Oleh: Dr. Sudarto, M.Pd (Pakar Pendidikan; Dosen PGSD FIP UNM Makassar)
Bayangkan rapor anak Anda bukan lagi kertas dingin penuh angka merah 50 atau 60 yang bikin hati orang tua ciut tak semangat. Alih-alih, rapor itu jadi cerita inspiratif: "Siswa Y berhasil hafal 50 kata bahasa Inggris minggu ini (tercapai!), tapi masih perlu latihan berhitung cepat (belum tercapai)." Sisi positif Si Y rayakan besar-besaran keberhasilan bahasa Inggeris, sementara kekurangannya diceritakan sebagai peluang pertumbuhan. Bukan lagi label "gagal" atau "sukses", tapi peta perjalanan belajar siswa diceritakan secara manusiawi. Inilah wajah rapor baru yang kita usulkan: Format Pencapaian, bukan nilai numerik. Saatnya ubah paradigma rapor dari hakim penentu nasib jadi sahabat pembimbing masa depan anak Indonesia.
Revolusi rapor ini bukan sekadar ganti format; ia ubah cara kita lihat anak. Rapor lama seperti pengadilan: angka 70 jeblok, langsung vonis "bodoh". Orang tua panik, anak stres, guru buru-buru kasih PR tambahan. Akibatnya? Anak trauma belajar, orang tua ribut di sekolah, dan motivasi anak ambruk.
Data Kemendikbud 2025 tunjukkan 65% siswa SD-SMP alami kecemasan rapor karena tekanan angka. Psikolog anak Harvard, Carol Dweck, bilang ini "fixed mindset" – anak percaya kemampuan bawaan, bukan usaha yang bisa diasah. Format Pencapaian balikkan itu: fokus hal tercapai (kemenangan kecil dirayakan) dan yang belum tercapai (tantangan jadi target seru). Rapor jadi laporan dua sisi: positif anak (keunggulan unik) dan negatif (area perbaikan), dengan resep konkret "perbaiki yang kurang, tingkatkan yang bagus". Anak pun semangat terus!
Mengapa Rapor “Nilai” Harus Pensiun?
Rapor nilai lahir di era industri 1900-an, saat sekolah ciptakan buruh pabrik patuh aturan. Angka jadi ukur efisiensi: hafal rumus dianggap pintar. Tapi zaman now? Dunia kerja butuh kreator, pemecah masalah, bukan hafal rumus semata atau hafal istilah semata, tapi bisa gunakan rumus, bisa gunakan teori dalam pecahkan hidup. Laporan World Economic Forum 2025 bilang skill top: critical thinking, kolaborasi, adaptasi – tak terukur angka.
Rapor nilai ciptakan "gaming system": anak curang copy PR atau contek saat ujian demi angka 80 atau nila A, bukan paham konsep. Hasilbya? Lulusan pintar ujian, tapi gagal hidup nyata. Nilai Sikap di Rapor A, tetapi prilaku di masyarakat Arogan dan Amoral.
Ganti ke Format Pencapaian: rapor naratif ringkas, 1-2 paragraf per mata pelajaran. Contoh Matematika kelas 5:
Sudah Tercapai: "Bisa kerjakan operasi pecahan sederhana seperti 1/2 + 1/7 = 7/14 dengan bantuan gambar."
Belum Tercapai: "Belum lancar hitung mental tanpa alat bantu."
Sikap Positif: "Sopan, disiplin, penuh rasa ingin tahu, suka tanya 'kenapa begini?' saat belajar."
Skap Negatif: "Sering memotong pembicaraan, kurang percaya diri saat presentasi dalam belajar kelompok."
Rencana: "Perbanyak latihan mental 10 menit/hari, presentasi mingguan tingkatkan kepercayaan diri, dorong jadi pendengar yang baik."
Lihat? Anak merasa dilihat seutuhnya: bukan robot nilai, tapi manusia berpotensi yang tergali. Guru tulis 5-7 kalimat per rapor, pakai template digital – efisien, tak nambahi beban. Beri “pujian”, beri :semangat!” Belajar anak semakin nyala!
Dampak Besar: Penilaian Kinerja Guru, Dosen, Pegawai Lain Ikut Berubah
Revolusi rapor tak berhenti di siswa. Ia gelombang domino ke penilaian kinerja semua. Guru dinilai bukan lagi "80% siswanya lulus ujian", tapi "Berapa pencapaian siswa tercapai? Berapa kekurangan yang diperbaiki?" Rapor guru:
Kinerja Tercapai: "95% siswa capai target baca lancar, lima proyek kolaborasi sukses."
Belum Tercapai: "Kurang variasi metode pengajaran untuk siswa kinestetik dan Audio."
Sikap Positif: "Kreatif desain lesson plan interaktif, suara saat mengajar jelas."
