DI ANTARA USIA DAN PENGABDIAN

58 Tahun Abustan A. Bintang: Tentang Waktu, Keteguhan, dan Jejak Kebaikan


       Catatan Lepas: Syamsu Marlin

Ada usia yang sekadar bertambah angka. Ada pula usia yang menyimpan begitu banyak cerita. Tentang perjalanan, perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian yang mungkin tidak seluruhnya terlihat oleh mata, tetapi perlahan meninggalkan jejak dalam kehidupan banyak orang.

Empat November 2026 menjadi hari istimewa bagi seorang Abustan A. Bintang. Tepat pada hari ini, usianya genap 58 tahun. Lima puluh delapan tahun bukan waktu yang sebentar. Ada banyak musim kehidupan yang telah dilewati. Ada masa ketika langkah terasa ringan, ada saat ketika jalan begitu terjal.

 Ada tawa yang menjadi kenangan, ada lelah yang tak selalu sempat diceritakan, dan ada tanggung jawab yang menuntut seseorang tetap berdiri, bahkan ketika keadaan tidak selalu berpihak.

Di balik nama dan perjalanan pengabdiannya, ada seorang manusia yang terus berproses bersama waktu. Pengalaman demi pengalaman telah mengajarkan bahwa kehidupan bukan semata-mata tentang pencapaian, melainkan juga tentang bagaimana seseorang menjalani setiap amanah dengan ketulusan.

Sebab semakin jauh perjalanan seseorang, semakin banyak pula hal yang dipahami. Bahwa jabatan pada akhirnya hanyalah persinggahan. Kehormatan bukan sesuatu yang harus terus dipertontonkan. Dan pengabdian sejati tidak selalu membutuhkan panggung untuk mendapatkan makna. 

Ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar posisi dan kekuasaan: jejak kebaikan yang ditinggalkan. Keteguhan yang Menjadi Pegangan.  Dalam perjalanan kehidupan dan pengabdiannya, ada empat nilai yang selalu menarik untuk direnungkan.

*Getteng* dalam prinsip, *Lempu* dalam kejujuran, *Ada Tongeng* dalam perkataan, dan *Warani* dalam menghadapi tantangan.

Empat nilai yang bukan sekadar rangkaian kata dalam kearifan Bugis. Di dalamnya terkandung filosofi kehidupan tentang keteguhan, kejujuran, kebenaran, dan keberanian. Menjadi manusia yang teguh bukan berarti tidak pernah menghadapi keraguan. Menjadi pribadi yang jujur bukan berarti selalu berada dalam keadaan mudah. Dan menjadi berani bukan berarti tidak pernah mengenal rasa takut.
Justru di tengah berbagai keadaan itulah karakter seseorang diuji.

Seorang pemimpin tidak hanya dikenang dari jabatan yang pernah disandangnya, tetapi juga dari sikapnya ketika menghadapi persoalan, kebijaksanaannya ketika mengambil keputusan, serta kemampuannya menjaga kepercayaan.

Pada akhirnya, yang akan tinggal bukanlah berapa lama seseorang pernah berada di sebuah jabatan, melainkan seberapa besar manfaat yang pernah diberikan selama menjalankan amanah tersebut.

Kini, 58 tahun telah menjadi bagian dari perjalanan hidup Abustan A. Bintang. Waktu mungkin perlahan mengubah banyak hal. Rambut bisa memutih, langkah mungkin tak lagi secepat dahulu, tetapi kematangan berpikir dan keluasan pengalaman semestinya menjadi kekuatan baru untuk menapaki hari-hari berikutnya.

Sebab usia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Masih ada harapan yang menanti untuk diwujudkan. Masih ada cita-cita yang perlu diperjuangkan. Masih ada masyarakat yang membutuhkan perhatian, dan masih ada lembaran pengabdian yang belum selesai dituliskan.

Setiap fase kehidupan memiliki panggilannya sendiri. Jika masa muda adalah tentang membangun kekuatan, maka usia matang adalah tentang memaknai pengalaman, menebarkan kebijaksanaan, dan meninggalkan warisan kebaikan.

Barangkali itulah salah satu makna paling dalam dari perjalanan panjang seorang manusia: bukan sekadar berhasil melewati waktu, tetapi mampu memberi arti bagi waktu yang telah dilaluinya.

Selamat ulang tahun ke-58, Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si. Di hari yang istimewa ini, semoga Allah SWT senantiasa menjaga setiap langkah, melimpahkan kesehatan, memanjangkan usia dalam keberkahan, melapangkan hati dalam menghadapi setiap ujian, serta menghadirkan kebahagiaan bersama keluarga dan orang-orang tercinta.

Semoga setiap pengalaman menjadi kebijaksanaan, setiap amanah menjadi ladang ibadah, dan setiap pengabdian menjadi amal kebaikan yang terus mengalir.

Teruslah melangkah. 
Sebab kehidupan tidak berhenti hanya karena usia bertambah. 
Selama masih ada kesempatan untuk berbuat baik, selama masih ada tenaga untuk mengabdi, selalu ada alasan untuk menghadirkan manfaat.

Dan jika kelak waktu membawa seseorang meninggalkan jabatan, panggung, dan segala kemegahan dunia, semoga masih ada kebaikan yang tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakannya.

Sebab manusia boleh dilupakan oleh waktu, tetapi kebaikan yang ditinggalkannya akan selalu menemukan jalan untuk dikenang.
Usia bertambah, waktu terus berlari. Namun pengabdian tak mengenal kata berhenti.
Salamakki Tapada Salama. 

Barru, 4 November 2026

Posting Komentar untuk "DI ANTARA USIA DAN PENGABDIAN "