Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang padat, saat lampu merah macet dan deru kendaraan tak kunjung reda, pernahkah kita menyapa orang di sekitar? Sekadar senyum atau ucapan singkat, tanpa harus kenal atau saling bercerita panjang.
Sesederhana itu, namun tentunya menyimpan keindahan yang luar biasa seandainya kita lakukan, hanya saja kita belum melakukannya. Ya, ini suasana dari dulu sampai detik ini. Begitulah manusia belum tersadarkan betapa pentingnya menjalani hidup bahagia di setiap titik. Ya, karena belum ada kesepakatan, tidak mungkin kita menyapa seseorang lantas orang itu belum tau apa yang harus dilakukakan saat di sapa. Mulai sekarang dengan artikel ini, mari sepakat saling nyapa kapan dan dimana saja, tanpa harus kenal, justeru bangun perkenalan jika belum kenal, demi Indonesia satu demi sila persatuan Indonesia.
Di pasar tradisional, saat antri di warung kopi, di angkutan umum, atau bahkan di jalanan, momen-momen kehidupan sehari-hari memberi ruang kecil yang selama ini kita tidak manfaatkan untk berbahagia, padahal jika kita saling menyapa, tentu sungguh bahagia rasanya. Namun ironisnya, di antara serbuan kesibukan dan kecepatan hidup modern, kebiasaan sederhana itu kita abaikan begiti saja. Saling diam, bersikap acuh, bahkan menolak menyapa karena alasan klasik “belum kenal lah” atau “malu lah,” dan segudang alasan lainnya.
Saling Menyapa: Tindakan Kecil dengan Makna Besar
Sapa bukan sekadar kata atau salam, tapi ungkapan penghargaan atas keberadaan orang lain di sekitar kita. Ia adalah bentuk kesadaran sosial sekaligus wujud kehangatan kemanusiaan yang mempersatukan. Dalam budaya Indonesia yang kaya akan nilai gotong royong dan kekeluargaan, saling menyapa seharusnya menjadi refleksi alami dan budaya yang seharusnya tertanam dari dulu.
Bayangkan jika saat macet kita menyapa pengendara di sebelah, atau ketika belanja di pasar, kita mengucapkan salam kepada penjual dan pembeli lain tanpa segan. Tindakan itu pasti akan membangun semangat kebersamaan, membuka ruang komunikasi, dan menurunkan ketegangan yang sering muncul dalam kehidupan kota yang penuh tekanan.
Setiap kali kita memberi perhatian kecil berupa sapaan, sebetulnya kita memperkuat jaringan sosial yang jadi fondasi kekuatan bangsa. Bukan hanya antar tetangga, tapi antar anak bangsa yang berasal dari berbagai suku, budaya, dan latar belakang. Kita tidak lagi, membedakan suku, asal-usul, status sosial, kita semua menyatu, Indonesia, tanpa ada lagi saling curiga dan saling mengucilkan. Bayangkan pemuda Bugis datang ke Surabaya disambut dengan hangat anak muda Jawa tanpa pertanyaan dari mana mau ke mana, semua menyatu seolah sudah kenal dari dulu. Atau, pemuda Batak datang ke Papua pemuda Papua sambut dengan salam Pegunungan Wijaya dengan penuh hangat dan gembira tanpa tanya-tanya siapa lu dari mana lu. Atau Anak Maluku datang ke Jakarta, pemuda Jakarta sambut dengan salam indah, dan saling sapa dengan logat masing-masing yang tak terperhatikan lagi, gue-gue, beta-beta, intinya merasa satu Indonesia. Tentu suasana indah ini menjadi dambaan kita semua, ayok segera mulai, sumpah pemuda 1928 sebenarnya sudah kasih kode, kita tinggal lanjutkan kode itu dalam bentuk implilikasi nyata.
Menghapus Jarak Sosial: Dari “Belum Kenal” ke “Sahabat Baru”
Alasan paling sering muncul saat kita enggan menyapa adalah perasaan tidak kenal atau malu. “Saya tidak tahu siapa dia, nanti salah ngomong nanti dia tidak respon,” atau “malu duluan kalau menyapa tapi dianggap aneh.” Padahal, perbedaan dan ketidaktahuan awal justru menjadi peluang untuk memperkaya pengalaman dan memperluas pertemanan. Mari kita mulai, yang membaca artikel ini, segera praktekkan. Insya Allah Indonesia segera bangkit dan hidup penuh indah dan damai, tidak ada lagi GAM, tidak ada lagi OPM, RMS atau Kahar Muzakkar. Insya Allah Indonesia semakin damai dan menjadi contoh bangsa lain.
Saling menyapa tanpa harus mengenal dulu adalah cara membuka pintu perkenalan dalam keragaman Indonesia. Dengan satu sapaan, kita mengirim pesan bahwa keberadaan orang lain itu penting dan diapresiasi. Kebiasaan ini jika diterapkan secara luas akan mengikis sekat-sekat sosial dan ketegangan yang muncul akibat prasangka atau stereotip yang selama ini ada di bangsa kita.