Sikap Negatif: "Belum maksimal follow-up absen siswa, sering marahi siswa."
Rencana: "Pelatihan metode kinestetik dan audio bulan depan, monitoring absen harian lebih komprehensif, berlatih ramah anak."
Dosen kuliah? Bukan IPK mahasiswa, tapi "Berapa skill riset mahasiswa berkembang? Berapa paper terbit dari bimbingan?" Bagaimana sikap mahasiswa di kampus dan masyarakat selama kuliah?” “Bagaimana tingkat kesenangan dosen mengajar?”Pegawai kantor: evaluasi tahunan ganti angka KPI jadi "Proyek Z selesai 120% target (Tercapai), tapi komunikasi tim perlu ditingkatkan." (perlua perbaikan dalam hal komunikasi tim). Bos bilang, "Bagus kamu handle klien dengan baik (positif), tapi deadline laporan minggu lalu telat (negatif) – yuk latihan tools manajemen waktu."
Ini nuansa pelaporan kebaikan dan keburukan ala psikologi positif Martin Seligman: rayakan strength, perbaiki weakness. Hasilnya? Produktivitas naik 25% menurut studi Gallup, turnover karyawan turun 30%. Di sekolah, orang tua tak lagi demo "guru kasar nilai!", tapi adakan diskusi "Bagaimana bantu anak capai target rapor selanjutnya?"
Narasi Nyata: Kisah Si X "Nilai Merah"
Si X, SD kelas 4, rapor lama selalu 50-60 IPA. Ibunya nangis, "Anakku bodoh IPA!" Si X takut ke sekolah. Ganti format baru: rapornya cerita, "Si X hafal siklus air dan metamorfosis katak sempurna, eksperimen rangkaian seri berhasil, tanaman yang ditanam tumbuh 4 cm (tercapai!). Belum hafal nama planet (target bulan depan)." Positif: "Teliti saat lab." Negatif: "Grogi saat tanya jawab." Rencana: "Klub sains mingguan."
Ajaib! Si X semangat, nilai naik jadi 80 rata-rata semester depannya. Ibunya bilang, "Rapor ini obat, bukan racun." Cerita serupa di SMA Sebuah Kota: Si W, "rebel boy" nilai jeblok, rapor baru tunjuk "Kreatif desain poster kampanye (tercapai), disiplin tugas rumah (perbaiki)". Si W akhirnya kuliah di arsitektur sekarang.
Rencana Implementasi Praktis: Langkah Mudah Mulai Besok
Template Digital: App rapor gratis Kemendikbud, guru isi checklist "tercapai/belum", tambahkan 3-5 kalimat naratif yang berenergi positif. Pelatihan Guru: Workshop 2 hari, ajar "4C" (Concrete, Clear, Constructive, Concise). Orang Tua Involved: Rapat via Zoom atau Offline, bahas rapor bareng – feedback loop. Skala Nasional: Mulai SD-SMA 2026, dosen PTN ikut 2027, BUMN/swasta 2028.
Biaya? Sekitar Rp50 miliar secara nasional – murah dibandingkan rugi mental anak Rp1 triliun per tahun (data Kemenkes).
Tantangan dan Solusi Cerdas
"Guru mager nulis naratif!" Solusi: gunakan aplikasi yang ada untuk bantu draft (seperti ChatGPT ringan), guru edit 1 menit. "Jika orang tua kangen angka!" Edukasi dengan seminar: "Angka itu bohong, pencapaianlah yang jujur." "Tak adil banding-banding anak!" Rapor punya "Grafik Progres" visual – anak lihat panah naik pencapaiannya. Semangat anak menyala terus!
Penutup: Era Pencapaian, Bukan Nilai Penuh Kebohongan.
Rapor baru ini bukan gimmick; ia transformasi budaya dan peradaban. Anak tak lagi takut gagal – gagal jadi "belum tercapai". Guru bangga kembangkan siswa holistik. Pegawai semangat tingkatkan skill. Negara panen generasi resilien, kreatif dan brilian. Bayangkan 2045: lulusan Indonesia pimpin dunia karena rapor masa kecil ajar "Rayakan yang baik, perbaiki yang kurang".
Kepada Menteri Pendidikan dan pembaca artikel ini: saatnya action! Pilot 1000 sekolah bulan depan. Anak kita pantas rapor yang bangun mimpi, bukan hancurkan hati mereka. Pencapaian bukan mimpi – ia realitas besok. Indonesia jadi superpower berbasis moral, lindungi dunia demi hidup aman sentosa.(*)
Posting Komentar untuk "Saatnya Terapkan Model Rapor Baru, Model Rapor Lama Waktunya Pensiun, Tunjukkan Pencapaian: Kelebihannya Apa, Kekurangannya Apa?"