Oleh : Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Di ufuk Syawal yang cerah bagai permadani emas terbentang luas tertata, angin hangat membawa aroma ketupat dan pelukan saudara. Bulan ini bukan sekadar jeda pasca Ramadhan puasa, melainkan kanvas suci di mana benang-benang persatuan bangsa Indonesia dirajut rapat kuat bagaikan baja raksasa. Bayangkan lautan manusia berjubah putih di lapangan shalat Id, dari Sabang di Aceh hingga Merauke di Papua, saling jabat tangan di bawah langit biru yang sama.
Syawal menjadi simfoni nasional, di mana tawa riang anak-anak desa bercampur dengan cerita para tetua kota, menyatukan mozaik keragaman dalam harmoni indahnya bhinneka tunggal ika. Ia mengingatkan kita bahwa persatuan bukan slogan semata, tapi denyut nadi kehidupan berbangsa yang harus dirawat dengan ikhlas di setiap hembusan nafas dengan lapang dada dan derai kasih sayang air mata.
Asal-usul bangsa kita bersemayam dalam legenda purba Nusantara, di mana nenek moyang ras Austronesia pertama kali mengukir jejak di pulau-pulau hijau yang subur dan luas. Dari Taiwan selatan ada juga yang mengatakan dari Yunan, mereka berlayar dengan perahu pinisi legendaris, menyebar ke Sumatra yang luas, Jawa yang berbatas, hingga Papua yang penuh migas dengan darah dan mimpi yang sama persis. Proto-Melayu di gelombang pertama dan Deutro-Melayu di gelombang kedua menjadi cikal bakal suku-suku modern Indonesia. DNA leluhur kita bercerita tentang nelayan Bugis yang gagah berani mendunia, petani Jawa yang sabar ulet dan tangguh tak terkira, dan pejuang Dayak yang teguh berjiwa kesatria. Tak ada perpecahan dalam akar itu; kita semua anak kandung samudra Pasifik yang ganas tapi berparas, yang mengajarkan bertahan bersama di tengah badai karang bercadas dan beringas.
Syawal menggugah ingatan ini lewat silaturahmi yang mengalir deras, di mana sepupu dari Aceh berbagi rendang dengan saudara dari Papua lintas batas, mengenang bahwa darah kita mengalir dari mata air yang sama tak bisa lepas, sungai-sungai purba yang menyatu di lautan kebhinekaan yang sangat luas dengan pantai lepas.
Nenek moyang kita bukan hanya berbagi garis keturunan, tapi juga nasib pahit yang menyatukan tangis dan garis tangan. Kolonialisme Eropa datang bagai badai hitam bikin deg-degan, merampas rempah kita tanpa perlawanan, mengikat pergelangan tangan dengan paksa untuk bekerja di perkebunan, dan menodai tanah air dengan darah para pahlawan.
Belanda merajai selama berabad-abad tak bisa dilawan, Jepang menyusul dengan kekejaman pendudukan singkat tapi sangat menyakitkan. Dari Tarakanita di Sulawesi hingga Sisingamangaraja di Sumatra seluruh daratan, dari Cut Nyak Dhien di Aceh daratan hingga Pattimura di Maluku Ambon, para leluhur kita bangkit bersama melawan rantai yang memborgol tangan. Nasib terjajah itu membentuk kita sepadan; setiap batu nisan veteran perang adalah batu bata Bhinneka Tunggal Ika yang kokoh membentuk masa depan.
Di bulan Syawal, saat kita saling memaafkan segala kesalahan, kenangan penjajahan itu bangkit sebagai pengingat dan renungan: musuh bersama kita telah pergi nian, kini saatnya kita saling merangkul satu sama lain, bukan saling menusuk dengan pisau bermata sis-sia di ujung permusuhan dan perkelahian.
