasulullah, "Musibah itu menimpa kaum karena dosa-dosa mereka, dan Allah akan mengangkatnya jika mereka bertaubat" (riwayat Ahmad). Sekolah rusak jadi simbol: pendidikan gagal tanam taqwa alam, agama terjebak formalitas, masyarakat lupa amanah bumi sebagai khalifah. ​

Formalitas agama tanpa implementasi saat ini justru undang bencana: siswa hafal ayat tapi rusak alam, hafal toleransi tapi ribut medsos provokasi. Capaian Pembelajaran PAI 2025 ubah paradigma: holistik PBL taubat ekologis, guru bukan hafiz tapi aktor perubahan—ajar istighfar sambil tanam pohon, empati korban sambil gotong bencana. Rumah tangga jadi benteng kedua: orang tua workshop parenting taqwa-digital, ajar anak kompos sampah jadi pupuk, cerita Nabi Ayyub sabar longsor. 

Pemerintah fasilitasi dana BOS plus wakaf nasional DAS, Kemenag ceramah Jumat tema sila 3 gotong alam. Masyarakat aktif RT cyber patrol anti hoax bencana, infak rutin penjaga hutan. Hadits Nabi lengkapi: "Sedekah memadamkan dosa seperti air memadamkan api"( riwayat Tirmidzi)—infak reboisasi padam dosa deforestasi. "Lima hal rusak negeri: zina, riba, memakan harta yatim, fitnah, perang saudara," tambah pelit lingkungan picu banjir. ​

Pelaksanaan kaffah ini hasilkan Indonesia aman jaya. Sekolah lahirkan siswa penjaga bumi: anti korupsi bendungan, toleransi gotong bencana lintas agama. Rumah tangga bentuk keluarga taubat: mandiri kompos, syukur curah hujan. Pemerintah wujudkan kebijakan hijau: nol tambang liar, bendungan ramah lingkungan. Masyarakat rajut harmoni: wakaf hutan abadi. 

Tantangan besar tapi solusi menyeluruh. Guru formalis diatasi training tahunan empati ekologis, siswa medsos lewat literasi digital taubat, orang tua sekuler  diubah via workshop bulanan, fasilitas minim ditutup BOS wakaf CSR. Pemerintah petakan guru terdampak, masyarakat RT gotong, sekolah pionir istighfar massal. Bencana bukan akhir, tapi awal kesadaran: teguran Pencipta dorong agama nyata kaffah, mulai sekolah-rumah, didukung pemerintah-masyarakat.

Bayangkan Indonesia hijau aman: sungai jernih bebas sampah, hutan lindung abadi, sekolah taqwa gotong bencana, rumah tangga istighfar harian, pemerintah wakaf DAS nasional, masyarakat infak reboisasi. Banjir jadi cerita masa lalu, longsor tinggal kenangan, Indonesia jaya superpower akhlak—maju dunia, selamat akhirat. 

Saatnya taubat kaffah: guru pionir sila ketuhanan syukur alam, siswa pewaris gotong royong, keluarga benteng mandiri taqwa, bangsa aman jaya. Hari ini mulai: istighfar pagi cegah banjir, tanam pohon siang cegah longsor, gotong malam cegah bencana. Teguran Sang Pencipta, jawab dengan pelaksanaan agama nyata! ​(*) 

Posting Komentar untuk "Banjir dan Longsor: Teguran Sang Pencipta Panggil Taubat Kaffah—Agama Nyata, Indonesia Aman nan Jaya!""