Catatan, Syam M. Djafar
Lampu menyala tanpa suara. Namun di balik cahaya yang setia menemani malam, ada kerja panjang yang tak pernah benar-benar berhenti.Di Barru, selama 13 tahun terakhir, PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Barru menjaga terang itu dengan disiplin, kesabaran, dan pengabdian yang jarang tersorot kamera.
Tak banyak yang tahu, terang yang hari ini dinikmati, lahir dari perjalanan yang tak selalu mudah. PLTU Barru diresmikan pada 31 Oktober 2012. Namun jauh sebelum peresmian itu, cerita telah dimulai dengan penolakan. Rencana awal pembangunan sempat mendapat resistensi warga. Lokasi pertama akhirnya ditinggalkan, hingga Lampoko dipilih sebagai titik baru, sebuah keputusan yang menandai awal perjalanan panjang penuh dinamika.
Masa-masa awal operasional pun tidak berjalan mulus dan bukan tanpa gejolak. Demonstrasi warga sempat terjadi, hal ini dipicu oleh isu tenaga kerja dan kekhawatiran sosial.
Saat itu, pembangkit berdiri di tengah masyarakat pesisir yang sebagian besar menggantungkan hidup sebagai nelayan, dengan tingkat kesejahteraan yang terbatas dan arus perantauan yang tinggi.
Alhamdulillah, di balik pagar pembangkit, waktu berjalan dengan iramanya sendiri. Mesin berdengung stabil, layar kontrol tak pernah lepas dari pengawasan, dan pergantian sif berlangsung nyaris tanpa jeda.
Bagi para insan pembangkit PT PLN Indonesia Power UBP Barru, tentunya siang dan malam bukanlah soal terang atau gelap, melainkan soal tanggung jawab. Energi harus tetap tersedia, apa pun keadaannya.
Tiga belas tahun perjalanan ini adalah kisah tentang keandalan yang dirawat dari hari ke hari. Tentang standar keselamatan kerja yang dijaga ketat, keputusan teknis yang menuntut presisi, serta kesiapsiagaan menghadapi situasi yang tak selalu dapat diprediksi. Kesalahan sekecil apa pun bisa berdampak besar bagi kehidupan banyak orang di luar sana.
Namun waktu juga membawa perubahan. Perlahan tapi pasti, PT PLN Indonesia Power UBP Barru tak lagi sekadar instalasi industri. Ia tumbuh berdampingan dengan masyarakat dan menjadi bagian dari denyut sosial ekonomi wilayah sekitar.
Desa Lampoko yang dahulu dikenal sebagai desa miskin, kini telah bertransformasi. Warga yang sebelumnya menggantungkan hidup pada laut atau memilih merantau, mulai menemukan peluang dan penghidupan di kampung sendiri.
Yang (mungkin) patut diapresiasi, hari ini, 100 persen karyawan PT PLN Indonesia Power UBP Barru adalah tenaga kerja Indonesia, sekitar 60 persen karyawan merupakan putra-putri daerah Barru. Perubahan ini lahir dari proses panjang membangun kepercayaan, dialog, dan pemberdayaan yang berkelanjutan.
Kehadiran perusahaan juga tercermin melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, penguatan UMKM, hingga peningkatan kapasitas tenaga kerja, energi yang dihasilkan tak hanya menggerakkan mesin, tetapi juga menumbuhkan harapan dan kemandirian masyarakat.
Kini, dengan kapasitas terpasang 200 megawatt, PT PLN Indonesia Power UBP Barru menopang sekitar 10 persen kebutuhan listrik Sulawesi Bagian Selatan, yang mencakup sebagian wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, hingga Sulawesi Tenggara. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa kerja sunyi di Barru turut menjaga denyut kehidupan jutaan orang.
Memasuki usia ke-13, tantangan justru kian kompleks. Efisiensi, transisi menuju energi yang lebih bersih, serta keberlanjutan lingkungan menjadi arah yang tak terelakkan.
Menjawab tantangan tersebut, PT PLN Indonesia Power UBP Barru terus melakukan pembenahan, memperkuat kualitas sumber daya manusia, serta mendorong inovasi yang berpijak pada pengalaman dan pembelajaran panjang.
Bagi para insan pembangkit, pencapaian tidak diukur dari sorak atau tepuk tangan. Ia diukur dari lampu yang tetap menyala ketika malam tiba. Dari aktivitas masyarakat yang berjalan normal, tanpa pernah bertanya siapa yang bekerja di baliknya.
Di usia ke-13 ini, PT PLN Indonesia Power UBP Barru tak sedang merayakan kemegahan. Ia justeru meneguhkan komitmen. Sebab selama mesin terus berdengung dan cahaya setia menemani malam, di situlah pengabdian menemukan maknanya.
Lahir dari penolakan, tumbuh dalam dinamika, dan kini berdiri kokoh sebagai terang yang tak pernah padam.(*)
Posting Komentar untuk "Menjaga Terang dalam Sunyi: 13 Tahun PLN Indonesia Power UBP Barru"