Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, di mana gadget dan kesibukan merenggut waktu kita, ada satu ilmu yang sering terlupakan namun paling mulia: mengenal Allah SWT. Bukan sekadar hafalan nama atau ritual, tapi pengenalan mendalam yang menyentuh hati, mengubah pandangan hidup, dan membawa ketenangan abadi.
Sayangnya, ilmu ini belum banyak dipelajari secara serius, padahal ia adalah fondasi segala kebaikan. Dengan mengenal Allah, manusia belajar takut berbuat salah, menjadikan : harta sebagai alat ibadah, jabatan sebagai sarana membangun umat, ilmu sebagai cahaya untuk menerangi dunia, dan hidup penuh makna.
Bayangkan sebuah pohon yang akarnya kuat tertanam di tanah subur; begitulah jiwa yang mengenal Penciptanya. Tanpa ilmu ini, manusia seperti kapal tanpa nahkoda, hanyut oleh nafsu dan duniawi. Namun, saat hati terbuka pada keagungan Ilahi, segala tindakan berubah: dari egois menjadi dermawan, dari takut miskin menjadi tawakal penuh syukur. Artikel ini mengajak kita merenung, mengapa mengenal Allah begitu penting, dan bagaimana ia menyulap kehidupan biasa menjadi luar biasa.
Takut Berbuat Salah: Benteng Hati yang Kokoh
Salah satu buah terindah dari mengenal Allah adalah rasa takut yang mulia, bukan ketakutan rendah, melainkan khasyah yang membuat hati gemetar saat ingin berbuat dosa. Manusia yang mengenal sifat Allah—seperti Maha Mengetahui (Al-'Alim) dan Maha Melihat (Al-Bashir)—tahu bahwa tak ada satu hembusan napas pun yang luput dari pengawasan-Nya. Ia seperti anak yang segan melukai hati orang tuanya atau karyawan yang sungkan untuk tidak memenuhi target pimpinannya; tak ingin mengecewakan Yang Maha Pengasih.
Dalam kehidupan sehari-hari, rasa takut ini menjadi pelindung. Saat godaan datang—baik korupsi di tempat kerja, gosip di antara teman, atau amarah di rumah—hati yang mengenal Allah langsung berpikir: "Apakah ini ridha-Nya?" Akibatnya, dosa pun tertunda dan menjauh, amal saleh pun mengalir deras. Banyak orang sukses materi tapi hancur batin karena tak mengenal-Nya; sebaliknya, mereka yang kenal Allah, meski sederhana, hidupnya damai karena selalu waspada. Ilmu ini, jika diajarkan sejak dini, akan membentuk generasi yang jujur dan bertakwa.
Harta Bukan untuk Sombong, Tapi Menolong Sesama
Harta sering menjadi ujian terberat. Bagi yang tak mengenal Allah, kekayaan jadi alat sombong: mobil mewah untuk pamer, rumah besar untuk gengsi. Tapi bagi yang mengenal-Nya sebagai Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), harta hanyalah amanah sementara untuk ibadah. Ia belajar bahwa rezeki datang dari langit, bukan dari tangan manusia, sehingga hati lapang berbagi.
Bayangkan seorang pengusaha yang setiap pagi tadabbur Al-Quran, lalu membuka kantornya untuk zakat karyawan atau bantuan yatim piatu atau memberi makan para musafir atau dapur umum untuk siapa saja butuh makan. Harta baginya bukan tujuan, tapi sarana mendekat kepada Allah—membangun masjid, memberi beasiswa, membangun jalan, atau menyantuni fakir miskin. Ini bukan karunia acak; mengenal sifat Allah Ar-Rahman (Maha Pengasih) membuatnya sadar: "Harta ini milik-Nya, aku hanya hamba yang diuji." Akibatnya, kekayaan tak lagi membebani, malah jadi ladang pahala yang abadi.
