Paradigma Baru di Tahun Baru 2026: IPK Tinggi Sudah Kadaluarsa, Saatnya Dunia Kerja Hargai Skill Nyata, Bukan Hanya Angka di Ijazah!

     Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP                   Universitas Negeri Makassar)

Di era digital yang kian kompetitif ini, gelar sarjana dengan IPK gemilang sering dijadikan tiket masuk ke dunia kerja. Namun, benarkah angka-angka sempurna di transkrip nilai masih menjadi penentu sukses? Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa IPK tinggi hanyalah ilusi kertas, sementara yang benar-benar dibutuhkan adalah kemampuan nyata: skill berbuat, adaptasi cepat, dan kontribusi langsung di lapangan. Sudah saatnya kita ubah mindset—tunjukkan kemampuan kerja, bukan sekadar rapor mengkilap dengan angka fantastis!
Bayangkan seorang fresh graduate bernama X mempunyai IPK 3,9, cum laude dari universitas ternama. Saat wawancara kerja di perusahaan, HRD bertanya: "Bagaimana pengalaman Anda mengelola proyek tim?" X terdiam. Selama kuliah, fokusnya hanya teori dan ujian. Tak ada proyek real, tak ada portofolio digital, tak ada pengalaman luar kampus. Di sisi lain, ada  Y, teman seangkatan X dengan IPK 3,2. Tapi Y punya cerita beda: ia punya segudang pengalaman dan kemampuan nyata yang sudah teruji. Siapa yang direkrut? Si Y, tentu saja. Kisah seperti ini bukan fiksi—ini realitas pasar kerja hari ini.
Mengapa IPK tinggi mulai kehilangan pesonanya? Pertama, IPK mengukur kemampuan hafalan dan ujian, bukan aplikasi nyata. Di dunia kerja, tak ada soal pilihan ganda untuk menyelesaikan krisis. Perusahaan seperti Google, Apple, bahkan Tesla sudah lama hilangkan syarat IPK minimum dalam rekrutmen. Mereka prioritaskan "proven skills" lewat coding test, case study, atau portofolio. Sebuah studi dari Harvard Business Review menemukan bahwa 85% pekerja sukses di bidang tech tak bergantung pada IPK, melainkan pengalaman praktis. Di Indonesia, survei Jobstreet 2023 menunjukkan 70% perekrut lebih nilai soft skill seperti kemampuan komunikasi dan problem-solving daripada nilai akademik.
Kedua, dunia kerja berubah cepat berkat revolusi Industri 4.0 dan AI. Kemampuan nyata seperti digital literacy, kreativitas, dan kolaborasi tim jauh lebih berharga. Bayangkan programmer dengan IPK 4,0 tapi tak paham apa itu “Agile”—ia akan kesulitan di tim dev modern. Sebaliknya, self-taught coder yang bangun startup kecil bisa loncat karir lebih cepat dan lebih sukses
Tak hanya di level entry, fenomena ini terasa di karir mid-level. Banyak profesional dengan IPK tinggi stuck di posisi junior karena kurang "doer mentality". Mereka pandai analisis teori, tapi ragu ambil risiko atau inisiatif. Seorang manajer HR di  Salah satu perusahaan terkenal Indonesia pernah bilang, "Kami cari orang yang bisa 'buat' sesuatu, bukan hanya 'tahu' sesuatu." Ini sejalan dengan tren global: World Economic Forum prediksi bahwa hingga 2027, 85 juta pekerjaan hilang karena otomatisasi, tapi akan muncul pula 97 juta pekerjaan baru untuk skill manusiawi seperti critical thinking dan emotional intelligence—bukan hafalan teori semata.
Lalu, bagaimana sistem pendidikan kita? Universitas masih terpaku pada IPK sebagai ukuran utama, padahal kurikulum jarang update dengan kebutuhan industri. Mahasiswa sibuk kejar nilai, lupa bangun portofolio. Akibatnya, lulusan banyak yang "unemployable" meski pintar di kelas. Solusinya? Reformasi pendidikan: integrasikan magang wajib, proyek kolaborasi dengan industri, dan sertifikasi skill.
 Bagi pencari kerja, pesan utamanya jelas: bangun kemampuan berbuat sekarang juga. Mulai dari hal kecil—ikuti bootcamp coding, kontribusi open source, atau freelance di Upwork. Buat LinkedIn profile yang ceritakan pencapaian nyata, bukan cuma IPK. Wawancara kerja bukan lagi pamer nilai, tapi demo skill: "Lihat portofolio saya, ini proyek yang hasilkan revenue Rp50 juta." Perusahaan juga harus adaptasi: gunakan assessment center untuk tes kemampuan real, bukan screening CV yang buta pada angka.
Tentu, IPK tetap punya nilai—ia bukti disiplin dan kemampuan belajar sebelumnya. Tapi di era ini, ia hanyalah starting point, bukan endpoint. Seperti kata Elon Musk, "Don't let schooling interfere with your education." Pendidikan sejati terjadi di luar kelas: melalui trial-error, kegagalan, dan iterasi. Di Indonesia, dengan pengangguran sarjana capai 10% (BPS 2024), sudah waktunya shift paradigma. 
Bayangkan masa depan di mana ijazah tak lagi jadi raja. Seorang anak muda dengan IPK biasa-biasa saja tapi punya skill AI, bisa ciptakan startup unicorn. Atau desainer grafis yang belajar otodidak, menang tender proyek nasional. Ini bukan mimpi—ini sedang terjadi di TikTok creators yang monetisasi konten, atau content marketer yang bangun brand pribadi. IPK tinggi mungkin buka pintu interview, tapi kemampuan nyata yang buka karir panjang.
Kesimpulannya, dunia kerja tak lagi butuh "angka tertera di rapor atau transkrip". Ia haus akan "pembuat perubahan"—orang yang berani berbuat, adaptif, dan hasil-oriented. Bagi mahasiswa, dosen, orangtua: dorong anak muda tunjukkan kemampuan kerja nyata sejak dini. Bagi perusahaan: reformasi rekrutmen untuk cari talenta sejati. Saatnya lepas belenggu IPK, sambut era skill revolution! Indonesia akan lebih kuat dengan generasi doer, bukan dreamer semata.(*) 

Posting Komentar untuk "Paradigma Baru di Tahun Baru 2026: IPK Tinggi Sudah Kadaluarsa, Saatnya Dunia Kerja Hargai Skill Nyata, Bukan Hanya Angka di Ijazah!"