Kita bisa mulai dari yang sederhana: menyapa teman kantor, atau tatangga sawah, atau sesama nelayan di puntiran, menyapa pedagang asongan, sopir angkot, tetangga di jalan, dan orang asing di tempat umum. Dari sana, rasa saling percaya dan keterbukaan tumbuh secara alami, mempererat tali persaudaraan sekaligus menumbuhkan kebersamaan sebagai anak bangsa.
Nilai Sosial Baru Demi Peradaban Indonesia Maju
Indonesia adalah negara dengan keberagaman luar biasa. Keindahan kehidupan kita ada pada perpaduan suku, bahasa, budaya, dan tradisi yang beraneka warna. Keberagaman ini akan menjadi prasasti yang indah manakala dirajut dengan bingkai persatuan nyata, dari yang sederhana saling menyapa dimana dan kapan saja. Sikap ini merupakan sikap saling menghargai dan membuka hati di antara anak bangsa.
Nilai sosial modern baru perlu dirancang sehingga menguatkan peradaban bukan semata mengandalkan teknologi atau pembangunan fisik yang tidak mengenal peradaban. Sebalikya, itu semua kita rancang supaya mendukung peradaban yang kita bangun, “menyatu dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian”. Kita awali dengan perubahan cara kita berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Kita mulai menyapa siapa saja yang kita jumpai hari ini, kenal atau tidak kenal. Kita hilangkan kebiasaan saling acuh atau saling diam di antara sesama anak bangsa, kita ciptakan langkah awal menuju peradaban yang lebih maju dan terprogram.
Saling menyapa adalah wujud nyata dari sebuah masyarakat yang hidup dan peka, yang tidak membiarkan ruang publik menjadi tempat asing tanpa kehangatan. Ia memperkuat jaringan sosial yang membuat setiap individu merasa dihargai dan termotivasi berkontribusi untuk kemajuan bersama. Tak ada satupun yang terkucilkan, tak ada satupun yang merasa arogan mau hidup sendiri. Benar-benar semua saling menghargai dan saling memberi dukungan. Satu bangsa satu kekuatan. Indonesia!
Mengubah Kebiasaan Bersama: Tugas Kita Semua
Membangun budaya baru yang terbuka dan ramah bukan tugas pemerintah saja, atau lembaga sosial, tapi kewajiban kita semua sebagai warga negara. Mulailah dari diri sendiri, kemudian ajak keluarga, tetangga, dan komunitas untuk membiasakan saling menyapa dan terlibat dalam interaksi sosial sehat.
Di sekolah, tempat kerja, bahkan di ruang publik, kita mulai menjadi agen perubahan. Mendorong anak-anak dan generasi muda untuk tidak takut menyapa teman baru, untuk ramah terhadap siapa saja, akan menanamkan nilai sosial yang kuat sejak dini.
Kita tidak perlu berubah drastis secara sekaligus. Dengan langkah-langkah kecil dan konsisten—senyum, ucapan salam, sapaan ringan—kita ikut rajut jejaring sosial yang semakin kokoh. Kekuatan sesama anak bangsa akan terasa nyata saat kita mulai meleburkan sekat personal dan sosial.
Demi Indonesia Maju: Mulai dari Sapaan Terdekat
Persatuan dan kemajuan bangsa dimulai dari hal kecil yang sering luput dipikirkan, yaitu saling menyapa dengan tulus di setiap titik waktu dan tempat. Dengan begitu, kita menciptakan suasana sosial yang penuh kehangatan, rasa memiliki, dan semangat gotong royong.
Indonesia yang hebat bukan hanya soal gedung tinggi atau jalan raya mulus, tetapi tentang jiwa yang tumbuh dengan rasa saling menghargai dan percaya di antara sesama warga. Saat kita terbuka menyapa siapa saja tanpa sekat, kita menghidupkan spirit bhineka tunggal ika secara nyata.
Mulailah hari ini dan di mana pun kita berada: di kemacetan, di pasar, di kantor, atau di lingkungan sekitar. Sapa dan sambut kehadiran setiap orang dengan hangat. Bukan hanya “halo” yang kita ucapkan, tapi “kita ini satu bangsa” yang terekspresi dalam setiap kata dan sikap.
Indahnya kehidupan ada di titik-titik mana saja dan kapan saja—ketika kita saling menyapa dan membuka diri. Mari tinggalkan kebiasaan saling diam dan saling ragu. Untuk Indonesia lebih maju dan peradaban yang lebih berkembang, yuk saling nyapa! Kita ciptakan Hari Indonesia Menyapa, Sepuluh Desember Dua Ribu Dua Puluh Lima. (*)
Posting Komentar untuk "Indahnya Kehidupan di Setiap Titik: Mari Mulai Saling Menyapa, Mempererat Persaudaraan Indonesia, Membangun Peradaban yang Lebih Maju"