Catatan lepas untuk Sahabat, Jhon Rantepadang
Karier Jhon Rantepadang berangkat dari sebuah keyakinan sunyi bahwa bekerja dengan jujur adalah cara paling sederhana mencintai hidup.
Sebagai Aparatur Sipil Negara, ia meniti hari-harinya perlahan, seperti seseorang yang tahu bahwa jalan panjang tak pernah ramah pada mereka yang tergesa. Namun hidup kerap menaruh batu di tengah langkah orang-orang yang setia.
Di saat langkahnya mulai menemukan irama, karier itu harus terhenti. Sebuah kebijakan menyeretnya pada persimpangan yang sunyi dan menyakitkan.
Dalam bahasa hukum, ia dinyatakan bersalah. Sebuah putusan yang bukan hanya menghentikan jabatan, tetapi juga meruntuhkan harapan yang dibangun diam-diam selama bertahun-tahun.
Jhon tak lantas tidak membantah takdirnya. Ia memilih diam dan menerima, bukan karena kalah, melainkan karena lelah menjelaskan. Ia menjalaninya sebagai konsekuensi jabatan, menanggungnya dengan sabar, meski tak semua luka bisa diterjemahkan dengan kata-kata.
Putusan itu bukan sekadar menanggalkan jabatan, melainkan memadamkan banyak harap yang selama ini dirawat diam-diam, dalam kerja yang tak pernah meminta sorotan.
Banyak orang patah di titik seperti itu. Banyak pula yang membiarkan luka tumbuh menjadi amarah. Namun tidak dengan mas Jhon.
Ketika seragam dilepaskan, pengabdian itu tak ikut pergi. Ia hanya berpindah tanah. Dia menjadi tenaga konsultan di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Non Governmental Organization (NGO). Di dunia NGO, ia menanam ulang dirinya, tanpa titel, tanpa perlindungan struktur, hanya berbekal kapasitas, kompetensi, dan keyakinan bahwa kerja yang jujur akan selalu menemukan maknanya sendiri.
Waktu, seperti hujan yang sabar, perlahan memulihkan tanah yang retak. Karena ketekunan dan kecakapannya, Jhon kembali dipercaya sebagai salah tenaga IT (Information Technology) pada Bidang Aplikasi Informatika (Aptika) di Diskominfo-SP Barrul Ia datang tanpa gegap, bekerja tanpa tuntutan. Seakan ingin berkata bahwa pengabdian sejati tak pernah membutuhkan pembuktian berisik.
Setelah beberapa tahun bergelut didunia jaringan telekomunikasi, hingga suatu hari, ia kembali memutuskan untuk memilih pergi. Bukan benci tanah Barru yang telah memberi banyak pelajaran.
Bukan karena kalah, bukan pula karena kecewa melainkan karena ada rindu yang terlalu lama dipendam. Ingin pulang kampung berkumpul dengan keluarga besarnya di Malang, Jawa Timur. Ada lelah yang tak pernah ia jadikan cerita. Ada perih yang cukup ia simpan sebagai doa. Dan ada rindu keluarga yang akhirnya harus didahulukan.
Perpisahan ini tentunya meninggalkan ruang yang ganjil. Sunyi, namun penuh kenangan. Sebab kita kerap terlambat menyadari arti seseorang, baru terasa ketika langkahnya menjauh dan hari-hari menjadi sedikit lebih sepi.
Selamat jalan, amuree, Mas Jhon. Kau tak kalah, kau hanya terlalu jujur di dunia yang tak selalu adil. Ada pengabdian yang gugur tanpa salah, dan ada kesetiaan yang tetap berdiri meski semua pintu seolah menutup.
Pergimu tak membawa riuh, tetapi meninggalkan sunyi yang lama sembuhnya. Di tanah Jawa, semoga hidup memelukmu lebih hangat. Dan jika suatu hari kisah ini dikenang, biarlah orang tahu bahwa pengabdian paling murni sering lahir dari luka yang diterima dengan diam. Salamakki tapada Salama.
Barru, 5 Januari 2026
Syam M. Djafar
Posting Komentar untuk "Di Lahan yang Berbeda, Pengabdian Itu Tetap Tumbuh"