Prof. Kamaruddin Hasan: Isra Mi’raj Mengajarkan Jalan ke Dalam sebelum Jalan ke Luar


Barru-B88News. Id- Dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Mukminin Madello Kecamatan Balusu, Selasa 20/1/2026, Prof. Dr. H. Kamaruddin Hasan, M.Pd., menyampaikan tausyiah mendalam tentang kekuatan kisah sebagai metode pendidikan serta pentingnya penyucian hati dalam menghadapi persoalan hidup.

Prof. Kamaruddin Hasan menjelaskan bahwa Al-Qur’an pada hakikatnya sarat dengan kisah. Bahkan, Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa sekitar 70–80 persen isi Al-Qur’an merupakan kisah, baik tentang para nabi, orang-orang saleh, maupun umat terdahulu. 

Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kisah adalah metode pendidikan paling efektif dalam membentuk karakter, kecerdasan, dan kepekaan emosional manusia.

Sejak dahulu manusia dididik dengan cerita. Orang tua kita dulu menidurkan anak-anaknya dengan menceritakan kisah para nabi dan orang-orang shaleh. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan metode pendidikan yang sangat kuat dan berpengaruh,” ujarnya.

Ia menegaskan, anak-anak yang terbiasa mendengar kisah dari orang tuanya cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang lebih baik serta emosi yang lebih stabil. Terutama pada usia emas (golden age) sekitar 4–6 tahun, cerita berperan besar dalam membentuk karakter, empati, dan kecerdasan emosional anak.

Lebih lanjut, Prof. Kamaruddin mengaitkan hikmah Isra Mi’raj dengan kondisi Rasulullah SAW sebelum peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa Isra Mi’raj didahului oleh masa kesedihan mendalam yang dialami Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya paman beliau Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah RA. Masa itu dikenal sebagai 'Aamul Huzn' atau tahun kesedihan.

Hikmahnya jelas bagi kita semua, bahwa kesedihan adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. Namun sering kali kita lebih sibuk mencari kesalahan orang lain daripada memperbaiki diri sendiri,” tegasnya.

Menurutnya, kesalahan yang sering dilakukan manusia saat menghadapi masalah adalah tergesa-gesa mencari jalan keluar, tanpa terlebih dahulu menempuh jalan ke dalam, yakni introspeksi dan pembersihan hati. 

Padahal katanya, Allah SWT akan memberikan jalan keluar setelah manusia membersihkan batinnya dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ia juga menyinggung peristiwa pembersihan hati Nabi Muhammad SAW sebelum Isra Mi’raj sebagai simbol pentingnya kesucian hati. Hal ini sejalan dengan kandungan Surah Al-Insyirah (Alam Nasyrah), yang menggambarkan bagaimana Allah melapangkan dada Rasulullah SAW sebelum menerima amanah besar.

Dihadapan jamaah Prof. Kamaruddin Hasan menegaskan, inti Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan luar biasa Rasulullah SAW, melainkan pelajaran mendalam tentang penyucian hati dan pendidikan jiwa. Ia menekankan bahwa sebelum Allah menyelesaikan persoalan hidup manusia, yang pertama kali dibenahi adalah hati.

Jika kita ingin Allah menyelesaikan persoalan hidup kita, maka hendaknya yang pertama dibersihkan adalah hati. Jangan hanya mengandalkan logika dan rasio, tetapi hadirkan keikhlasan, ketundukan, dan kedekatan kepada Allah SWT,” pungkasnya.

Menutup tausyiahnya, Rektor ITBA Al Gazali Barru ini mengajak jamaah menjadikan peringatan Isra Mi’raj bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat pendidikan keluarga melalui kisah-kisah yang mendidik, serta membiasakan introspeksi diri sebelum mencari jalan keluar atas berbagai persoalan kehidupan.(SM) 

Posting Komentar untuk "Prof. Kamaruddin Hasan: Isra Mi’raj Mengajarkan Jalan ke Dalam sebelum Jalan ke Luar"