Persatuan jauh lebih agung daripada pertengkaran yang tak berbuah apa-apa selain penyesalan, karena kebencian hanyalah racun yang menodai sumur kita sampai kedalaman. Bayangkan jika suku-suku di tanah air ini sibuk bertikai seharian: Jawa iri pada Bali yang penuh pantai idaman, Sumatra curiga pada pesona hasil tambang Kalimantan, Papua merasa terpinggirkan oleh Jawa yang tak tertahan. Tak ada untungnya beneran; hanya puing-puing perang saudara seperti Balkan atau Rwanda yang menjadi akhirnya tak karuan. Sebaliknya, persatuan adalah embun pagi di sawah-sawah yang menyuburkan, matahari siang yang memanaskan rel kereta trans bagi masa depan.
Syawal mengajarkan ini lewat “house-open” yang meriah menyegarkan, di mana tetangga beda agama pun turut berbagi kue tak ada perbedaan, membuktikan bahwa jembatan emas menuju kemakmuran bersama adalah toleran. Permusuhan mungkin sesaat memabukkan, tapi persatuan memberi umur panjang bagi bangsa sampai akhir zaman, seperti pohon beringin yang akarnya di tanah saling bertautan.
Lebih dari sekadar pelindung dari konflik, persatuan harus menjadi panggung gemilang pembangunan dan peradaban Indonesia yang megah dan semakin baik. Bayangkan Syawal sebagai raksasanya arsitek: saat keluarga berkumpul serentak, ide-ide segar lahir dari obrolan ringan tanpa bentak, rencana usaha keluarga dirintis dari cerita sukses sepupu di kota yang penuh sesak. Ini adalah momentum di mana gotong royong nasional bangkit sontak; dana desa mengalir untuk bangun jalan menuju pasar yang semakin cantik, pemuda-pemudi berbagi skill digital untuk UMKM di kampung saat mudik. Dari pelabuhan Tanjung Priok hingga tambang tembaga Papua yang penuh emas di balik, tangan bersatu membangun infrastruktur kelas dunia terbaik, menjadikan Indonesia poros maritim dunia yang gagah tak terusik. Peradaban lahir dari sini: universitas di Yogya berbagi ilmu dengan Manado berkaitan politeknik, seniman Bali berkolaborasi dengan musisi Minang tanpa intrik, menciptakan budaya hibrida yang memukau dan dunia pun tak berkutik.
Cerita ini mengalir seperti air sungai Citarum yang kini jernih kembali, membersihkan luka lama dan menyuburkan masa depan insani. Di bulan Syawal, kita bukan hanya memaafkan karena idul fitri, tapi merajut mimpi bersama yang abadi: kereta cepat Jakarta-Bandung melaju kencang cepat sampai, sebagai simbol persatuan nasional berantai, hutan mangrove Aceh tetap lestari berkat tangan petani Kalimantan yang sejati.
Nenek moyang kita yang sama pernah berbisik di gua-gua prasejarah sepenuh hati, "Bersatu atau binasa disini," dan nasib terjajah mengukirnya dengan darah mengalir membasahi. Kini, di era pasca-Lebaran, saat kota-kota masih macet mudik dan desa penuh cerita halal bihalal penuh empati, mari jadikan Syawal sebagai festival persatuan abadi. Tak ada untung memusuhi saudara sendiri; untung sejati ada di tangan yang saling menggenggam erat bagai rantai, membangun kota dengan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, bendungan raksasa di Papua sejahterhkan para petani, sekolah modern di NTT bernuansa persatuan hakiki berdiri untuk majukan ibu pertiwi.
Pada akhirnya, bulan Syawa ini adalah lukisan indah Tuhan untuk bangsa kita, di mana warna-warni suku menyatu dalam kanvas Pancasila. Dari pelukan ketua RT di gang sempit hingga pidato pemimpin di Istana, pesan sama bergema: persatuan adalah nafas peradaban bangsa. Asal-usul sama, nenek moyang sama, nasib sama : semua menuntun kita ke pelabuhan makmur merata. Mari rajut benang Syawal ini menjadi kain batik nasional yang megah penuh rona, tahan uji badai global mayapada. Indonesia bersatu bukan mimpi, tapi kenyataan yang kita rajut setiap Syawal tiba, menuju peradaban gemilang yang abadi selamanya.
Posting Komentar untuk "Benang Syawal Merajut Persatuan Bangsa"