Catatan : Syamsu Marlin*)
Gedung Islamic Center Barru menjadi saksi sebuah momen yang berbeda pada prosesi Wisuda Sarjana XXIX Institut Teknologi Bisnis dan Administerasi (ITBA) Al-Gazali, Sabtu (31/10/2026).
Di tengah kebahagiaan para wisudawan yang merayakan keberhasilan akademik, sebuah puisi tentang ibu justru membawa hadirin menyelami ruang paling dalam dari kehidupan manusia: cinta dan pengorbanan seorang ibu.
Bukan orasi tentang kesuksesan. Bukan pula pidato tentang masa depan. Kali ini, Rektor ITBA Al-Gazali, Prof. Kamaruddin Hasan, S. Ag. M. Pd, menghadirkan sesuatu yang jauh lebih menyentuh. Ia membawakan puisi berjudul “Ibu, Rumah yang Tak Pernah Padam”.
Dengan pilihan kata yang sarat makna, ia mengajak para wisudawan dan seluruh hadirin kembali mengingat sosok yang mungkin paling berjasa dalam perjalanan hidup mereka, tetapi sering kali paling sedikit disebut ketika keberhasilan dirayakan.
Puisi itu dibuka dengan kalimat yang langsung menyentuh relung perasaan:
“Engkau adalah rumah yang tetap menyala, meski seluruh dunia memadamkan lampunya.”
Sebuah metafora tentang ibu sebagai tempat pulang yang tidak pernah menutup pintu. Sosok yang tetap memberi cahaya ketika dunia terasa gelap, tetap mendoakan ketika anak-anaknya jauh, dan tetap mencintai bahkan ketika dirinya sendiri terlupakan.
Prof. Kamaruddin kemudian membawa hadirin menelusuri pengorbanan seorang ibu sejak anak masih berada dalam rahim.
“Di rahimmu, aku pernah menjadi rahasia kecil yang kau jaga dengan darah. Di dadamu, aku belajar bahwa cinta tak membutuhkan alasan untuk bertahan.”
Bait demi bait mengalir, menggambarkan malam-malam panjang seorang ibu yang kehilangan lelap demi kecemasan, menyulam harapan dari kesabaran, serta menyembunyikan kelelahan di balik senyuman agar anaknya tidak ikut menanggung kesedihan.
Ada pesan yang terasa begitu kuat di tengah suasana wisuda itu: bahwa di balik setiap toga, ada tangan-tangan yang pernah mengusap air mata; di balik setiap gelar, ada doa yang tidak pernah putus; dan di balik setiap keberhasilan seorang anak, ada pengorbanan orang tua yang tidak pernah tercatat dalam transkrip akademik.
Lalu, Prof. Kamaruddin menyampaikan bait yang menjadi inti dari pesan puisinya:
“Tak ada yang lebih tinggi daripada menjadi anak yang berbakti. Tak ada kehormatan yang lebih mulia daripada membuat ibu tersenyum bahagia. Dan tak ada utang yang lebih panjang daripada kasih sayang seorang ibu.”
Kalimat itu seolah menjadi tamparan lembut bagi setiap anak yang terkadang terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa bahwa ada orang tua yang menunggu kabar, merindukan kepulangan, dan diam-diam terus menyebut nama anaknya dalam doa.
Puncak emosional puisi hadir ketika Prof. Kamaruddin berbicara tentang kematian dan cinta seorang ibu yang tidak pernah benar-benar berakhir.
“Ibu, kematian mungkin dapat mengambil tubuhmu dari pandanganku, tetapi tak akan pernah bisa mengambilmu dari hidupku.” tuturnya dengan suara bergetar.
Kemudian disusul kalimat yang begitu dalam:
“Sebab sebelum aku mengenal dunia, aku telah mengenal kasihmu. Dan setelah dunia melupakanku, aku percaya cintamu tetap menyebut namaku di hadapan Tuhan.”
Sebuah ungkapan yang melampaui sekadar keindahan sastra. Ada kerinduan, penghormatan, kehilangan, sekaligus keyakinan bahwa kasih seorang ibu tidak pernah selesai meski kehidupan telah memisahkan raga.
Di momen wisuda itu, puisi Prof. Kamaruddin seolah menggeser sejenak makna keberhasilan. Bahwa menjadi sarjana bukan hanya tentang memperoleh gelar, mendapatkan pekerjaan, atau meraih kedudukan.
Ada tanggung jawab yang lebih mendasar: membahagiakan orang tua, menjaga kehormatan keluarga, dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.
Sebab, mungkin ada orang tua yang hari ini duduk bangga menyaksikan anaknya mengenakan toga. Namun, mungkin pula ada kursi yang kosong, karena seorang ibu telah lebih dahulu dipanggil Tuhan sebelum sempat menyaksikan putra-putrinya diwisuda.
Bagi mereka, puisi itu mungkin bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah kenangan yang kembali hidup, rindu yang diam-diam mengalir, dan doa yang tak lagi bisa disampaikan melalui pelukan.
Sabtu itu, di tengah perayaan akademik ITBA Al-Gazali, Prof. Kamaruddin menghadirkan satu pengingat yang sederhana, tetapi begitu dalam:
"Gelar boleh menjadi kebanggaan, ilmu boleh mengantarkan kita ke puncak kehidupan, tetapi jangan pernah lupa kepada ibu, rumah pertama yang cintanya tak pernah padam"
Dan ketika suatu hari seluruh dunia berhenti menyebut nama kita, semoga masih ada cinta seorang ibu yang tetap menyebutnya di hadapan Tuhan.
*)Penulis adalah Alumni STIA (ITBA) Al Gazali Barru
Posting Komentar untuk "Ibu, Rumah yang Tak Pernah Padam: Pesan Menyentuh Prof. Kamaruddin di Hari Wisuda "