Di Indonesia, negeri berkah alamnya melimpah, banyak cerita inspiratif seperti filantropis yang diam-diam menolong ribuan anak sekolah karena dorongan iman. Mereka paham: sombong menghancurkan, sedekah menyucikan. Jika ilmu mengenal Allah lebih digaungkan, korupsi dan keserakahan akan surut, diganti budaya berbagi yang memperkuat ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah.
Hidup Penuh Makna: Dari Duniawi ke Akhiratwi
Mengenal Allah mengubah prioritas hidup. Yang dulu sibuk mengejar jabatan, kini fokus ibadah dan keluarga; yang dulu gelisah masa depan, kini tawakal karena yakin Allah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Setiap ujian—sakit, kemiskinan, atau kehilangan—jadi pelajaran: "Ini rancangan-Nya untuk mendekatkanku padaNya."
Lebih dari itu, pengenalan ini membuka pintu ma'rifat, di mana hati "melihat" kebesaran-Nya dalam alam semesta. Matahari terbit tepat waktu, hujan turun menyuburkan bumi—semua bisik: "Aku ada, kenalilah Aku." Manusia pun jadi lebih sabar, rendah hati, dan penyayang. Hubungan antarmanusia pun indah: suami-istri saling mengingatkan shalat, teman sekantor saling sapa dan senyum, tetangga tolong-menolong tanpa pamrih.
Mengapa Ilmu Ini Belum Banyak Dipelajari?
Ironisnya, di tengah maraknya ilmu teknologi dan bisnis, ilmu tauhid ini terpinggirkan. Sekolah ajarkan matematika tapi jarang aqidah mendalam; media soroti gosip bukan pengenalan Dzat Yang Haq. Akibatnya, banyak yang pintar otaknya tapi hampa batin, sukses materil tapi gelisah hidupnya. Padahal, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya." Di masjid, kampus, sekolah dan majelis, ilmu ini harus jadi prioritas. Guru-guru agama wajib sederhanakan: kenali Allah lewat fitrah (akal), syar' (Al-Quran), dan hakiki (hati bersih). Komunitas online pun bisa: grup WhatsApp tadabbur ayat, bukan sekadar chit-chat, tapi saling ajak kenal Allah lebih dalam.
Langkah Praktis: Mulai Hari Ini
Mengenal Allah tidaklah rumit; mulai kecil tapi istiqamah: Tadabbur Pagi: 10 menit renungkan sifat-Nya, seperti Al-Khaliq dalam ciptaan burung bernyanyi; Zikir Harian: "La ilaha illallah" 100 kali, rasakan maknanya; Amal Nyata: Gunakan harta untuk sedekah, waktu untuk shalat malam; Bergaul Saleh: Ikut kajian, jauhi lingkungan destruktif; Muhasabah Malam: Evaluasi: "Hari ini, apakah aku ingat Allah?"
Dengan langkah ini, rasa takut salah tumbuh, harta jadi berkah, dan hidup penuh cahaya. Tak ada lagi rasa sombong, yang ada hanya rasa syukur; tak ada lagi keserakahan, yang ada hanya kasih.
Pada akhirnya, mengenal Allah adalah ilmu paling penting dan mendesak yang belum banyak dipelajari. Ia menyucikan jiwa, menaklukkan nafsu, dan membawa kebahagiaan hakiki. Di negeri yang multikultural ini, mari gaungkan: kenali Allah, Tuhan Yang Maha Esa, maka hidup kita berubah. Harta untuk sesama, hati untuk ibadah, langkah untuk surga. Cahaya ini tak pernah padam; cukup satu niat tulus, dan pintu ma'rifat terbuka lebar. Semoga kita semua termasuk hamba yang mengenal-Nya, sehingga Indonesia jadi bangsa bertakwa, maju dalam ridha Ilahi.(*)
Posting Komentar untuk "Mengenal Allah: Ilmu Suci yang Menyucikan Jiwa, Cahaya Hidup yang Terlupakan"